Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Cerita di Tengah Takbir, Warga Rayakan Lebaran dengan Cara Sederhana namun Bermakna

Kompas.com, 21 Maret 2026, 15:04 WIB
Suci Rahayu,
Khairina

Tim Redaksi

MALANG, KOMPAS.com - Semalaman langit Kota Malang, Jawa Timur, tidak benar-benar gelap. Cahaya obor berpendar di sejumlah gang, kembang api bergantian memecah langit dan gema takbir mengalun tanpa henti.

Padq malam menyambut Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah, Jumat (20/3/2026) malam, kota ini seperti bergerak bersama, pelan, hangat, dan penuh sukacita.

Di berbagai sudut kota, takbir keliling kembali digelar. Warga turun ke jalan membawa obor, spanduk bernuansa Lebaran, hingga iring-iringan sederhana yang dipenuhi tawa.

Ada yang menyalakan kembang api, ada pula yang menghadirkan dentuman sound horeg yang membuat suasana semakin hidup.

Tradisi yang Menyala dari Gang ke Gang

Namun di Kampung Jodipan, ada cerita yang terasa lebih dekat. Di mana tradisi pawai obor yang telah berlangsung turun-temurun kembali digelar, menjadi penanda bahwa Lebaran tidak hanya soal perayaan, tetapi juga tentang kebersamaan.

Warga berkumpul dan memulai kegiatannya di Jalan Jodipan Wetan Gang 1 sejak selepas salat Isya. Diikuti anak-anak, remaja, hingga orang tua berbaur tanpa sekat. Obor-obor dinyalakan, lalu perlahan rombongan bergerak menyusuri kampung sambil terus melantunkan takbir.

“Setiap tahun pasti ada, dan anak-anak selalu paling semangat. Ini sudah jadi tradisi yang kami jaga bersama,” kata Muhammad Farid.

Suasana malam takbiran yang menjadi tradisi warga Jodipan Kota Malang dalam menyambut Hari Raya Idul Fitri di kota Malang, Jumat (20/3/2026) malam.Dokumentasi Pribadi Suasana malam takbiran yang menjadi tradisi warga Jodipan Kota Malang dalam menyambut Hari Raya Idul Fitri di kota Malang, Jumat (20/3/2026) malam.

Saat rombongan melintas di depan Masjid Roisiyah, suasana mencapai puncaknya. Petasan dan kembang api dinyalakan, sorak warga terdengar, dan deretan penonton memadati sisi jalan.

Banyak yang sengaja menunggu di depan rumah hanya untuk menyaksikan momen itu lewat. Bagi warga, pawai ini bukan sekadar rutinitas tapi cara sederhana untuk merawat hubungan antar tetangga, menghidupkan kembali rasa memiliki terhadap kampung halaman.

“Tujuannya supaya warga semakin guyub rukun dan bisa membahagiakan orang-orang di kampung,” imbuhnya.

Kegiatan ini juga lahir dari gotong royong. Sekitar Rp 10 juta dihimpun dari iuran warga, termasuk mereka yang kini merantau namun tetap ingin berkontribusi.

Lebaran yang Dirasakan Bersama

Di tengah gemerlap malam takbiran wajah-wajah bahagia warga yang larut dalam tradisi yang terus hidup dari tahun ke tahun.

Salah satunya Edgar, yang mengaku tidak pernah absen menikmati tradisi tersebut. Karena dilangsungkan setia tahun sekali di depan rumahnya. Menurutnta pawai obor bukan hanya tontonan, tetapi juga momen yang menghidupkan suasana kampung.

Meski ia menyadari euforia yang muncul cukup besar, ia berharap tradisi ini tetap dijalankan dengan wajar.

“Selain di Jodipan, di tempat lain juga ada. Itu bagus, asalkan tidak berlebihan. Yang penting warga tetap guyub rukun menyambut Lebaran,” katanya.

Suasana takbiran untuk menyambut Hari Raya Idul Fitri di Kelurahan Purwantoro kota Malang, Jumat (20/3/2026) malam.KOMPAS.COM/SUCI RAHAYU Suasana takbiran untuk menyambut Hari Raya Idul Fitri di Kelurahan Purwantoro kota Malang, Jumat (20/3/2026) malam.

Sementara itu ditempat lain, Saviska (29) juga tampak menikmati suasana bersama keluarganya. Ia datang untuk merasakan kembali hangatnya tradisi yang jarang ditemui di hari biasa.

“Senang, karena setahun sekali dan ramai. Nonton bareng keluarga jadi seru. Apalagi buat perantau, ini yang ditunggu,” kata warga Kelurahan Purwantoro itu.

Meski sesekali suara kembang api mengejutkan, hal itu tidak mengurangi kegembiraannya. Bahkan, ia mengaku mengabadikan banyak momen sepanjang malam.

Sedangkan bagi Nana, pawai takbiran menjadi lebih dari sekadar perayaan. Ia melihatnya sebagai kesempatan untuk kembali terhubung dengan masa lalu.

“Bisa ketemu teman-teman kecil lagi. Sudah lama sibuk masing-masing, jadi ini seperti ajang kumpul,” ucap warga Blimbing.

Menurutnya, suasana pawai yang dipenuhi obor, flare, hingga kembang api menghadirkan sensasi layaknya perayaan besar di jalanan kampung.

“Rasanya seperti karnaval atau perayaan besar. Ramai, seru, dan bikin kangen suasana seperti ini,” kata mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Surabaya itu.

Meski lalu lintas sempat tersendat, ia menilai hal itu sebagai bagian kecil dari kemeriahan yang justru memperkuat suasana kebersamaan.

“Macet sedikit tidak masalah, kan sebentar saja. Tadi juga ada sound horeg, lumayan bikin dada bergetar tapi seru,” pungkasnya.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
Aktual
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar