Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Khutbah Jumat 8 Mei 2026: Mendidik Anak dengan Kasih Sayang Bukan Kekerasan

Kompas.com, 8 Mei 2026, 08:56 WIB
Khairina

Editor

Sumber MUI

KOMPAS.com-Anak merupakan amanah besar yang dititipkan Allah SWT kepada orang tua.

Kehadiran anak bukan hanya menjadi pelengkap keluarga, melainkan juga tanggung jawab yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Dalam Islam, mendidik anak tidak cukup hanya dengan memenuhi kebutuhan lahiriah, tetapi juga harus dilakukan dengan kasih sayang, kelembutan, dan keteladanan.

Khutbah Jumat yang disusun KH Miftahul Huda, Sekretaris Komisi Fatwa MUI, seperti dimuat dalam laman MUI mengingatkan pentingnya memutus rantai kekerasan dalam keluarga agar anak-anak tumbuh dalam suasana aman, sehat, dan penuh rahmah.

Melalui khutbah ini, jamaah diajak memahami bahwa kekerasan, bentakan, pengabaian, dan pola asuh yang keras dapat meninggalkan luka batin yang panjang bagi anak.

Baca juga: Khutbah Jumat Menyentuh Hati: Cahaya Keadilan bagi Kaum yang Lemah

Khutbah I

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ الرَّحْمَةَ أَسَاسَ هٰذَا الدِّينِ، وَجَعَلَ الْأُسْرَةَ مَهْدَ التَّرْبِيَةِ، وَجَعَلَ الْأَبْنَاءَ أَمَانَةً فِي أَعْنَاقِ الْوَالِدَيْنِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، الَّذِي عَلَّمَنَا كَيْفَ نَكُونُ رُحَمَاءَ، وَكَيْفَ نُرَبِّي أَبْنَاءَنَا بِالْمَحَبَّةِ لَا بِالْقَسْوَةِ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّ التَّقْوَى هِيَ سَبِيلُ النَّجَاةِ وَمِفْتَاحُ السَّعَادَةِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ)

Jamaah yang Dirahmati Allah,

Di antara nikmat terbesar yang Allah berikan kepada kita adalah hadirnya anak-anak dalam kehidupan kita. Mereka bukan sekadar penerus keturunan, tetapi cerminan dari cara kita mendidik, memperlakukan, dan menyayangi mereka.

Sering kali kita sibuk mempersiapkan masa depan mereka, tetapi lupa memastikan bahwa mereka tumbuh dalam pelukan kasih sayang, bukan tekanan dan ketakutan. Sehingga sering kita dapati ada anak yang memberontak, hubungan orang tua dan anak yang renggang, bahkan kekerasan dalam rumah tangga.

Kita juga sering lupa bertanya: Apakah anak-anak kita sudah kita didik dengan kasih sayang, atau justru dengan kemarahan? Padahal Islam menegaskan bahwa pendidikan terbaik adalah pendidikan yang dibangun di atas rahmah (kasih sayang), bukan kekerasan.

Baca juga: Khutbah Jumat 1 Mei 2026: Pentingnya Menjaga Lisan dalam Islam

Jamaah yang Dirahmati Allah,

Anak yang dididik dengan cara kekerasan akan berdampak sangat besar, yaitu trauma yang diwariskan kepada anak-anak kita.

Trauma bukan hanya tentang luka fisik, tetapi juga luka batin, bentakan yang berulang, hinaan yang merendahkan, kekerasan dalam rumah tangga, atau pengabaian kasih sayang.

Semua itu bisa membekas dalam jiwa anak, bahkan hingga dewasa. Padahal, Islam mengajarkan kasih sayang sebagai fondasi utama pendidikan.

Allah SWT berfirman:

وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَجَعَلَ لَكُم مِّنْ أَزْوَاجِكُم بَنِينَ وَحَفَدَةً

“Allah menjadikan bagimu pasangan dari jenismu sendiri dan dari pasangan itu Dia memberikan anak-anak dan cucu-cucu.” (QS. An-Nahl: 72)

Ayat ini menunjukkan bahwa anak adalah amanah, bukan pelampiasan emosi.

Jamaah Sekalian,

Rasulullah SAW adalah teladan dalam memperlakukan anak. Diriwayatkan bahwa beliau mencium cucunya, Hasan dan Husain. Lalu seorang sahabat berkata, “Saya punya sepuluh anak, tidak pernah saya cium satu pun.” Mendengar hal itu, Rasulullah pun bersabda:

مَنْ لَا يَرْحَمْ لَا يُرْحَمْ

“Siapa yang tidak menyayangi, tidak akan disayangi.” (HR Bukhari dan Muslim)

Ini menunjukkan bahwa kasih sayang bukan kelemahan, tetapi kekuatan dalam mendidik.

Jamaah yang Dimuliakan Allah,

Sering kali seseorang berkata: “Saya dulu dididik keras, dan saya berhasil.” Namun, yang jarang disadari, mungkin ia berhasil secara ekonomi, tetapi menyimpan luka batin, mudah marah, sulit mencintai, atau mengulang pola yang sama kepada anaknya.

Inilah yang disebut warisan trauma lintas generasi. Pada hakikatnya, Islam tidak mengajarkan hal itu. Islam mengajarkan rahmah, yaitu kelembutan dan pendekatan yang penuh hikmah.

Allah SWT berfirman:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ

“Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) bersikap lemah lembut kepada mereka.” (QS. Ali Imran: 159)

Jika rasul saja diperintahkan lembut, apalagi kita kepada anak-anak kita. Karena itu, hal ini harus benar-benar diperhatikan. Keteladanan nabi menjadi acuan dalam mendidik anak-anak kita.

Jamaah yang Dirahmati Allah,

Sudah saatnya kita memutus rantai trauma itu. Ada beberapa langkah yang bisa kita lakukan, seperti menahan amarah saat mendidik anak, mengganti bentakan dengan komunikasi, memberi pelukan bukan hukuman berlebihan, meminta maaf kepada anak jika kita salah, dan menjadikan rumah sebagai tempat aman bukan tempat ketakutan

Semua itu demi kebaikan anak-anak kita sendiri. Sebab anak yang tumbuh dengan kasih sayang akan menjadi pribadi yang kuat dan penuh empati. Sebaliknya, anak yang dirundung trauma akan terhambat perkembangannya dan sedikit kepeduliannya.

وَأَقُولُ قَوْلِي هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا ذُرِّيَّتَنَا، وَاجْعَلْهُمْ قُرَّةَ أَعْيُنٍ لَنَا، وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. اللَّهُمَّ اجْعَلْ بُيُوتَنَا بُيُوتًا مَلِيئَةً بِالْمَحَبَّةِ وَالرَّحْمَةِ، وَجَنِّبْنَا الْعُنْفَ وَالظُّلْمَ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ، فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Aktual
Di Hadapan Para Imam Besar di Istiqlal, Imam Masjid Al Aqsa Sampaikan Pesan Persatuan
Di Hadapan Para Imam Besar di Istiqlal, Imam Masjid Al Aqsa Sampaikan Pesan Persatuan
Aktual
MUI Akan Luncurkan Wajib Halal Oktober di Bengkulu pada 1 Oktober 2026
MUI Akan Luncurkan Wajib Halal Oktober di Bengkulu pada 1 Oktober 2026
Aktual
Imam Besar Dunia Shalat Jumat di Masjid Istiqlal, Doakan Persatuan Umat dan Kembalinya Masjid Al Aqsa
Imam Besar Dunia Shalat Jumat di Masjid Istiqlal, Doakan Persatuan Umat dan Kembalinya Masjid Al Aqsa
Aktual
Menag Ajak Imam Gunakan Bahasa Agama untuk Bangun Kesadaran Menjaga Lingkungan
Menag Ajak Imam Gunakan Bahasa Agama untuk Bangun Kesadaran Menjaga Lingkungan
Aktual
Menag: Imam Harus Jadi Jembatan Perdamaian dan Diplomat Komunitas
Menag: Imam Harus Jadi Jembatan Perdamaian dan Diplomat Komunitas
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar