Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kisah Runtuhnya Persia: Strategi Islam dari Abu Bakar ke Umar

Kompas.com, 3 April 2026, 18:00 WIB
Norma Desvia Rahman,
Farid Assifa

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Runtuhnya kekuasaan Persia di bawah Dinasti Sassaniyah bukanlah peristiwa yang terjadi secara tiba-tiba.

Ia merupakan hasil dari rangkaian panjang strategi militer, kepemimpinan visioner, serta momentum sejarah yang dimanfaatkan secara tepat oleh kaum Muslimin sejak masa Abu Bakar Ash-Shiddiq hingga Umar bin Khattab.

Dari wilayah Jazirah Arab yang semula terpecah, pasukan Islam bergerak menembus salah satu imperium terbesar dunia saat itu. Lalu, bagaimana proses panjang itu berlangsung?

Awal Ekspansi: Dari Stabilitas Internal ke Gerbang Persia

Setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW, tantangan pertama umat Islam adalah menjaga stabilitas internal.

Perang Riddah yang terjadi di berbagai wilayah Arab menjadi ujian awal kepemimpinan Abu Bakar.

Dalam buku The History of al-Tabari karya Al-Tabari, dijelaskan bahwa keberhasilan Abu Bakar menumpas pemberontakan menjadi fondasi penting sebelum ekspansi keluar wilayah Arab dilakukan.

Salah satu tokoh kunci dalam tahap awal ini adalah Al-Mutsanna bin Haritsah. Ia memulai penetrasi ke wilayah Irak, yang saat itu berada di bawah kekuasaan Persia.

Melalui serangkaian serangan kecil namun efektif, Al-Mutsanna berhasil membuka jalur menuju wilayah strategis di sekitar Sungai Eufrat dan Tigris.

Dalam buku Utsman bin Affan RA karya Abdul Syukur Al-Azizi, disebutkan bahwa ekspansi ini tidak hanya bersifat militer, tetapi juga membawa misi dakwah, mengajak masyarakat setempat kepada Islam atau menawarkan perjanjian damai.

Baca juga: Dari Penentang Menjadi Pelindung, Kisah Umar bin Al-Khattab Memeluk Islam

Khalid bin Walid dan Strategi Penaklukan Cepat

Melihat potensi besar di wilayah Irak, Abu Bakar kemudian mengirimkan bala bantuan di bawah komando Khalid bin Walid.

Sosok ini dikenal sebagai ahli strategi perang yang mampu mengubah keadaan di medan tempur.

Dalam buku The Great Arab Conquests karya Hugh Kennedy, dijelaskan bahwa Khalid menggunakan taktik mobilitas tinggi dan serangan cepat untuk melemahkan pertahanan Persia. Ia tidak terpaku pada satu titik, melainkan bergerak dinamis menyerang berbagai kota penting.

Beberapa pertempuran penting yang dimenangkan pada fase ini antara lain:

  • Pertempuran melawan pasukan Persia di wilayah Irak selatan
  • Penaklukan kota-kota strategis di sepanjang jalur sungai
  • Melemahkan kekuatan militer Persia secara bertahap

Keberhasilan ini membuka jalan bagi ekspansi lebih dalam ke jantung kekuasaan Persia.

Masa Umar bin Khattab: Konsolidasi dan Kemenangan Besar

Ketika kepemimpinan beralih kepada Umar bin Khattab, strategi ekspansi mengalami perubahan signifikan.

Jika sebelumnya lebih bersifat ofensif cepat, pada masa Umar, pendekatan menjadi lebih terstruktur dan sistematis.

Dalam buku Al-Bidayah wan Nihayah karya Ibnu Katsir, disebutkan bahwa Umar sangat berhati-hati dalam mengatur pergerakan pasukan. Ia menekankan pentingnya logistik, koordinasi, dan pemilihan panglima yang tepat.

Salah satu keputusan penting adalah menunjuk Saad bin Abi Waqqas sebagai pemimpin pasukan utama menghadapi Persia.

Baca juga: Kisah Abu Bakar Ash Shiddiq Dicaci Maki Orang Badui: Jangan Membalas Cacian

Perang Qadisiyyah: Titik Balik Melawan Persia

Perang Qadisiyyah menjadi salah satu momen paling menentukan dalam sejarah penaklukan Persia.

Dalam pertempuran ini, pasukan Muslim menghadapi kekuatan besar Persia yang dipimpin oleh Rustam Farrakhzad.

Meski kalah dalam jumlah dan perlengkapan, pasukan Muslim mampu memenangkan pertempuran melalui strategi dan ketahanan mental.

Kemenangan ini berdampak besar:

  • Membuka jalan menuju ibu kota Persia, Ctesiphon
  • Melemahkan struktur militer Sassaniyah
  • Mengguncang moral pasukan Persia

Dalam buku The Early Islamic Conquests karya Fred M. Donner, disebutkan bahwa Qadisiyyah menjadi simbol runtuhnya dominasi militer Persia di wilayah Irak.

Jalula hingga Nahawand: Runtuhnya Kekaisaran Sassaniyah

Setelah Qadisiyyah, kemenangan demi kemenangan terus diraih. Salah satunya adalah Perang Jalula yang semakin mempersempit ruang gerak Persia.

Puncaknya terjadi dalam Perang Nahawand pada tahun 642 M. Dalam pertempuran ini, pasukan Muslim kembali meraih kemenangan besar yang disebut sebagai “kemenangan dari segala kemenangan”.

Kekalahan ini memaksa Kaisar Persia, Yazdegerd III, melarikan diri dari istana. Sejak saat itu, kekuasaan Dinasti Sassaniyah praktis runtuh.

Baca juga: Khalid bin Walid, Dari Lawan Tangguh Menjadi Pedang Allah

Strategi Kunci: Mengapa Persia Bisa Ditaklukkan?

Keberhasilan pasukan Islam tidak hanya ditentukan oleh kekuatan militer, tetapi juga oleh beberapa faktor penting:

1. Kepemimpinan yang solid

Khalifah Abu Bakar dan Umar bin Khattab dikenal tegas, visioner, dan mampu memilih panglima terbaik.

2. Strategi militer adaptif

Pasukan Muslim mampu menyesuaikan taktik sesuai kondisi medan dan kekuatan lawan.

3. Moral dan semangat pasukan

Keyakinan spiritual menjadi kekuatan utama yang membedakan mereka dari pasukan lain.

4. Kondisi internal Persia

Konflik internal dan melemahnya struktur politik Sassaniyah turut mempercepat kejatuhan mereka.

Dari Kekaisaran Besar ke Lembaran Sejarah

Runtuhnya Persia bukan hanya menandai kemenangan militer, tetapi juga perubahan besar dalam peta peradaban dunia.

Wilayah yang sebelumnya berada di bawah kekuasaan Sassaniyah kini menjadi bagian dari dunia Islam yang terus berkembang.

Dari proses panjang sejak masa Abu Bakar hingga puncaknya di era Umar bin Khattab, penaklukan Persia menjadi salah satu episode paling monumental dalam sejarah Islam.

Lebih dari sekadar ekspansi wilayah, peristiwa ini menunjukkan bagaimana strategi, kepemimpinan, dan momentum sejarah dapat mengubah arah sebuah peradaban secara drastis.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Muhammadiyah Soroti Tantangan Hafalan Surah Ad-Dhuha Berhadiah Miras di Festival Musik
Muhammadiyah Soroti Tantangan Hafalan Surah Ad-Dhuha Berhadiah Miras di Festival Musik
Aktual
Contoh Teks Doa Upacara 17 Agustus 2026 pada Peringatan HUT Ke-81 RI
Contoh Teks Doa Upacara 17 Agustus 2026 pada Peringatan HUT Ke-81 RI
Doa dan Niat
Rahasia Surah Ad-Dhuha, Kisah Turunnya Surat Penghiburan Bagi Rasulullah SAW
Rahasia Surah Ad-Dhuha, Kisah Turunnya Surat Penghiburan Bagi Rasulullah SAW
Aktual
Surat Ad-Dhuha: Arab, Latin, Arti, Makna, dan Keutamaannya
Surat Ad-Dhuha: Arab, Latin, Arti, Makna, dan Keutamaannya
Aktual
5 Amalan dan Doa Rebo Wekasan Lengkap, Tradisi Rabu Terakhir di Bulan Safar
5 Amalan dan Doa Rebo Wekasan Lengkap, Tradisi Rabu Terakhir di Bulan Safar
Aktual
Gerhana Matahari Terbesar di Inggris 12 Agustus 2026, Muhammadiyah Britania Raya Ajak Salat Kusuf
Gerhana Matahari Terbesar di Inggris 12 Agustus 2026, Muhammadiyah Britania Raya Ajak Salat Kusuf
Aktual
Belajar Kerukunan di Indonesia, Mahasiswa Jepang Tanya Zakat untuk Non-Muslim
Belajar Kerukunan di Indonesia, Mahasiswa Jepang Tanya Zakat untuk Non-Muslim
Aktual
Muktamar NU 2026: Gus Rozin Sampaikan Gagasan Besar untuk NU
Muktamar NU 2026: Gus Rozin Sampaikan Gagasan Besar untuk NU
Aktual
5 Tips Padu Padan 'Modest Wear' untuk Perempuan Berhijab, Tetap Stylish Tanpa Banyak Baju
5 Tips Padu Padan "Modest Wear" untuk Perempuan Berhijab, Tetap Stylish Tanpa Banyak Baju
Aktual
Bolehkah Imam Shalat Sambil Duduk? Ini Hukum dan Posisi Makmumnya
Bolehkah Imam Shalat Sambil Duduk? Ini Hukum dan Posisi Makmumnya
Aktual
4 Doa Rebo Wekasan 2026, Lengkap Arab, Latin, dan Terjemahnya
4 Doa Rebo Wekasan 2026, Lengkap Arab, Latin, dan Terjemahnya
Doa dan Niat
Tradisi Rebo Wekasan Dimulai Malam Ini, Simak Sederet Amalan yang Bisa Dilakukan
Tradisi Rebo Wekasan Dimulai Malam Ini, Simak Sederet Amalan yang Bisa Dilakukan
Aktual
Apa Itu Rebo Wekasan? Mengenal Tradisi Rabu di Terakhir Bulan Safar
Apa Itu Rebo Wekasan? Mengenal Tradisi Rabu di Terakhir Bulan Safar
Aktual
Guru Besar UIN Bandung: Merdeka Juga Harus dari Kebencian, Fanatisme, dan Hoaks
Guru Besar UIN Bandung: Merdeka Juga Harus dari Kebencian, Fanatisme, dan Hoaks
Aktual
Niat Sholat Ba'diyah Isya: Arab, Latin, Rakaat, dan Tata Caranya
Niat Sholat Ba'diyah Isya: Arab, Latin, Rakaat, dan Tata Caranya
Doa Harian
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar