Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Biografi Syekh Yusuf Al-Makassari: Ulama, Sufi, dan Pejuang Keadilan yang Menembus Tiga Benua

Kompas.com, 29 April 2026, 10:12 WIB
Add on Google
Norma Desvia Rahman,
Farid Assifa

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Syekh Yusuf Al-Makassari lahir di Gowa, Sulawesi Selatan pada 3 Juli 1626. Ia memiliki nama lengkap Syekh Yusuf Abul Mahasin Tajul Khalwati Al-Makasari Al-Bantani, namun dalam sejarah lokal ia juga dikenal dengan gelar kehormatan Tuanta Salamaka ri Gowa yang berarti “guru agung penyelamat dari Gowa” .

Ia lahir di lingkungan kerajaan Gowa pada masa ketika Islam baru mengakar kuat di wilayah Sulawesi Selatan.

Sejak kecil, ia tumbuh dalam suasana istana yang religius dan sarat tradisi keilmuan. Hal ini membentuk karakter awalnya sebagai pribadi yang haus ilmu dan memiliki kepekaan spiritual tinggi.

Dalam beberapa riwayat, nama kecilnya adalah Muhammad Yusuf atau Abadin Tadia Tjoessoep, yang kemudian berubah seiring perjalanan intelektual dan spiritualnya.

Baca juga: Kisah Al-Jazari: Bapak Robotika Muslim, Pencipta Cikal Bakal Robot Modern

Perjalanan Intelektual dan Guru-Guru Syekh Yusuf

Salah satu aspek paling penting dalam kehidupan Syekh Yusuf adalah perjalanan panjangnya menuntut ilmu.

Ia tidak hanya belajar di Nusantara, tetapi juga melakukan rihlah ilmiah ke berbagai pusat peradaban Islam seperti Yaman, Makkah, Madinah, hingga Syam.

Dalam proses tersebut, ia berguru kepada banyak ulama besar dari berbagai tradisi keilmuan. Di antara guru-gurunya yang sering disebut dalam literatur sejarah adalah:

  • Syekh Jalaluddin al-Aidid
  • Syekh Ba-Alawi bin Abdullah al-Haddad
  • Syekh Ahmad al-Qusyasyi
  • Syekh Ibrahim al-Kurani
  • Syekh Yusuf Jamaluddin
  • Syekh Ali al-Zain al-Habsyi
  • Syekh Muhammad Hindi

Selain itu, dalam tradisi Nusantara, ia juga disebut pernah belajar dari ulama seperti Daeng Ri Tassamang di Gowa, serta memiliki jaringan keilmuan dengan Syekh Nuruddin ar-Raniri dan Syekh Abdurrauf as-Singkili melalui sanad tasawuf dan intelektual.

Jaringan gurunya ini menunjukkan bahwa Syekh Yusuf merupakan bagian dari “jaringan ulama internasional abad ke-17”, sebagaimana dijelaskan oleh Azyumardi Azra dalam Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII (2018).

Buku ini menegaskan bahwa ulama Nusantara saat itu tidak terisolasi, melainkan terhubung langsung dengan pusat keilmuan Islam dunia.

Kiprah Dakwah dan Peran Politik Keagamaan

Setelah menuntaskan pengembaraan intelektualnya, Syekh Yusuf kembali ke Nusantara dan mulai aktif dalam dakwah serta politik keislaman.

Ia kemudian berhubungan erat dengan Kesultanan Banten dan menjadi bagian penting dalam struktur keagamaan kerajaan.

Di Banten, ia berperan sebagai mufti dan penasihat spiritual Sultan Ageng Tirtayasa. Hubungan keduanya tidak hanya sebatas ulama dan penguasa, tetapi juga sahabat seperjuangan dalam menghadapi kolonialisme Belanda.

Menurut Martin van Bruinessen dalam Kitab Kuning, Pesantren, dan Tarekat (2015), Syekh Yusuf dikenal sebagai mujahid penentang Belanda, selain penyebar tarekat Khalwatiyah.

Dalam catatan sejarah, Syekh Yusuf turut memperkuat perlawanan Kesultanan Banten terhadap VOC.

Ia mengajarkan bahwa perjuangan melawan penindasan bukan sekadar politik, tetapi juga bagian dari amar ma’ruf nahi munkar dalam Islam.

Syekh Yusuf mengintegrasikan tasawuf dengan aqidah Ahlus Sunnah, sehingga dakwahnya tidak bersifat pasif, tetapi aktif dan membangun kesadaran sosial umat.

Baca juga: Kisah Siti Hajar, Keteguhan Perempuan dalam Ujian Keimanan

Penangkapan dan Pengasingan: Dari Nusantara ke Tiga Benua

Perjuangan Syekh Yusuf tidak berjalan tanpa risiko. Pada tahun 1683, setelah Belanda berhasil menaklukkan Kesultanan Banten, ia ditangkap dan diasingkan oleh VOC.

Perjalanan pengasingannya sangat panjang:

  • Sri Lanka (Ceylon)
  • Cape Town, Afrika Selatan

Di Cape Town, ia tidak hanya bertahan sebagai seorang ulama dalam pengasingan, tetapi juga menjadi pusat spiritual bagi komunitas Muslim awal yang terdiri dari budak dan pendatang.

Ia mengajarkan Islam, membangun kesadaran moral, serta menanamkan nilai keadilan dan kesetaraan di tengah situasi penindasan para tawanan, budak, dan masyarakat lokal.

Warisan inilah yang kemudian diakui secara resmi oleh negara Afrika Selatan berabad-abad setelah wafatnya.

Pada 23 September 2005, pemerintah Afrika Selatan menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada Syekh Yusuf.

Pengakuan ini tidak lepas dari peran besar tokoh anti-apartheid sekaligus presiden Afrika Selatan, Nelson Mandela, yang menilai Syekh Yusuf sebagai figur penting dalam sejarah spiritual dan perjuangan rakyat Afrika Selatan.

Ia bahkan dijuluki sebagai “salah seorang putra Afrika terbaik”, sebuah penghormatan yang menunjukkan bahwa kontribusi Syekh Yusuf tidak lagi dipandang sebagai milik Indonesia semata, tetapi sebagai bagian dari sejarah kemanusiaan global.

Pengakuan ini menjadi menarik, karena menunjukkan bahwa perjuangan berbasis nilai agama yang dilakukan Syekh Yusuf memiliki resonansi lintas zaman dan lintas budaya.

Apa yang ia tanamkan di abad ke-17, tetap hidup dalam semangat perlawanan terhadap ketidakadilan di abad modern.

Bahkan dalam buku Syekh Yusuf Makassar: Ulama, Sufi Pejuang karya Abu Hamid, menyebutnya sebagai salah satu peletak dasar komunitas Muslim di Afrika Selatan, karena dari ajarannya muncul generasi awal Muslim di wilayah tersebut.

Wafat dalam Pengasingan dan Warisan Perjuangan

Syekh Yusuf wafat pada 23 Mei 1699 di Cape Town, Afrika Selatan. Meski wafat jauh dari tanah kelahirannya, warisan perjuangannya justru melintasi batas geografis dan zaman.

Makamnya di Afrika Selatan hingga kini menjadi simbol sejarah Islam global dan penghormatan terhadap perjuangan anti-penjajahan berbasis spiritualitas.

Baca juga: Kisah Mansa Musa Pergi Haji 1324: Raja Terkaya yang Mengguncang Dunia

Syekh Yusuf: Ulama, Sufi, dan Pejuang Keadilan

Dalam sejarah Islam Nusantara, Syekh Yusuf tidak hanya dikenang sebagai ulama, tetapi juga sebagai simbol perjuangan keadilan dan kemerdekaan.

Ia menunjukkan bahwa dakwah tidak selalu terbatas pada mimbar dan kitab, tetapi juga dapat hadir dalam bentuk perlawanan terhadap ketidakadilan dan penjajahan.

Pemikiran tasawufnya menekankan bahwa spiritualitas harus selaras dengan aksi sosial. Dalam banyak catatan, ia mengajarkan bahwa tauhid bukan hanya keyakinan, tetapi juga kesadaran untuk menolak segala bentuk penindasan.

Pandangan ini sejalan dengan kajian dalam Syekh Yusuf Makassar: Ulama, Sufi Pejuang (Abu Hamid), yang menempatkan Syekh Yusuf sebagai tokoh yang menjembatani dimensi spiritual dan politik dalam Islam.

Warisan yang Menembus Zaman

Syekh Yusuf Al-Makassari adalah contoh nyata bagaimana seorang ulama dapat menjadi cahaya bagi banyak bangsa.

Dari Gowa hingga Cape Town, dari istana hingga pengasingan, ia membawa pesan yang sama: Islam sebagai agama yang membebaskan manusia dari ketidakadilan.

Kisahnya bukan hanya bagian dari sejarah, tetapi juga refleksi bahwa perjuangan agama, keadilan, dan kemerdekaan selalu berjalan beriringan dalam perjalanan umat manusia.

Warisan Syekh Yusuf hari ini tidak hanya hidup dalam buku sejarah, tetapi juga dalam semangat perlawanan terhadap ketidakadilan di berbagai belahan dunia.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Benarkah Harus Mandi Setelah Pulang Melayat? Ini Jawaban Ulama
Benarkah Harus Mandi Setelah Pulang Melayat? Ini Jawaban Ulama
Aktual
Amalan Tak Biasa Haji KH Achmad Chalwani: Tulis Nama di Ka'bah!
Amalan Tak Biasa Haji KH Achmad Chalwani: Tulis Nama di Ka'bah!
Aktual
20 Ucapan Belasungkawa Islami, Lengkap dengan Doa dan Dalilnya
20 Ucapan Belasungkawa Islami, Lengkap dengan Doa dan Dalilnya
Doa dan Niat
Imam Syafi’i: Jenius Sejak Kecil, Hafal Al-Qur’an Usia 7 Tahun & Hadis 9 Hari
Imam Syafi’i: Jenius Sejak Kecil, Hafal Al-Qur’an Usia 7 Tahun & Hadis 9 Hari
Aktual
Biografi Syekh Yusuf Al-Makassari: Ulama, Sufi, dan Pejuang Keadilan yang Menembus Tiga Benua
Biografi Syekh Yusuf Al-Makassari: Ulama, Sufi, dan Pejuang Keadilan yang Menembus Tiga Benua
Aktual
MUI: Korban Kecelakaan Kereta Bekasi Termasuk Syahid Akhirat, Ini Penjelasannya
MUI: Korban Kecelakaan Kereta Bekasi Termasuk Syahid Akhirat, Ini Penjelasannya
Aktual
Doa Bepergian Lengkap: Bacaan, Arti, dan Maknanya agar Perjalanan Aman
Doa Bepergian Lengkap: Bacaan, Arti, dan Maknanya agar Perjalanan Aman
Doa dan Niat
Ulama Makassar Syekh Yusuf Diakui Dunia, Menginspirasi Nelson Mandela
Ulama Makassar Syekh Yusuf Diakui Dunia, Menginspirasi Nelson Mandela
Aktual
Jemaah Haji Mulai Kirim Oleh-oleh ke Indonesia via Kargo, Berapa Tarifnya?
Jemaah Haji Mulai Kirim Oleh-oleh ke Indonesia via Kargo, Berapa Tarifnya?
Aktual
Haji Gratisan? Membongkar Stigma Petugas Haji
Haji Gratisan? Membongkar Stigma Petugas Haji
Aktual
260 Jemaah dari Iran Mulai Tiba di Arab Saudi untuk Laksanakan Ibadah Haji
260 Jemaah dari Iran Mulai Tiba di Arab Saudi untuk Laksanakan Ibadah Haji
Aktual
Gaza Terancam Krisis Oksigen, Satu-Satunya Pabrik di Gaza Utara Berisiko Tutup karena Beroperasi Tanpa Henti
Gaza Terancam Krisis Oksigen, Satu-Satunya Pabrik di Gaza Utara Berisiko Tutup karena Beroperasi Tanpa Henti
Aktual
Arab Saudi Soroti Situasi Selat Hormuz di DK PBB: Keamanan Navigasi Jadi Tanggung Jawab Bersama
Arab Saudi Soroti Situasi Selat Hormuz di DK PBB: Keamanan Navigasi Jadi Tanggung Jawab Bersama
Aktual
Doa dan Cara Meraih Haji Mabrur yang diharapkan Seluruh Jemaah Serta Tanda-Tandanya Setelah Kepulangan
Doa dan Cara Meraih Haji Mabrur yang diharapkan Seluruh Jemaah Serta Tanda-Tandanya Setelah Kepulangan
Doa dan Niat
PPIH Minta Jamaah Haji Atur Ritme Ibadah di Masjidil Haram agar Tidak Kelelahan
PPIH Minta Jamaah Haji Atur Ritme Ibadah di Masjidil Haram agar Tidak Kelelahan
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com