KOMPAS.com - Syekh Yusuf Al-Makassari lahir di Gowa, Sulawesi Selatan pada 3 Juli 1626. Ia memiliki nama lengkap Syekh Yusuf Abul Mahasin Tajul Khalwati Al-Makasari Al-Bantani, namun dalam sejarah lokal ia juga dikenal dengan gelar kehormatan Tuanta Salamaka ri Gowa yang berarti “guru agung penyelamat dari Gowa” .
Ia lahir di lingkungan kerajaan Gowa pada masa ketika Islam baru mengakar kuat di wilayah Sulawesi Selatan.
Sejak kecil, ia tumbuh dalam suasana istana yang religius dan sarat tradisi keilmuan. Hal ini membentuk karakter awalnya sebagai pribadi yang haus ilmu dan memiliki kepekaan spiritual tinggi.
Dalam beberapa riwayat, nama kecilnya adalah Muhammad Yusuf atau Abadin Tadia Tjoessoep, yang kemudian berubah seiring perjalanan intelektual dan spiritualnya.
Baca juga: Kisah Al-Jazari: Bapak Robotika Muslim, Pencipta Cikal Bakal Robot Modern
Salah satu aspek paling penting dalam kehidupan Syekh Yusuf adalah perjalanan panjangnya menuntut ilmu.
Ia tidak hanya belajar di Nusantara, tetapi juga melakukan rihlah ilmiah ke berbagai pusat peradaban Islam seperti Yaman, Makkah, Madinah, hingga Syam.
Dalam proses tersebut, ia berguru kepada banyak ulama besar dari berbagai tradisi keilmuan. Di antara guru-gurunya yang sering disebut dalam literatur sejarah adalah:
Selain itu, dalam tradisi Nusantara, ia juga disebut pernah belajar dari ulama seperti Daeng Ri Tassamang di Gowa, serta memiliki jaringan keilmuan dengan Syekh Nuruddin ar-Raniri dan Syekh Abdurrauf as-Singkili melalui sanad tasawuf dan intelektual.
Jaringan gurunya ini menunjukkan bahwa Syekh Yusuf merupakan bagian dari “jaringan ulama internasional abad ke-17”, sebagaimana dijelaskan oleh Azyumardi Azra dalam Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII (2018).
Buku ini menegaskan bahwa ulama Nusantara saat itu tidak terisolasi, melainkan terhubung langsung dengan pusat keilmuan Islam dunia.
Setelah menuntaskan pengembaraan intelektualnya, Syekh Yusuf kembali ke Nusantara dan mulai aktif dalam dakwah serta politik keislaman.
Ia kemudian berhubungan erat dengan Kesultanan Banten dan menjadi bagian penting dalam struktur keagamaan kerajaan.
Di Banten, ia berperan sebagai mufti dan penasihat spiritual Sultan Ageng Tirtayasa. Hubungan keduanya tidak hanya sebatas ulama dan penguasa, tetapi juga sahabat seperjuangan dalam menghadapi kolonialisme Belanda.
Menurut Martin van Bruinessen dalam Kitab Kuning, Pesantren, dan Tarekat (2015), Syekh Yusuf dikenal sebagai mujahid penentang Belanda, selain penyebar tarekat Khalwatiyah.
Dalam catatan sejarah, Syekh Yusuf turut memperkuat perlawanan Kesultanan Banten terhadap VOC.
Ia mengajarkan bahwa perjuangan melawan penindasan bukan sekadar politik, tetapi juga bagian dari amar ma’ruf nahi munkar dalam Islam.
Syekh Yusuf mengintegrasikan tasawuf dengan aqidah Ahlus Sunnah, sehingga dakwahnya tidak bersifat pasif, tetapi aktif dan membangun kesadaran sosial umat.
Baca juga: Kisah Siti Hajar, Keteguhan Perempuan dalam Ujian Keimanan
Perjuangan Syekh Yusuf tidak berjalan tanpa risiko. Pada tahun 1683, setelah Belanda berhasil menaklukkan Kesultanan Banten, ia ditangkap dan diasingkan oleh VOC.
Perjalanan pengasingannya sangat panjang:
Di Cape Town, ia tidak hanya bertahan sebagai seorang ulama dalam pengasingan, tetapi juga menjadi pusat spiritual bagi komunitas Muslim awal yang terdiri dari budak dan pendatang.
Ia mengajarkan Islam, membangun kesadaran moral, serta menanamkan nilai keadilan dan kesetaraan di tengah situasi penindasan para tawanan, budak, dan masyarakat lokal.
Warisan inilah yang kemudian diakui secara resmi oleh negara Afrika Selatan berabad-abad setelah wafatnya.
Pada 23 September 2005, pemerintah Afrika Selatan menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada Syekh Yusuf.
Pengakuan ini tidak lepas dari peran besar tokoh anti-apartheid sekaligus presiden Afrika Selatan, Nelson Mandela, yang menilai Syekh Yusuf sebagai figur penting dalam sejarah spiritual dan perjuangan rakyat Afrika Selatan.
Ia bahkan dijuluki sebagai “salah seorang putra Afrika terbaik”, sebuah penghormatan yang menunjukkan bahwa kontribusi Syekh Yusuf tidak lagi dipandang sebagai milik Indonesia semata, tetapi sebagai bagian dari sejarah kemanusiaan global.
Pengakuan ini menjadi menarik, karena menunjukkan bahwa perjuangan berbasis nilai agama yang dilakukan Syekh Yusuf memiliki resonansi lintas zaman dan lintas budaya.
Apa yang ia tanamkan di abad ke-17, tetap hidup dalam semangat perlawanan terhadap ketidakadilan di abad modern.
Bahkan dalam buku Syekh Yusuf Makassar: Ulama, Sufi Pejuang karya Abu Hamid, menyebutnya sebagai salah satu peletak dasar komunitas Muslim di Afrika Selatan, karena dari ajarannya muncul generasi awal Muslim di wilayah tersebut.
Syekh Yusuf wafat pada 23 Mei 1699 di Cape Town, Afrika Selatan. Meski wafat jauh dari tanah kelahirannya, warisan perjuangannya justru melintasi batas geografis dan zaman.
Makamnya di Afrika Selatan hingga kini menjadi simbol sejarah Islam global dan penghormatan terhadap perjuangan anti-penjajahan berbasis spiritualitas.
Baca juga: Kisah Mansa Musa Pergi Haji 1324: Raja Terkaya yang Mengguncang Dunia
Dalam sejarah Islam Nusantara, Syekh Yusuf tidak hanya dikenang sebagai ulama, tetapi juga sebagai simbol perjuangan keadilan dan kemerdekaan.
Ia menunjukkan bahwa dakwah tidak selalu terbatas pada mimbar dan kitab, tetapi juga dapat hadir dalam bentuk perlawanan terhadap ketidakadilan dan penjajahan.
Pemikiran tasawufnya menekankan bahwa spiritualitas harus selaras dengan aksi sosial. Dalam banyak catatan, ia mengajarkan bahwa tauhid bukan hanya keyakinan, tetapi juga kesadaran untuk menolak segala bentuk penindasan.
Pandangan ini sejalan dengan kajian dalam Syekh Yusuf Makassar: Ulama, Sufi Pejuang (Abu Hamid), yang menempatkan Syekh Yusuf sebagai tokoh yang menjembatani dimensi spiritual dan politik dalam Islam.
Syekh Yusuf Al-Makassari adalah contoh nyata bagaimana seorang ulama dapat menjadi cahaya bagi banyak bangsa.
Dari Gowa hingga Cape Town, dari istana hingga pengasingan, ia membawa pesan yang sama: Islam sebagai agama yang membebaskan manusia dari ketidakadilan.
Kisahnya bukan hanya bagian dari sejarah, tetapi juga refleksi bahwa perjuangan agama, keadilan, dan kemerdekaan selalu berjalan beriringan dalam perjalanan umat manusia.
Warisan Syekh Yusuf hari ini tidak hanya hidup dalam buku sejarah, tetapi juga dalam semangat perlawanan terhadap ketidakadilan di berbagai belahan dunia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang