MANADO, KOMPAS.com – Tradisi Tumbilotohe kembali semarak di Kota Manado, Sulawesi Utara, sebagai bagian dari upaya melestarikan warisan budaya Gorontalo yang sarat nilai religius, khususnya dalam menyambut malam Lailatul Qadar di penghujung Ramadhan.
Tumbilotohe merupakan tradisi masyarakat Gorontalo yang dilaksanakan pada tiga malam terakhir bulan Ramadhan, ditandai dengan penyalaan lampu-lampu tradisional. Cahaya lampu tersebut melambangkan penerangan dalam menyambut turunnya malam penuh kemuliaan, Lailatul Qadar.
Secara historis, tradisi ini juga berfungsi sebagai penerang jalan bagi masyarakat menuju masjid di malam-malam akhir Ramadhan. Kini, nilai simboliknya semakin luas sebagai bentuk spiritualitas dan penguatan budaya.
Tradisi tersebut dihidupkan kembali melalui Festival Tumbilotohe yang digelar oleh Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Kerukunan Keluarga Indonesia Gorontalo (KKIG) Sulawesi Utara (Sulut).
Ketua DPD KKIG Sulut, Ulyas Taha mengatakan festival ini bertujuan menghidupkan kembali tradisi yang sarat nilai adab di tengah masyarakat.
Baca juga: Festival Majelis Taklim 2025 Resmi Ditutup, Ini Daftar Lengkap Para Juara dari Seluruh Indonesia
"Hari ini kita lakukan di Manado itu sebagai memberi semangat kepada masyarakat Manado yang berasal dari Gorontalo, sehingga dia akan bisa menghidupkan kembali tradisi-tradisi yang tradisi itu memiliki nilai-nilai adab yang cukup kuat," kata Ulyas Taha di Manado, Rabu (18/3/2026).
Menurut Ulyas, penguatan tradisi akan berdampak pada penguatan adab dan akhlak masyarakat.
“Ketika kita memperkuat tradisi, maka kita juga memperkuat adab. Kalau adab kita kuat, maka akan melahirkan orang-orang yang beradab. Orang yang beradab itu orang yang memiliki akhlak,” katanya.
Ia menilai, akhlak menjadi aspek yang mulai terabaikan di tengah pembangunan fisik yang pesat.
"Ini yang kadang-kadang kita bisa membangun sumber daya manusia atau kita bisa membangun gedung-gedung yang tinggi, tetapi kemudian sumber daya manusia kita lupa untuk kita bangun, kita perbaiki akhlak mereka," tuturnya.
Lebih lanjut, Ulyas menjelaskan bahwa Tumbilotohe menjadi salah satu cara membangun kesadaran generasi muda, khususnya warga Gorontalo di Manado, untuk kembali mengenal dan melestarikan tradisi leluhur.
"Ketika kita mendapatkan Lailatul Qadar itu, maka dengan Tumbilotohe ini kita berharap kita bisa menemukan malam Lailatul Qadar," ujar Kakanwil Kemenag Sulut itu.
Budayawan Reiner Emyot Ointoe menyebut festival ini sebagai terobosan penting, mengingat budaya Gorontalo di Manado selama ini kurang mendapat perhatian.
"Saya mengamati itu cukup lama," ucapnya.
Ia menjelaskan bahwa tradisi Tumbilotohe bermula pada abad ke-14 pada masa Raja Eyato, ketika masyarakat membutuhkan penerangan untuk menentukan hari raya.
"Tapi dia juga menafsirkan karena Gorontalo itu secara adat punya pedoman yaitu dalam bahasa Gorontalo ‘adati hula-hulaa to sara’a, sara’a hula-hulaa to Qur’ani’ artinya adat itu harus berdasarkan syariat Islam, dan syariat harus merujuk pada Al-Qur’an, jadi ada keterkaitan," tuturnya.
Menurutnya, Tumbilotohe berasal dari kata *tumbilo* (menyalakan) dan *tohe* (lampu), yang menjadi simbol kuat perpaduan antara budaya dan ajaran Islam di Gorontalo.
"Jadi budaya ini adalah terinspirasi oleh ajaran Islam. Jadi gorontalo itu kental dengan ajaran Islam, karena Islam masuk di Gorontalo abad 12. Nah sementara Raja pertama yang menyatakan keislaman itu adalah Raja Eyato," ucapnya.
Tradisi ini juga berkaitan erat dengan anjuran mencari malam Lailatul Qadar yang diyakini lebih baik dari seribu bulan. Meski dalam Islam malam tersebut dicari pada malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadhan, masyarakat Gorontalo mengadaptasinya menjadi tiga malam terakhir, sesuai filosofi lokal.
“Karena masyarakat dulu mengenal simbol tiga waktu, maka pelaksanaannya disesuaikan menjadi tiga hari,” jelasnya.
Ciri khas utama Tumbilotohe adalah pemasangan lampu tradisional berbahan minyak dan sumbu yang dipasang di rumah, halaman, hingga sepanjang jalan.
“Lampu itu simbol cahaya, simbol penerang. Ini adalah bentuk penyambutan terhadap cahaya dari langit, yang diyakini membawa kebaikan bagi kehidupan manusia,” katanya.
Selain itu, api juga dimaknai sebagai simbol penyucian diri.
“Api itu bukan hanya menerangi, tetapi juga membakar. Artinya, ia menjadi simbol pembakaran dosa-dosa manusia,” ujarnya.
Dengan makna tersebut, Tumbilotohe bukan sekadar tradisi visual, tetapi juga refleksi spiritual menjelang Hari Raya Idulfitri.
Gubernur Sulut Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus yang diwakili Kepala Dinas Perkebunan Sulut, Darwin Muksin, menilai Tumbilotohe kini telah menjadi bagian dari kekayaan budaya masyarakat Sulawesi Utara secara luas.
Baca juga: 9 Tradisi Unik Lebaran di Indonesia: Dari Grebeg hingga Tumbilotohe
"Saya berharap melalui pelaksanaan festival Tumbilotohe ini kita semua dapat semakin mempererat tali persaudaraan dan memperkuat nilai kebersamaan serta menjadikan budaya sebagai jembatan menyatukan masyarakat dalam keberagaman," tuturnya.
Festival Tumbilotohe di Manado tahun ini digelar di 60 titik yang tersebar di beberapa kecamatan, mencakup 37 lorong dan 5 rumah, dan akan berlangsung selama tiga hari ke depan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang