Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Warga dan Jemaah Haji di Arab Saudi Bisa Melihat Hujan Meteor Lyrid dengan Mata Telanjang

Kompas.com, 21 April 2026, 18:31 WIB
Puspasari Setyaningrum

Editor

KOMPAS.com - Fenomena langit menarik akan menghiasi langit malam pada April 2026.

Salah satu peristiwa astronomi yang dinanti adalah hujan meteor Lyrid, yang dikenal sebagai hujan meteor tertua dalam catatan sejarah.

Dilansir dari SPA, Perhimpunan Astronomi Noor menyebut langit Arab Saudi dan kawasan Arab berpeluang menyaksikan puncak fenomena ini pada pekan ini.

Baca juga: Doa dan Dzikir Saat Melihat Hujan Meteor, Amalan Saat Melihat Fenomena Langit

Pengamatan disebut dapat dilakukan langsung dengan mata telanjang tanpa alat khusus.

Perhimpunan Astronomi Noor mengumumkan bahwa langit di Arab Saudi dan kawasan Arab diperkirakan akan menyaksikan puncak hujan meteor Lyrid pada larut malam Rabu (22/4/2026) hingga Kamis dini hari (23/4/2026) .

Baca juga: Fenomena Hujan Meteor Lyrids April 2026, Kapan Bisa Dilihat di Indonesia?

Hujan Meteor Lyrid Salah Satu yang Tertua

Lyrid merupakan salah satu hujan meteor paling tua yang pernah dicatat manusia. Fenomena ini telah diamati sejak ribuan tahun lalu.

Perhimpunan tersebut menyebut hujan meteor ini merupakan salah satu fenomena astronomi tertua.

Dengan catatan sejarah yang menunjukkan pertama kali diamati sekitar 2.700 tahun lalu, tepatnya pada 687 SM, sehingga menjadi salah satu hujan meteor tertua yang pernah tercatat.

Hujan meteor Lyrids menjadi salah satu fenomena astronomi yang menarik untuk diamati pada April 2026.

Fenomena ini dikenal sebagai salah satu hujan meteor tertua yang pernah tercatat dalam sejarah pengamatan manusia di Bumi.

Hujan Meteor Lyrid Bisa Dilihat Tanpa Teleskop

Pengamat tidak memerlukan alat canggih untuk menyaksikan hujan meteor ini. Lokasi yang gelap dan terbuka justru menjadi kunci utama pengamatan.

Ketua Perhimpunan, Issa Al-Ghafili, mengatakan fenomena ini tidak memerlukan teleskop atau peralatan canggih untuk mengamatinya, karena dapat dilihat langsung dengan mata telanjang dari lokasi terbuka yang jauh dari polusi cahaya, mulai tengah malam hingga menjelang fajar.

Pengamatan dengan mata telanjang justru lebih disarankan karena memberikan bidang pandang yang lebih luas.

Sebaliknya, penggunaan teleskop akan mempersempit area pengamatan sehingga peluang melihat meteor justru menjadi lebih kecil.

Penjelasan Fenomena Hujan Meteor Lyrid

Dilansir dari Kompas.tv, fenomena hujan meteor Lyrid berasal dari sisa material komet yang melintas di tata surya. Debu komet itu kemudian memasuki atmosfer bumi dan terbakar.

Mengutip laman Live Science, hujan meteor Lyrids berasal dari debu dan puing-puing yang ditinggalkan oleh Komet C/1861 G1 (Thatcher). Komet ini mengorbit Matahari dengan periode yang sangat panjang, yakni sekitar 415,5 tahun.

Setiap kali bumi melintasi jalur sisa material komet tersebut di tata surya bagian dalam, partikel-partikel kecil itu akan masuk ke atmosfer dan terbakar akibat gesekan. Hal ini menciptakan fenomena cahaya yang tampak seperti “bintang jatuh” di langit malam.

Komet Thatcher terakhir kali terdeteksi berada di tata surya bagian dalam pada 1861. Berdasarkan perhitungan astronomi, komet ini diperkirakan baru akan kembali mendekati matahari sekitar 2276.

Jadwal Puncak Hujan Meteor Lyrid April 2026

Meski komet induknya jarang muncul, sisa debunya masih rutin memicu hujan meteor setiap tahun. Tahun ini, puncak fenomena diperkirakan terjadi pada akhir April.

Meski begitu, jejak debunya tetap tertinggal dan terus berinteraksi dengan orbit bumi, sehingga hujan meteor Lyrids dapat diamati secara rutin setiap tahun.

Pada 2026, hujan meteor Lyrids diperkirakan mencapai puncaknya pada malam 22 hingga dini hari 23 April.

Berdasarkan data dari In the Sky, aktivitas meteor umumnya mulai meningkat sejak larut malam dan mencapai intensitas terbaik setelah tengah malam hingga menjelang fajar.

Meski begitu, waktu terbaik untuk mengamati hujan meteor Lyrids bisa berbeda di setiap wilayah.

Intensitas Meteor Bisa Capai 20 per Jam

Saat kondisi langit cerah dan minim cahaya, hujan meteor Lyrid dapat menampilkan puluhan meteor setiap jam.

Saat mencapai puncaknya, hujan meteor Lyrids diperkirakan menghasilkan sekitar 10 hingga 20 meteor per jam dalam kondisi langit yang cerah dan minim polusi cahaya.

Bagi pengamat langit, momen ini menjadi kesempatan menarik untuk menikmati fenomena alam langka tanpa alat bantu. Cukup cari lokasi gelap, pandang langit terbuka, dan tunggu meteor melintas menjelang fajar.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Muhammadiyah Soroti Tantangan Hafalan Surah Ad-Dhuha Berhadiah Miras di Festival Musik
Muhammadiyah Soroti Tantangan Hafalan Surah Ad-Dhuha Berhadiah Miras di Festival Musik
Aktual
Contoh Teks Doa Upacara 17 Agustus 2026 pada Peringatan HUT Ke-81 RI
Contoh Teks Doa Upacara 17 Agustus 2026 pada Peringatan HUT Ke-81 RI
Doa dan Niat
Rahasia Surah Ad-Dhuha, Kisah Turunnya Surat Penghiburan Bagi Rasulullah SAW
Rahasia Surah Ad-Dhuha, Kisah Turunnya Surat Penghiburan Bagi Rasulullah SAW
Aktual
Surat Ad-Dhuha: Arab, Latin, Arti, Makna, dan Keutamaannya
Surat Ad-Dhuha: Arab, Latin, Arti, Makna, dan Keutamaannya
Aktual
5 Amalan dan Doa Rebo Wekasan Lengkap, Tradisi Rabu Terakhir di Bulan Safar
5 Amalan dan Doa Rebo Wekasan Lengkap, Tradisi Rabu Terakhir di Bulan Safar
Aktual
Gerhana Matahari Terbesar di Inggris 12 Agustus 2026, Muhammadiyah Britania Raya Ajak Salat Kusuf
Gerhana Matahari Terbesar di Inggris 12 Agustus 2026, Muhammadiyah Britania Raya Ajak Salat Kusuf
Aktual
Belajar Kerukunan di Indonesia, Mahasiswa Jepang Tanya Zakat untuk Non-Muslim
Belajar Kerukunan di Indonesia, Mahasiswa Jepang Tanya Zakat untuk Non-Muslim
Aktual
Muktamar NU 2026: Gus Rozin Sampaikan Gagasan Besar untuk NU
Muktamar NU 2026: Gus Rozin Sampaikan Gagasan Besar untuk NU
Aktual
5 Tips Padu Padan 'Modest Wear' untuk Perempuan Berhijab, Tetap Stylish Tanpa Banyak Baju
5 Tips Padu Padan "Modest Wear" untuk Perempuan Berhijab, Tetap Stylish Tanpa Banyak Baju
Aktual
Bolehkah Imam Shalat Sambil Duduk? Ini Hukum dan Posisi Makmumnya
Bolehkah Imam Shalat Sambil Duduk? Ini Hukum dan Posisi Makmumnya
Aktual
4 Doa Rebo Wekasan 2026, Lengkap Arab, Latin, dan Terjemahnya
4 Doa Rebo Wekasan 2026, Lengkap Arab, Latin, dan Terjemahnya
Doa dan Niat
Tradisi Rebo Wekasan Dimulai Malam Ini, Simak Sederet Amalan yang Bisa Dilakukan
Tradisi Rebo Wekasan Dimulai Malam Ini, Simak Sederet Amalan yang Bisa Dilakukan
Aktual
Apa Itu Rebo Wekasan? Mengenal Tradisi Rabu di Terakhir Bulan Safar
Apa Itu Rebo Wekasan? Mengenal Tradisi Rabu di Terakhir Bulan Safar
Aktual
Guru Besar UIN Bandung: Merdeka Juga Harus dari Kebencian, Fanatisme, dan Hoaks
Guru Besar UIN Bandung: Merdeka Juga Harus dari Kebencian, Fanatisme, dan Hoaks
Aktual
Niat Sholat Ba'diyah Isya: Arab, Latin, Rakaat, dan Tata Caranya
Niat Sholat Ba'diyah Isya: Arab, Latin, Rakaat, dan Tata Caranya
Doa Harian
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar