Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Lebaran Topat Mataram: Tradisi Ketupat yang Menyatukan Ibadah, Budaya, dan Wisata

Kompas.com, 28 Maret 2026, 09:18 WIB
Farid Assifa

Editor

KOMPAS.com – Ada cara khas masyarakat Mataram menyambut Syawal hari kedelapan. Tradisi Lebaran Topat bukan sekadar perayaan, melainkan denyut budaya yang terus hidup di tengah masyarakat Sasak di Pulau Lombok.

Di pasar-pasar tradisional seperti Mandalika, Kebon Roek, hingga Pagesangan, aroma janur segar menjadi penanda datangnya momen istimewa ini.

Perempuan-perempuan sibuk menyiapkan anyaman ketupat, sementara pedagang melipat janur dengan cekatan—sebuah rutinitas yang diwariskan lintas generasi.

Lebaran Topat bukan hanya soal makanan, tetapi juga simbol spiritual. Tradisi ini menandai selesainya puasa sunah enam hari di bulan Syawal.

Baca juga: Kuliner Langka Lemang Hitam Laris Manis Saat Lebaran, Diburu untuk Pengobat Rindu

Angka tujuh—jarak dari Idul Fitri—dimaknai sebagai kesempurnaan ibadah, mempertemukan nilai agama dan adat dalam harmoni yang khas.

Ritual Sakral yang Sarat Makna

Perayaan dimulai sejak pagi dengan ziarah ke makam-makam keramat seperti Loang Baloq dan Bintaro. Ribuan warga datang membawa dulang berisi ketupat, opor ayam, telur, hingga jajanan tradisional.

Zikir dan doa mengalun, menyatu dengan suasana religius yang kental. Ada pula tradisi ngurisan (potong rambut bayi) sebagai simbol harapan baru, serta begibung, yakni makan bersama tanpa memandang status sosial.

Asisten I Setda Kota Mataram, H Lalu Martawang, menegaskan pentingnya tradisi ini:

“Lebaran Topat menjadi salah satu tradisi yang harus dipertahankan karena sarat dengan nilai religi dan mempererat tali silaturahmi.”

Puncak kemeriahan terjadi saat bejuretan, ketika masyarakat berebut Topat Agung—susunan ratusan ketupat sebagai simbol rasa syukur dan harapan akan berkah.

Usai ritual, masyarakat bergerak menuju kawasan pantai seperti Ampenan hingga Loang Baloq. Tikar digelar, keluarga berkumpul, dan ketupat disantap bersama debur ombak.

Di sinilah Lebaran Topat menjelma menjadi pesta rakyat. Tradisi ini tak hanya mempererat hubungan sosial, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan antara manusia, alam, dan sejarah.

Tradisi yang Menggerakkan Ekonomi

Lebaran Topat juga membawa dampak ekonomi yang signifikan. Pedagang janur, pembuat ketupat, hingga penjual makanan tradisional merasakan lonjakan omzet.

Pemerintah Kota Mataram pun menjadikannya bagian dari kalender pariwisata tahunan. Dampaknya, sektor transportasi, wisata pantai, hingga jasa penyewaan kendaraan ikut terdongkrak.

Namun, lonjakan pengunjung juga membawa tantangan. Aspek keamanan dan kebersihan menjadi perhatian, terutama di kawasan pantai.

“Gelombang pasang bisa datang tiba-tiba, karena itu kami terus ingatkan warga agar tidak abai terhadap keamanan saat mandi di laut,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Kota Mataram, Budi Wiranto.

Antara Tradisi dan Era Digital

Di tengah arus digitalisasi, Lebaran Topat justru semakin dikenal luas. Media sosial dipenuhi dokumentasi begibung hingga bejuretan yang viral, menarik perhatian generasi muda.

Namun, ada tantangan baru: menjaga makna agar tidak hilang di balik komersialisasi. Tradisi ini bukan sekadar tontonan, melainkan warisan budaya yang harus dirawat dengan nilai dan makna aslinya.

Lebaran Topat menjadi cerminan bagaimana nilai Islam dapat hidup berdampingan dengan budaya lokal. Ia menghadirkan wajah keberagaman yang harmonis, sekaligus memperkuat identitas masyarakat.

Baca juga: 30 Ucapan Lebaran Ketupat dalam Bahasa Jawa Halus yang Berisi Permintaan Maaf dan Doa

Tradisi ini mengajarkan bahwa budaya akan tetap hidup jika dirawat bersama—melalui gotong royong, kebersamaan, dan kesadaran akan pentingnya warisan leluhur.

Saat matahari terbenam di Pantai Ampenan, perayaan memang usai. Namun maknanya tetap tinggal—bahwa Lebaran Topat adalah cerita tentang kebersamaan, identitas, dan harapan yang terus berdetak di jantung budaya Lombok.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Muhammadiyah Soroti Tantangan Hafalan Surah Ad-Dhuha Berhadiah Miras di Festival Musik
Muhammadiyah Soroti Tantangan Hafalan Surah Ad-Dhuha Berhadiah Miras di Festival Musik
Aktual
Contoh Teks Doa Upacara 17 Agustus 2026 pada Peringatan HUT Ke-81 RI
Contoh Teks Doa Upacara 17 Agustus 2026 pada Peringatan HUT Ke-81 RI
Doa dan Niat
Rahasia Surah Ad-Dhuha, Kisah Turunnya Surat Penghiburan Bagi Rasulullah SAW
Rahasia Surah Ad-Dhuha, Kisah Turunnya Surat Penghiburan Bagi Rasulullah SAW
Aktual
Surat Ad-Dhuha: Arab, Latin, Arti, Makna, dan Keutamaannya
Surat Ad-Dhuha: Arab, Latin, Arti, Makna, dan Keutamaannya
Aktual
5 Amalan dan Doa Rebo Wekasan Lengkap, Tradisi Rabu Terakhir di Bulan Safar
5 Amalan dan Doa Rebo Wekasan Lengkap, Tradisi Rabu Terakhir di Bulan Safar
Aktual
Gerhana Matahari Terbesar di Inggris 12 Agustus 2026, Muhammadiyah Britania Raya Ajak Salat Kusuf
Gerhana Matahari Terbesar di Inggris 12 Agustus 2026, Muhammadiyah Britania Raya Ajak Salat Kusuf
Aktual
Belajar Kerukunan di Indonesia, Mahasiswa Jepang Tanya Zakat untuk Non-Muslim
Belajar Kerukunan di Indonesia, Mahasiswa Jepang Tanya Zakat untuk Non-Muslim
Aktual
Muktamar NU 2026: Gus Rozin Sampaikan Gagasan Besar untuk NU
Muktamar NU 2026: Gus Rozin Sampaikan Gagasan Besar untuk NU
Aktual
5 Tips Padu Padan 'Modest Wear' untuk Perempuan Berhijab, Tetap Stylish Tanpa Banyak Baju
5 Tips Padu Padan "Modest Wear" untuk Perempuan Berhijab, Tetap Stylish Tanpa Banyak Baju
Aktual
Bolehkah Imam Shalat Sambil Duduk? Ini Hukum dan Posisi Makmumnya
Bolehkah Imam Shalat Sambil Duduk? Ini Hukum dan Posisi Makmumnya
Aktual
4 Doa Rebo Wekasan 2026, Lengkap Arab, Latin, dan Terjemahnya
4 Doa Rebo Wekasan 2026, Lengkap Arab, Latin, dan Terjemahnya
Doa dan Niat
Tradisi Rebo Wekasan Dimulai Malam Ini, Simak Sederet Amalan yang Bisa Dilakukan
Tradisi Rebo Wekasan Dimulai Malam Ini, Simak Sederet Amalan yang Bisa Dilakukan
Aktual
Apa Itu Rebo Wekasan? Mengenal Tradisi Rabu di Terakhir Bulan Safar
Apa Itu Rebo Wekasan? Mengenal Tradisi Rabu di Terakhir Bulan Safar
Aktual
Guru Besar UIN Bandung: Merdeka Juga Harus dari Kebencian, Fanatisme, dan Hoaks
Guru Besar UIN Bandung: Merdeka Juga Harus dari Kebencian, Fanatisme, dan Hoaks
Aktual
Niat Sholat Ba'diyah Isya: Arab, Latin, Rakaat, dan Tata Caranya
Niat Sholat Ba'diyah Isya: Arab, Latin, Rakaat, dan Tata Caranya
Doa Harian
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar