Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
KH. Imam Jazuli, Lc. MA
Akademisi dan Pengasuh Ponpes Bina Insan Mulia Cirebon

Alumni Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri; Alumni Universitas Al-Azhar, Mesir, Dept. Theology and Philosophy; Alumni Universiti Kebangsaan Malaysia, Dept. Politic and Strategy; Alumni Universiti Malaya, Dept. International Strategic and Defence Studies; Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon; Wakil Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia); Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Periode 2010-2015.

Lirboyo, dari "Sarang Penyamun" Menjelma Benteng Nusantara

Kompas.com, 7 Mei 2026, 19:35 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

KITA bisa bayangkan sebuah tempat di barat Sungai Brantas, Kediri, Jawa Timur, pada awal abad ke-20. Tempat itu bernama Desa Lirboyo. Kemudian masyarakat sekitar sering menyebutnya dengan Nerboyo. Sebutan itu adalah pelesetan dari "nar" (api) dan "boyo" (buaya/bahaya). Narasi masyarakat setempat mengisahkan desa ini sebagai sarang penyamun, perampok, dan tempat angker yang jauh dari aroma wangi kitab suci.

Dan, sejarah seringkali ditulis oleh mereka yang berani membawa lentera ke tengah kegelapan. Pada tahun 1910, seorang alim asal Magelang, KH Abdul Karim (Mbah Manab), menantu dari Kiai Sholeh Banjarmelati, memutuskan menetap di desa tersebut atas dorongan mertuanya. Ini bukan sekadar perpindahan alamat. Ini adalah proyek "peradaban".

Mbah Manab tidak membawa pedang, melainkan secarik surau kecil dan kedalaman ilmu yang ditempanya selama belasan tahun di pondok-pondok Jawa Timur—termasuk di bawah bimbingan Syaikhona Kholil Bangkalan. Alasannya sederhana namun menghunjam: Perubahan tidak terjadi dengan menjauhi keburukan, tapi dengan mendekat dan mengubahnya.

Baca juga: Merawat Akar Jam’iyyah: Mengapa PBNU Butuh Representasi Ulama Luar Jawa?

Tahun 1913, secara formal pondok itu berdiri. Narasi yang berkembang di kalangan santri, tanah Lirboyo sempat diazani selama berhari-hari untuk "membersihkan" dari pengaruh negatif. Hasilnya? Ajaib. Dalam hitungan dekade, Lirboyo—yang namanya kemudian diperhalus dari Nerboyo—berubah dari desa angker menjadi pusat studi Islam salaf terbesar di Jawa Timur.

Data menunjukkan, dari hanya beberapa santri pada tahun-tahun awal (santri pertamanya bernama Umar dari Madiun), kini Lirboyo menampung lebih dari 40.000 santri, dengan sekitar 25.000 yang menetap (mukim). Ini adalah ledakan peradaban.

Pertanyaannya, bagaimana sebuah lembaga yang bermula dari sawah dan hutan, tanpa dana pemerintah yang terstruktur, bisa mengelola 40 ribu manusia sekaligus?Jawabannya adalah kemandirian dan kepercayaan. KH Abdul Karim, dalam sebuah kisah yang masyhur, tetap mencangkul di sawah meski santrinya sudah ribuan.

Pendidikan di Lirboyo adalah perpaduan antara ketaatan, tirakat (spiritualitas), dan disiplin tinggi. Sistem madrasah yang dimulai tahun 1925, Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien, menjadi tulang punggung metode pengajaran kitab kuning yang tertib. Selain itu, santri dididik untuk mandiri. Lirboyo juga memiliki unit usaha, dan kini santri dibekali teknologi, bahkan menggunakan aplikasi "Saldo Sangu" untuk transaksi harian santri.

Jasa Lirboyo pada masyarakat sekitar bukan hanya menjadikan kawasan santri dan kondisi sosil yang lebih beradad, bahkan mencetak ulama, tapi juga menanamkan jiwa patriotiame dan nasionalosme. Saat penjajah Belanda dan Jepang menindas, Lirboyo menjelma menjadi basis perlawanan. Data historis menunjukkan, saat Belanda kolonial menduduki wilayah Kediri, pesantren adalah pusat pertahanan.

Puncaknya, ketika Resolusi Jihad dikumandangkan oleh KH Hasyim Asy’ari, Lirboyo di bawah komando KH Mahrus Aly (menantu Mbah Manab) mengirimkan 97 santri langsung ke medan perang 10 November 1945 di Surabaya. Pemuda-pemuda yang biasa memegang kitab, harus memegang bambu runcing dan senjata rampasan Jepang. Mereka melucuti tentara Jepang sebelum Sekutu datang. Lirboyo adalah saksi bahwa nasionalisme lahir dari dalam surau.

Lirboyo mengubah lanskap sosial ekonomi Kediri. Desa Lirboyo yang dulunya rawan, kini tumbuh menjadi kawasan ekonomi yang hidup karena puluhan ribu wali santri yang datang dan pergi. Jasa terbesarnya diantaranya adalah mengubah masyarakat rawan menjadi aman.

Baca juga: Selamat Harlah Ke-76 Fatayat: Pemudi NU, Penggerak Bangsa, Pelayan Umat

Lirboyo adalah bukti bahwa kesalehan dan nasionalisme adalah dua sisi mata uang yang sama. Saat ini, dengan usianya yang sudah lebih dari 110 tahun, Lirboyo tetap kokoh. Perawatan gedung-gedung tua, pembangunan asrama baru yang megah, bahkan renovasi yang melibatkan tenaga profesional, membuktikan Lirboyo siap menantang zaman tanpa kehilangan identitas salafnya.

Mbah Manab telah menanam benih, Kiai Marzuki dan Kiai Mahrus menyiramnya, dan kini para dzuriyah (keturunan) meneruskan lentera itu, dan menyinari Nusantara. Penulis merasa bersyukur dan bangga, menjadi bagian dari yang mendapatkan lentera itu. Wallahu'alam bishawab

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Aktual
Di Hadapan Para Imam Besar di Istiqlal, Imam Masjid Al Aqsa Sampaikan Pesan Persatuan
Di Hadapan Para Imam Besar di Istiqlal, Imam Masjid Al Aqsa Sampaikan Pesan Persatuan
Aktual
MUI Akan Luncurkan Wajib Halal Oktober di Bengkulu pada 1 Oktober 2026
MUI Akan Luncurkan Wajib Halal Oktober di Bengkulu pada 1 Oktober 2026
Aktual
Imam Besar Dunia Shalat Jumat di Masjid Istiqlal, Doakan Persatuan Umat dan Kembalinya Masjid Al Aqsa
Imam Besar Dunia Shalat Jumat di Masjid Istiqlal, Doakan Persatuan Umat dan Kembalinya Masjid Al Aqsa
Aktual
Menag Ajak Imam Gunakan Bahasa Agama untuk Bangun Kesadaran Menjaga Lingkungan
Menag Ajak Imam Gunakan Bahasa Agama untuk Bangun Kesadaran Menjaga Lingkungan
Aktual
Menag: Imam Harus Jadi Jembatan Perdamaian dan Diplomat Komunitas
Menag: Imam Harus Jadi Jembatan Perdamaian dan Diplomat Komunitas
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar