KOMPAS.com – Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali memasuki babak baru setelah Iran melalui Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) meluncurkan rudal balistik Sejjil dalam rangkaian Operasi True Promise 4 pada Minggu (15/3/2026).
Langkah ini disebut sebagai respons langsung atas serangan yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel.
Di tengah eskalasi tersebut, perhatian dunia tidak hanya tertuju pada dampak militernya, tetapi juga pada simbolisme di balik nama rudal yang digunakan: “Sejjil”.
Nama ini bukan sekadar penamaan teknis, melainkan memiliki akar kuat dalam tradisi Islam, tepatnya dalam kisah monumental yang diabadikan dalam Surah Al-Fil.
Baca juga: Israel Tutup Masjid Al-Aqsa hingga Idul Fitri, Apakah Berpotensi Permanen?
Dalam operasi tersebut, Iran mengerahkan berbagai jenis rudal balistik, termasuk Sejjil, Khorramshahr, Khaybar-shekan, Qadr, dan Emad.
Namun, Sejjil menjadi sorotan utama karena karakteristik teknologinya yang dinilai paling strategis.
Berdasarkan kajian Center for Strategic and International Studies, Sejjil merupakan rudal balistik jarak menengah (medium-range ballistic missile/MRBM) berbahan bakar padat (solid propellant).
Penggunaan bahan bakar padat menjadi pembeda utama dibandingkan rudal generasi sebelumnya seperti Shahab-3 yang menggunakan bahan bakar cair.
Secara teknis, bahan bakar padat memungkinkan rudal disimpan dalam kondisi siap luncur tanpa perlu pengisian ulang sebelum peluncuran.
Hal ini memberikan keunggulan taktis berupa kecepatan respons dan kemampuan menghindari deteksi dini.
Rudal Sejjil memiliki panjang sekitar 18 meter, diameter 1,25 meter, dan berat peluncuran mencapai 23.600 kilogram.
Dalam hal daya jangkau, rudal ini diperkirakan mampu mencapai target hingga 2.000–2.500 kilometer, mencakup wilayah strategis seperti Israel, sebagian kawasan Teluk, hingga pangkalan militer Amerika Serikat di Timur Tengah.
Kecepatannya pun menjadi faktor krusial. Saat memasuki atmosfer, Sejjil dapat melaju hingga Mach 12–14, sebelum menurun menjadi sekitar Mach 5 saat mendekati target.
Dalam konteks pertahanan modern, kecepatan ini membuatnya sangat sulit dicegat oleh sistem anti-rudal.
Program pengembangan Sejjil dimulai pada awal 2000-an sebagai bagian dari modernisasi sistem rudal Iran. Uji coba pertama dilakukan pada 2008 dengan jangkauan sekitar 800 kilometer.
Pengujian lanjutan pada 2009 menunjukkan peningkatan signifikan, termasuk penyempurnaan sistem navigasi dan pemandu.
Pada fase ini muncul varian Sejjil-2 yang memiliki jangkauan lebih jauh dan akurasi lebih tinggi.
Setelah sempat tidak terdengar selama lebih dari satu dekade, rudal ini kembali diperkenalkan dalam latihan militer besar Iran pada 2021.
Bahkan, beberapa laporan menyebutkan kemungkinan pengembangan Sejjil-3 dengan sistem multi-tahap dan jangkauan hingga 4.000 kilometer, meskipun belum terkonfirmasi secara resmi.
Dalam buku Missile Proliferation and Defense in the 21st Century karya Ron Huisken dijelaskan bahwa pengembangan rudal balistik di kawasan Timur Tengah tidak hanya didorong oleh kebutuhan militer, tetapi juga sebagai alat deterensi strategis dan simbol kekuatan nasional.
Di balik kecanggihan teknologi tersebut, nama “Sejjil” justru membawa pembaca pada narasi spiritual yang sangat kuat dalam Islam. Istilah ini diambil dari Surah Al-Fil ayat ke-4, yang berbunyi:
تَرْمِيهِمْ بِحِجَارَةٍ مِّن سِجِّيلٍ
Tarmīhim biḥijāratim min sijjīl
Artinya: “Yang melempari mereka dengan batu dari tanah liat yang dibakar.”
Ayat ini merupakan bagian dari kisah pasukan bergajah yang dipimpin oleh Abrahah, seorang penguasa Yaman yang berusaha menghancurkan Ka’bah di Makkah. Namun, upaya tersebut digagalkan oleh Allah SWT melalui perantara burung-burung ababil.
Dalam tafsir klasik oleh Ibnu Katsir, batu “sijjil” digambarkan sebagai batu kecil namun memiliki daya hancur luar biasa karena berasal dari tanah liat yang dibakar.
Baca juga: Kemarahan Digital Perang Iran, Keuntungan Platform, dan Panduan Perilaku Islami
Penafsiran mengenai makna “sijjil” tidak berhenti pada satu sudut pandang. Ibnu Hisyam menjelaskan bahwa menurut Yunus An-Nahwi dan Abu Ubaidah, istilah tersebut dalam tradisi Arab merujuk pada sesuatu yang sangat keras.
Lebih jauh, Ibnu Hisyam juga menyebut bahwa sebagian ulama tafsir berpendapat kata “sijjil” berasal dari bahasa Persia yang kemudian diserap ke dalam bahasa Arab.
Dalam pengertian ini, “sijjil” dipahami sebagai gabungan antara batu dan tanah liat yang mengeras akibat pembakaran.
Dengan demikian, batu-batu yang dijatuhkan oleh burung ababil bukan sekadar material biasa, melainkan memiliki karakteristik keras dan mematikan.
Setelah menggambarkan proses serangan, Al-Qur’an menegaskan dampaknya dalam Surah Al-Fil ayat ke-5:
فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَّأْكُولٍ
Fa ja‘alahum ka‘aṣfim ma'kūl(in).
“Lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat).”
Para ulama tafsir memberikan penjelasan mendalam tentang frasa tersebut. Sa’id bin Jubair menyebut bahwa “al-‘asf” merujuk pada pakan ternak yang telah hancur dan tidak utuh. Dalam riwayat lain, ia diartikan sebagai daun gandum yang telah rusak.
Pandangan ini diperkuat oleh Al-Hasan Al-Basri yang menggambarkan kondisi tersebut sebagai dedaunan yang telah digerogoti hingga tidak menyisakan bentuk aslinya.
Sementara itu, Ibnu Abbas menafsirkan “al-‘asf” sebagai kulit ari biji gandum, lapisan tipis yang mudah hancur.
Ibnu Zaid menambahkan bahwa yang dimaksud adalah daun atau tanaman yang telah dimakan hewan hingga hanya tersisa batangnya.
Keseluruhan tafsir ini mengarah pada satu makna, yaitu kehancuran total. Pasukan Abrahah yang semula kuat dan terorganisasi menjadi luluh lantak tanpa sisa kekuatan.
Dalam riwayat tafsir klasik, kehancuran pasukan Abrahah tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga menyisakan penderitaan mendalam.
Banyak dari mereka tewas di tempat, sementara yang selamat kembali dalam kondisi luka parah.
Abrahah sendiri diceritakan mengalami luka serius hingga tubuhnya hancur perlahan. Dalam beberapa riwayat, disebutkan bahwa dadanya terbelah dan organ dalamnya terlihat hingga akhirnya ia meninggal setelah tiba di San’a.
Kisah ini kemudian berlanjut dengan pergantian kepemimpinan di Yaman kepada anaknya, Yaksum dan kemudian kepada Masruq bin Abrahah.
Baca juga: Kota Tua Yerusalem Dijaga Ketat Aparat Israel, Warga Palestina Shalat Tarawih di Jalan
Jika ditarik ke konteks modern, penggunaan nama “Sejjil” oleh Iran mengandung dimensi simbolik yang kuat.
Batu sijjil dalam kisah Al-Fil melambangkan kehancuran yang datang secara tiba-tiba, presisi, dan tak terhindarkan.
Dalam perspektif simbolik, rudal Sejjil memiliki kemiripan naratif, cepat, sulit dicegah, dan memiliki daya hancur tinggi.
Namun demikian, penting untuk menempatkan kedua konteks ini secara proporsional. Kisah dalam Al-Qur’an merupakan peristiwa ilahi yang sarat pesan moral dan spiritual, sedangkan rudal Sejjil adalah produk teknologi manusia dalam dinamika geopolitik modern.
Penggunaan istilah religius dalam teknologi militer menunjukkan bagaimana teks suci tetap hidup dalam berbagai dimensi kehidupan, termasuk politik dan strategi.
Dalam buku The Study Quran karya Seyyed Hossein Nasr dijelaskan bahwa istilah dalam Al-Qur’an sering memiliki lapisan makna yang dapat diinterpretasikan ulang sesuai konteks zaman.
Sementara itu, dalam Islamic Cosmology oleh Oliver Leaman, simbol-simbol keagamaan disebut sebagai bagian dari narasi besar yang terus bertransformasi dalam budaya manusia.
Dari batu sijjil yang dijatuhkan burung ababil hingga rudal Sejjil yang meluncur dengan kecepatan hipersonik, terdapat benang merah yang menghubungkan keduanya, simbol kekuatan dan kehancuran.
Namun, di balik itu, tersimpan pelajaran penting. Kisah Al-Fil bukan sekadar narasi kehancuran, melainkan peringatan tentang batas kekuatan manusia di hadapan kekuasaan Tuhan.
Di era modern, ketika teknologi mampu menciptakan “daya hancur” yang luar biasa, refleksi terhadap makna tersebut menjadi semakin relevan, bahwa kekuatan sejati tidak hanya diukur dari kemampuan menghancurkan, tetapi juga dari kebijaksanaan dalam menggunakannya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang