Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Titip Doa ke Jemaah Haji, Ternyata Sudah Ada Sejak Zaman Nabi

Kompas.com, 28 April 2026, 10:06 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Menjelang musim haji, satu kebiasaan yang hampir selalu ditemui di tengah masyarakat Muslim Indonesia adalah “titip doa” kepada calon jemaah. Harapan yang diselipkan pun beragam, mulai dari urusan kesehatan, rezeki, hingga jodoh.

Bagi sebagian orang, praktik ini mungkin dianggap sekadar tradisi turun-temurun. Namun, jika ditelusuri lebih dalam, titip doa ternyata memiliki akar historis dan teologis yang kuat dalam ajaran Islam, bahkan telah dikenal sejak masa Rasulullah SAW.

Lantas, bagaimana sebenarnya kedudukan tradisi ini? Apakah benar sudah ada sejak zaman Nabi? Berikut penjelasan lengkapnya.

Baca juga: 10 Waktu Mustajab untuk Berdoa dan Adab Agar Doa Dikabulkan Allah

Jejak Titip Doa pada Masa Nabi

Praktik menitipkan doa bukanlah hal baru dalam Islam. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Jami at-Tirmidzi, diceritakan bahwa Umar bin Khattab pernah meminta izin kepada Rasulullah SAW untuk melaksanakan umrah.

Menariknya, Nabi justru berpesan:

“Wahai saudaraku, sertakanlah kami dalam doamu dan jangan lupakan kami.”

Hadis ini menjadi dasar penting bahwa meminta doa kepada orang yang sedang melakukan perjalanan ibadah bukanlah sesuatu yang asing. Bahkan, Rasulullah SAW sendiri yang mencontohkannya.

Dalam buku 200 Motivasi Nabi & Kisah Inspiratif Pembangun Jiwa karya As-Samarqandi dijelaskan bahwa peristiwa ini menunjukkan adanya pengakuan terhadap keutamaan doa orang yang sedang berada dalam perjalanan ibadah, termasuk haji dan umrah.

Mengapa Doa di Tanah Suci Dianggap Istimewa?

Salah satu alasan kuat munculnya tradisi titip doa adalah keyakinan akan keutamaan tempat-tempat tertentu, khususnya di sekitar Ka’bah.

Di antara lokasi yang sering disebut adalah Multazam, area antara Hajar Aswad dan pintu Ka'bah.

Dalam sejumlah riwayat disebutkan bahwa doa yang dipanjatkan di tempat ini memiliki peluang besar untuk dikabulkan.

Meski para ulama berbeda pendapat mengenai derajat hadis terkait Multazam, banyak di antaranya tetap mengakui keutamaan berdoa di Tanah Suci secara umum. Hal ini juga diperkuat dalam literatur klasik seperti karya-karya ulama hadis dan fikih.

Menurut Imam An-Nawawi dalam berbagai penjelasannya, tempat dan waktu tertentu memang memiliki keistimewaan yang membuat doa lebih mustajab, selama tetap diiringi dengan keikhlasan dan adab yang benar.

Baca juga: Hukum Titip Doa ke Orang yang Berangkat Haji, Bolehkah dalam Islam? Ini Penjelasan Ulama

Tradisi Mengantar dan Titip Doa di Tsaniyatul Wada’

Jejak lain dari praktik ini dapat ditemukan dalam tradisi para sahabat yang mengantar orang-orang yang hendak bepergian, termasuk berhaji.

Dalam kitab Al-Minhaj fi Syarh Shahih Muslim karya An-Nawawi dijelaskan tentang sebuah tempat bernama Tsaniyatul Wada'.

Tempat ini dikenal sebagai lokasi perpisahan, di mana para sahabat melepas kepergian orang-orang yang akan melakukan perjalanan jauh.

Sementara itu, dalam kitab Syarh Shahih Al-Bukhari karya Ibnu Bathal disebutkan bahwa di tempat tersebut, para sahabat tidak hanya mengantar, tetapi juga menitipkan doa kepada mereka yang berangkat haji atau berjihad.

Tradisi ini memperlihatkan bahwa titip doa bukan sekadar budaya, melainkan bagian dari interaksi spiritual yang telah hidup sejak generasi awal Islam.

Pandangan Ulama tentang Titip Doa

Secara umum, para ulama membolehkan bahkan menganjurkan praktik titip doa, selama tidak disertai keyakinan yang berlebihan atau menyimpang.

Dalam buku Fiqh Doa dan Dzikir karya Yusuf Al-Qaradawi, dijelaskan bahwa meminta didoakan oleh orang lain merupakan bentuk tawadhu (rendah hati) dan pengakuan atas keterbatasan diri.

Namun, yang perlu digarisbawahi adalah bahwa doa tetap ditujukan hanya kepada Allah SWT, bukan kepada perantara.

Dengan kata lain, orang yang dititipi doa bukanlah “penentu” terkabulnya doa, melainkan hanya penyambung harapan.

Baca juga: MUI Minta Jemaah Haji Doakan RI di Tanah Suci, Ini Pesannya

Antara Tradisi dan Keikhlasan

Di Indonesia, tradisi titip doa berkembang menjadi bagian dari budaya religi yang khas. Namun, penting untuk menjaga esensinya agar tidak bergeser menjadi formalitas semata.

Titip doa seharusnya tidak hanya menjadi “daftar permintaan”, tetapi juga momentum untuk memperbaiki hubungan spiritual dengan Allah.

Sebab, pada akhirnya, setiap orang tetap memiliki akses langsung untuk berdoa tanpa perantara.

Lebih dari Sekadar Kebiasaan

Tradisi titip doa kepada jemaah haji ternyata memiliki akar yang kuat dalam sejarah Islam. Dari hadis Nabi hingga praktik para sahabat, semuanya menunjukkan bahwa saling mendoakan adalah bagian dari ajaran yang dianjurkan.

Namun, yang paling penting bukanlah siapa yang menyampaikan doa itu, melainkan ketulusan hati dalam memanjatkannya.

Di tengah hiruk-pikuk persiapan haji, mungkin ada satu hal sederhana yang sering terlupakan: bahwa doa terbaik tidak selalu harus dititipkan, kadang, ia cukup dipanjatkan dengan penuh keyakinan, di mana pun kita berada.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Aktual
Di Hadapan Para Imam Besar di Istiqlal, Imam Masjid Al Aqsa Sampaikan Pesan Persatuan
Di Hadapan Para Imam Besar di Istiqlal, Imam Masjid Al Aqsa Sampaikan Pesan Persatuan
Aktual
MUI Akan Luncurkan Wajib Halal Oktober di Bengkulu pada 1 Oktober 2026
MUI Akan Luncurkan Wajib Halal Oktober di Bengkulu pada 1 Oktober 2026
Aktual
Imam Besar Dunia Shalat Jumat di Masjid Istiqlal, Doakan Persatuan Umat dan Kembalinya Masjid Al Aqsa
Imam Besar Dunia Shalat Jumat di Masjid Istiqlal, Doakan Persatuan Umat dan Kembalinya Masjid Al Aqsa
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar