Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Iran Luncurkan Rudal Sejjil ke AS-Israel, Batu Neraka Pemusnah Abrahah

Kompas.com, 17 Maret 2026, 21:36 WIB
Norma Desvia Rahman,
Farid Assifa

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali memasuki babak baru setelah Iran melalui Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) meluncurkan rudal balistik Sejjil dalam rangkaian Operasi True Promise 4 pada Minggu (15/3/2026).

Langkah ini disebut sebagai respons langsung atas serangan yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel.

Di tengah eskalasi tersebut, perhatian dunia tidak hanya tertuju pada dampak militernya, tetapi juga pada simbolisme di balik nama rudal yang digunakan: “Sejjil”.

Nama ini bukan sekadar penamaan teknis, melainkan memiliki akar kuat dalam tradisi Islam, tepatnya dalam kisah monumental yang diabadikan dalam Surah Al-Fil.

Baca juga: Israel Tutup Masjid Al-Aqsa hingga Idul Fitri, Apakah Berpotensi Permanen?

Operasi True Promise 4: Demonstrasi Kekuatan Rudal Iran

Dalam operasi tersebut, Iran mengerahkan berbagai jenis rudal balistik, termasuk Sejjil, Khorramshahr, Khaybar-shekan, Qadr, dan Emad.

Namun, Sejjil menjadi sorotan utama karena karakteristik teknologinya yang dinilai paling strategis.

Berdasarkan kajian Center for Strategic and International Studies, Sejjil merupakan rudal balistik jarak menengah (medium-range ballistic missile/MRBM) berbahan bakar padat (solid propellant).

Penggunaan bahan bakar padat menjadi pembeda utama dibandingkan rudal generasi sebelumnya seperti Shahab-3 yang menggunakan bahan bakar cair.

Secara teknis, bahan bakar padat memungkinkan rudal disimpan dalam kondisi siap luncur tanpa perlu pengisian ulang sebelum peluncuran.

Hal ini memberikan keunggulan taktis berupa kecepatan respons dan kemampuan menghindari deteksi dini.

Rudal Sejjil memiliki panjang sekitar 18 meter, diameter 1,25 meter, dan berat peluncuran mencapai 23.600 kilogram.

Dalam hal daya jangkau, rudal ini diperkirakan mampu mencapai target hingga 2.000–2.500 kilometer, mencakup wilayah strategis seperti Israel, sebagian kawasan Teluk, hingga pangkalan militer Amerika Serikat di Timur Tengah.

Kecepatannya pun menjadi faktor krusial. Saat memasuki atmosfer, Sejjil dapat melaju hingga Mach 12–14, sebelum menurun menjadi sekitar Mach 5 saat mendekati target.

Dalam konteks pertahanan modern, kecepatan ini membuatnya sangat sulit dicegat oleh sistem anti-rudal.

Sejarah Pengembangan: Dari Uji Coba hingga Operasi Militer

Program pengembangan Sejjil dimulai pada awal 2000-an sebagai bagian dari modernisasi sistem rudal Iran. Uji coba pertama dilakukan pada 2008 dengan jangkauan sekitar 800 kilometer.

Pengujian lanjutan pada 2009 menunjukkan peningkatan signifikan, termasuk penyempurnaan sistem navigasi dan pemandu.

Pada fase ini muncul varian Sejjil-2 yang memiliki jangkauan lebih jauh dan akurasi lebih tinggi.

Setelah sempat tidak terdengar selama lebih dari satu dekade, rudal ini kembali diperkenalkan dalam latihan militer besar Iran pada 2021.

Bahkan, beberapa laporan menyebutkan kemungkinan pengembangan Sejjil-3 dengan sistem multi-tahap dan jangkauan hingga 4.000 kilometer, meskipun belum terkonfirmasi secara resmi.

Dalam buku Missile Proliferation and Defense in the 21st Century karya Ron Huisken dijelaskan bahwa pengembangan rudal balistik di kawasan Timur Tengah tidak hanya didorong oleh kebutuhan militer, tetapi juga sebagai alat deterensi strategis dan simbol kekuatan nasional.

“Sejjil” dalam Al-Qur’an: Jejak Makna dari Surah Al-Fil

Di balik kecanggihan teknologi tersebut, nama “Sejjil” justru membawa pembaca pada narasi spiritual yang sangat kuat dalam Islam. Istilah ini diambil dari Surah Al-Fil ayat ke-4, yang berbunyi:

تَرْمِيهِمْ بِحِجَارَةٍ مِّن سِجِّيلٍ

Tarmīhim biḥijāratim min sijjīl

Artinya: “Yang melempari mereka dengan batu dari tanah liat yang dibakar.”

Ayat ini merupakan bagian dari kisah pasukan bergajah yang dipimpin oleh Abrahah, seorang penguasa Yaman yang berusaha menghancurkan Ka’bah di Makkah. Namun, upaya tersebut digagalkan oleh Allah SWT melalui perantara burung-burung ababil.

Dalam tafsir klasik oleh Ibnu Katsir, batu “sijjil” digambarkan sebagai batu kecil namun memiliki daya hancur luar biasa karena berasal dari tanah liat yang dibakar.

Baca juga: Kemarahan Digital Perang Iran, Keuntungan Platform, dan Panduan Perilaku Islami

Penjelasan Ulama: Sijjil sebagai Material yang Sangat Keras

Penafsiran mengenai makna “sijjil” tidak berhenti pada satu sudut pandang. Ibnu Hisyam menjelaskan bahwa menurut Yunus An-Nahwi dan Abu Ubaidah, istilah tersebut dalam tradisi Arab merujuk pada sesuatu yang sangat keras.

Lebih jauh, Ibnu Hisyam juga menyebut bahwa sebagian ulama tafsir berpendapat kata “sijjil” berasal dari bahasa Persia yang kemudian diserap ke dalam bahasa Arab.

Dalam pengertian ini, “sijjil” dipahami sebagai gabungan antara batu dan tanah liat yang mengeras akibat pembakaran.

Dengan demikian, batu-batu yang dijatuhkan oleh burung ababil bukan sekadar material biasa, melainkan memiliki karakteristik keras dan mematikan.

Dahsyatnya Dampak Batu Sijjil: Tafsir Ayat 5

Setelah menggambarkan proses serangan, Al-Qur’an menegaskan dampaknya dalam Surah Al-Fil ayat ke-5:

فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَّأْكُولٍ

Fa ja‘alahum ka‘aṣfim ma'kūl(in).

“Lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat).”

Para ulama tafsir memberikan penjelasan mendalam tentang frasa tersebut. Sa’id bin Jubair menyebut bahwa “al-‘asf” merujuk pada pakan ternak yang telah hancur dan tidak utuh. Dalam riwayat lain, ia diartikan sebagai daun gandum yang telah rusak.

Pandangan ini diperkuat oleh Al-Hasan Al-Basri yang menggambarkan kondisi tersebut sebagai dedaunan yang telah digerogoti hingga tidak menyisakan bentuk aslinya.

Sementara itu, Ibnu Abbas menafsirkan “al-‘asf” sebagai kulit ari biji gandum, lapisan tipis yang mudah hancur.

Ibnu Zaid menambahkan bahwa yang dimaksud adalah daun atau tanaman yang telah dimakan hewan hingga hanya tersisa batangnya.

Keseluruhan tafsir ini mengarah pada satu makna, yaitu kehancuran total. Pasukan Abrahah yang semula kuat dan terorganisasi menjadi luluh lantak tanpa sisa kekuatan.

Kehancuran Pasukan Abrahah: Narasi Sejarah

Dalam riwayat tafsir klasik, kehancuran pasukan Abrahah tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga menyisakan penderitaan mendalam.

Banyak dari mereka tewas di tempat, sementara yang selamat kembali dalam kondisi luka parah.

Abrahah sendiri diceritakan mengalami luka serius hingga tubuhnya hancur perlahan. Dalam beberapa riwayat, disebutkan bahwa dadanya terbelah dan organ dalamnya terlihat hingga akhirnya ia meninggal setelah tiba di San’a.

Kisah ini kemudian berlanjut dengan pergantian kepemimpinan di Yaman kepada anaknya, Yaksum dan kemudian kepada Masruq bin Abrahah.

Baca juga: Kota Tua Yerusalem Dijaga Ketat Aparat Israel, Warga Palestina Shalat Tarawih di Jalan

Simbolisme dari Sijjil ke Sejjil

Jika ditarik ke konteks modern, penggunaan nama “Sejjil” oleh Iran mengandung dimensi simbolik yang kuat.

Batu sijjil dalam kisah Al-Fil melambangkan kehancuran yang datang secara tiba-tiba, presisi, dan tak terhindarkan.

Dalam perspektif simbolik, rudal Sejjil memiliki kemiripan naratif, cepat, sulit dicegah, dan memiliki daya hancur tinggi.

Namun demikian, penting untuk menempatkan kedua konteks ini secara proporsional. Kisah dalam Al-Qur’an merupakan peristiwa ilahi yang sarat pesan moral dan spiritual, sedangkan rudal Sejjil adalah produk teknologi manusia dalam dinamika geopolitik modern.

Refleksi: Dari Wahyu ke Realitas Kontemporer

Penggunaan istilah religius dalam teknologi militer menunjukkan bagaimana teks suci tetap hidup dalam berbagai dimensi kehidupan, termasuk politik dan strategi.

Dalam buku The Study Quran karya Seyyed Hossein Nasr dijelaskan bahwa istilah dalam Al-Qur’an sering memiliki lapisan makna yang dapat diinterpretasikan ulang sesuai konteks zaman.

Sementara itu, dalam Islamic Cosmology oleh Oliver Leaman, simbol-simbol keagamaan disebut sebagai bagian dari narasi besar yang terus bertransformasi dalam budaya manusia.

Dari batu sijjil yang dijatuhkan burung ababil hingga rudal Sejjil yang meluncur dengan kecepatan hipersonik, terdapat benang merah yang menghubungkan keduanya, simbol kekuatan dan kehancuran.

Namun, di balik itu, tersimpan pelajaran penting. Kisah Al-Fil bukan sekadar narasi kehancuran, melainkan peringatan tentang batas kekuatan manusia di hadapan kekuasaan Tuhan.

Di era modern, ketika teknologi mampu menciptakan “daya hancur” yang luar biasa, refleksi terhadap makna tersebut menjadi semakin relevan, bahwa kekuatan sejati tidak hanya diukur dari kemampuan menghancurkan, tetapi juga dari kebijaksanaan dalam menggunakannya.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
Aktual
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar