Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tanah Suci Tempat Ampunan, Bukan Pembalasan Dosa, Ini Kata Ulama

Kompas.com, 16 April 2026, 14:00 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Di tengah semangat umat Islam untuk menunaikan ibadah haji, masih beredar satu anggapan yang cukup mengusik, bahwa Tanah Suci adalah tempat “pembalasan” atas dosa-dosa yang pernah dilakukan di dunia.

Isu ini tidak jarang membuat sebagian orang merasa ragu, bahkan takut berangkat ke Makkah dan Madinah. Mereka khawatir, kesalahan di masa lalu akan “dibayar tunai” selama berada di sana. Namun, benarkah demikian?

Antara Keyakinan dan Mitos yang Perlu Diluruskan

Pandangan bahwa kejadian negatif di Tanah Suci merupakan azab sering kali muncul dari pemahaman yang tidak utuh.

Misalnya, ketika ada jemaah tersesat, sakit, atau mengalami kesulitan tertentu, sebagian orang langsung mengaitkannya dengan hukuman dari Allah SWT.

Padahal, dalam realitasnya, ibadah haji adalah perjalanan panjang yang melibatkan jutaan orang dari berbagai negara.

Faktor kelelahan, perbedaan budaya, kondisi cuaca ekstrem, hingga keterbatasan fisik sangat memengaruhi pengalaman jemaah.

Dalam konteks ini, kejadian-kejadian tersebut lebih tepat dipahami sebagai bagian dari dinamika perjalanan, bukan bentuk pembalasan.

Baca juga: Doa Melepas Jemaah Haji Lengkap Arab, Latin, dan Artinya

Penjelasan Ulama: Bukan Azab, tapi Ujian dan Penyesuaian

Melansir dari laman Nahdlatul Ulama, Mustasyar Dini PPIH Arab Saudi, Abdul Moqsith Ghazali menegaskan pentingnya berpikir jernih dalam memahami kondisi jemaah haji.

Ia menjelaskan bahwa fenomena seperti jemaah yang tersesat atau menunjukkan perilaku tidak biasa, termasuk pada lansia yang mengalami demensia, bukanlah bentuk azab.

Kondisi tersebut sangat mungkin terjadi karena faktor kelelahan, perubahan lingkungan, hingga tekanan fisik akibat suhu panas di Arab Saudi.

“Ini bukan azab. Kita perlu memahami bahwa jemaah sedang beradaptasi dengan kondisi baru, apalagi setelah perjalanan panjang,” ujarnya.

Penjelasan ini menjadi penting, terutama untuk menghindari stigma yang justru dapat menimbulkan kecemasan bagi jemaah dan keluarganya.

Haji: Undangan Mulia, Bukan Arena Hukuman

Dalam ajaran Islam, seseorang yang dapat menunaikan ibadah haji sejatinya adalah tamu Allah. Tidak semua orang mendapatkan kesempatan ini.

Al-Qur’an dan hadis menegaskan bahwa ibadah haji adalah bentuk panggilan ilahi. Maka, kehadiran seorang Muslim di Tanah Suci seharusnya dipahami sebagai tanda kehormatan, bukan ancaman.

Dalam buku Manasik Haji dan Umrah karya Abdul Aziz Dahlan dijelaskan bahwa haji adalah momentum pembersihan diri, di mana seorang hamba kembali dalam keadaan suci seperti bayi yang baru dilahirkan, apabila dilaksanakan dengan ikhlas dan sesuai tuntunan.

Hal ini diperkuat oleh sabda Nabi Muhammad SAW bahwa haji yang mabrur tidak ada balasan lain kecuali surga.

Baca juga: Niat Ihram dan Doa Haji: Arab, Latin, Arti, dan Kemudahan bagi Jemaah

Keutamaan Tanah Suci: Ladang Rahmat, Bukan Ketakutan

Tanah Suci justru dikenal sebagai tempat yang penuh keberkahan. Amal ibadah yang dilakukan di sana memiliki nilai yang berlipat ganda.

Shalat di Masjid Nabawi, misalnya, bernilai seribu kali lipat dibandingkan tempat lain, sementara shalat di Masjidil Haram bahkan mencapai seratus ribu kali lipat.

Ini menunjukkan bahwa Makkah dan Madinah adalah ruang spiritual yang dibuka seluas-luasnya bagi umat Islam untuk meraih ampunan dan rahmat Allah SWT.

Dalam kitab Ihya Ulumuddin, Al-Ghazali menekankan bahwa keutamaan ibadah di tempat-tempat suci seharusnya mendorong rasa harap, bukan ketakutan berlebihan.

Pentingnya Berprasangka Baik kepada Allah

Salah satu kunci dalam menjalani ibadah haji adalah menjaga husnuzan atau prasangka baik kepada Allah.

Dalam hadis qudsi yang diriwayatkan oleh Muhammad, Allah SWT berfirman bahwa Dia sesuai dengan prasangka hamba-Nya.

Artinya, jika seseorang datang dengan harapan dan keyakinan akan kasih sayang Allah, maka ia akan mendapatkan kebaikan tersebut.

Sebaliknya, prasangka buruk justru dapat membebani hati dan mengganggu kekhusyukan ibadah.

Dalam buku Al-Adzkar karya Imam An-Nawawi, dijelaskan bahwa dzikir dan doa yang dilandasi keyakinan akan dikabulkan menjadi salah satu amalan yang mendekatkan seorang hamba kepada rahmat Allah.

Baca juga: Kumpulan Doa Haji dari Rasulullah: Agar Selamat dan Raih Haji Mabrur

Mengubah Rasa Takut Menjadi Kesadaran Spiritual

Mengingat adanya hisab dan pertanggungjawaban di akhirat memang penting. Namun, hal itu seharusnya menjadi motivasi untuk memperbaiki diri, bukan alasan untuk menjauh dari ibadah.

Haji justru menjadi kesempatan terbaik untuk bertaubat, memperbaiki hubungan dengan Allah, dan memulai lembaran baru kehidupan.

Dalam perspektif tasawuf, perjalanan ke Tanah Suci adalah simbol perjalanan batin menuju kedekatan dengan Tuhan.

Jangan Takut Berhaji

Ketakutan yang didasarkan pada rumor tidak seharusnya menghalangi niat baik seseorang untuk menunaikan rukun Islam kelima.

Tanah Suci bukanlah tempat pembalasan dosa, melainkan tempat di mana pintu ampunan dibuka selebar-lebarnya.

Dengan pemahaman yang benar, dukungan ilmu, serta niat yang tulus, ibadah haji akan menjadi pengalaman spiritual yang mendalam dan menenangkan.

Pada akhirnya, yang terpenting bukanlah seberapa besar dosa di masa lalu, tetapi seberapa besar harapan dan kesungguhan untuk kembali kepada Allah SWT.

Dan di Tanah Suci, setiap langkah sejatinya adalah undangan untuk mendekat, bukan untuk dihukum.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Aktual
Di Hadapan Para Imam Besar di Istiqlal, Imam Masjid Al Aqsa Sampaikan Pesan Persatuan
Di Hadapan Para Imam Besar di Istiqlal, Imam Masjid Al Aqsa Sampaikan Pesan Persatuan
Aktual
MUI Akan Luncurkan Wajib Halal Oktober di Bengkulu pada 1 Oktober 2026
MUI Akan Luncurkan Wajib Halal Oktober di Bengkulu pada 1 Oktober 2026
Aktual
Imam Besar Dunia Shalat Jumat di Masjid Istiqlal, Doakan Persatuan Umat dan Kembalinya Masjid Al Aqsa
Imam Besar Dunia Shalat Jumat di Masjid Istiqlal, Doakan Persatuan Umat dan Kembalinya Masjid Al Aqsa
Aktual
Menag Ajak Imam Gunakan Bahasa Agama untuk Bangun Kesadaran Menjaga Lingkungan
Menag Ajak Imam Gunakan Bahasa Agama untuk Bangun Kesadaran Menjaga Lingkungan
Aktual
Menag: Imam Harus Jadi Jembatan Perdamaian dan Diplomat Komunitas
Menag: Imam Harus Jadi Jembatan Perdamaian dan Diplomat Komunitas
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar