Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dari Zaman Rasul hingga Nusantara: Sejarah Takbir Idul Fitri yang Menggema dan Sarat Makna

Kompas.com, 22 Maret 2026, 10:24 WIB
Farid Assifa

Editor

KOMPAS.com - Takbir yang menggema di malam Idul Fitri bukan sekadar lantunan yang indah didengar. Di balik kalimat “Allahu Akbar”, tersimpan sejarah panjang, makna spiritual mendalam, hingga perjalanan budaya yang terus hidup dari masa Rasulullah SAW hingga Indonesia hari ini.

Dalam Gema Takbir Akbar Nasional di Masjid Istiqlal, Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa takbir adalah tradisi yang berakar kuat sejak masa awal Islam dan terus berkembang sebagai syiar umat.

Akar Sejarah: Takbir Sejak Zaman Rasulullah

Tradisi takbir bermula dari praktik Rasulullah SAW saat menutup bulan Ramadhan.

“Rasulullah Saw. melepas bulan Ramadhan dengan takbir. Tradisi ini kemudian dilanjutkan oleh para sahabat dengan mengumandangkan takbir di ruang-ruang publik,” ujar Nasaruddin.

Baca juga: Gemerlap Takbiran di Danau Maninjau: Festival Rakik-rakik Hidupkan Tradisi di Tengah Duka

Dalam riwayat sejarah, sahabat seperti Abu Hurairah dan Abdullah bin Umar bahkan mengumandangkan takbir di pasar, bukan hanya di masjid. Dari sini, takbir menjadi syiar yang hidup di tengah masyarakat, bukan sekadar ritual di ruang ibadah.

Landasan Al-Qur’an dan Hadis

Takbir bukan hanya tradisi, tetapi juga memiliki dasar kuat dalam Al-Qur’an. Perintah tersebut termaktub dalam Surah Al-Baqarah ayat 185, yang menegaskan agar umat Islam mengagungkan Allah setelah menyempurnakan puasa Ramadhan.

Selain itu, dalam hadis riwayat Imam asy-Syafi’i, disebutkan bahwa sahabat seperti Ibnu Umar mengumandangkan takbir sejak berangkat menuju tempat salat Id hingga pelaksanaan salat dimulai.

Ini menunjukkan bahwa takbir adalah ibadah yang dianjurkan sekaligus ekspresi kegembiraan spiritual.

Dari Timur Tengah ke Nusantara

Tradisi takbir masuk ke Indonesia sejak abad ke-13 bersama penyebaran Islam oleh para ulama dan saudagar.

Di masa Wali Songo, takbir berkembang dengan sentuhan budaya lokal, seperti penggunaan bedug sebagai penanda waktu dan alat komunikasi masyarakat.

Dari sinilah lahir kekhasan Indonesia:

  • Takbiran keliling
  • Pawai obor
  • Bedug dan alat musik tradisional
  • Hingga kini berkembang ke media digital

Menurut Nasaruddin, Indonesia menjadi salah satu negara dengan tradisi takbiran paling semarak di dunia.

Makna Takbir: Bukan Sekadar Seruan

Dosen Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta, Dartim, menjelaskan bahwa takbir berasal dari kata kabaro yang berarti mengagungkan.

“Takbiran itu membesarkan via nama-nama-Nya, membesarkan via kalimat-kalimat-Nya,” ujarnya.

Maknanya tidak berhenti di lisan, tetapi juga:

  • Mengingatkan manusia agar tidak sombong
  • Menumbuhkan rasa syukur
  • Menjadi bentuk taqarrub (mendekatkan diri kepada Allah)
  • Menandai kemenangan spiritual setelah Ramadhan

Bahkan, dalam hadis riwayat Ahmad, disebutkan bahwa takbir dapat menjadi salah satu amalan yang melebur dosa-dosa yang telah lalu.

Antara Syiar dan Euforia

Seiring perkembangan zaman, takbiran juga mengalami pergeseran.

Di satu sisi, ia menjadi semakin meriah dan kreatif. Namun di sisi lain, muncul kekhawatiran jika euforia justru menggeser esensi.

Dartim mengingatkan bahwa:

  • Takbiran adalah syiar Islam, bukan sekadar hiburan
  • Tidak boleh mengandung unsur merusak atau berlebihan
  • Harus tetap mencerminkan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin

“Bukan takbirannya yang bermasalah, tapi cara kita membawakannya,” tegasnya.

Takbir sebagai Energi Spiritual Umat

Bagi umat Islam, takbir bukan hanya penutup Ramadhan, tetapi juga awal perjalanan baru setelah sebulan ditempa.

“Lafaz ‘Allahu Akbar’ adalah ungkapan yang sangat dahsyat, yang memberikan energi, kekuatan, dan semangat dalam kehidupan beragama,” ujar Nasaruddin.

Takbir mengingatkan bahwa kemenangan sejati bukan sekadar berakhirnya puasa, tetapi meningkatnya ketakwaan, kuatnya iman, dan kemampuan menjaga kebaikan setelah Ramadhan.

Menggema Hingga Lintas Negara

Menariknya, gema takbir kini tak hanya terdengar di satu wilayah.

Melalui kerja sama MABIMS, takbir Idul Fitri dikumandangkan lintas negara—Indonesia, Malaysia, Brunei, dan Singapura—sebagai simbol persatuan umat Islam di Asia Tenggara.

Baca juga: Tata Cara Shalat Idul Fitri Lengkap: Niat, Takbir 7 dan 5 Kali, hingga Bacaan yang Dianjurkan

Lebih dari Tradisi

Takbir adalah jembatan antara ritual, sejarah, dan budaya. Ia lahir dari ajaran Rasulullah, tumbuh di tengah masyarakat, dan terus hidup dalam berbagai bentuk di seluruh dunia.

Di setiap gema “Allahu Akbar”, tersimpan pesan sederhana namun mendalam:
bahwa manusia hanyalah kecil, dan hanya Allah yang Maha Besar.

Dan mungkin, di situlah letak keindahan takbir—ia bukan hanya didengar, tetapi juga dirasakan.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Aktual
Di Hadapan Para Imam Besar di Istiqlal, Imam Masjid Al Aqsa Sampaikan Pesan Persatuan
Di Hadapan Para Imam Besar di Istiqlal, Imam Masjid Al Aqsa Sampaikan Pesan Persatuan
Aktual
MUI Akan Luncurkan Wajib Halal Oktober di Bengkulu pada 1 Oktober 2026
MUI Akan Luncurkan Wajib Halal Oktober di Bengkulu pada 1 Oktober 2026
Aktual
Imam Besar Dunia Shalat Jumat di Masjid Istiqlal, Doakan Persatuan Umat dan Kembalinya Masjid Al Aqsa
Imam Besar Dunia Shalat Jumat di Masjid Istiqlal, Doakan Persatuan Umat dan Kembalinya Masjid Al Aqsa
Aktual
Menag Ajak Imam Gunakan Bahasa Agama untuk Bangun Kesadaran Menjaga Lingkungan
Menag Ajak Imam Gunakan Bahasa Agama untuk Bangun Kesadaran Menjaga Lingkungan
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar