Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Museum Biografi Nabi Muhammad di Madinah, Wisata Religi Futuristik Dekat Masjid Nabawi

Kompas.com, 8 Mei 2026, 15:00 WIB
Pythag Kurniati,
Khairina

Tim Redaksi

MADINAH, KOMPAS.com- Menginjakkan kaki di Kota Suci Madinah tentu memantik kerinduan mendalam kepada sosok agung Nabi Muhammad SAW.

Di Kota Nabi ini, jemaah haji maupun umrah bisa semakin mengenal kehidupan Rasulullah melalui Museum Biografi Nabi Muhammad dan Peradaban Islam.

Bak lorong waktu, pengunjung akan dibawa melintasi zaman kembali ke abad ke-7 Masehi. Tepat di pelataran Masjid Nabawi, tak jauh dari Gerbang 307, pengunjung akan menemukan Pameran dan Museum Internasional Biografi Nabi dan Peradaban Islam (The International Fair and Museum of the Prophet's Biography and Islamic Civilization).

Baca juga: Saat Lettu Azis Bantu Jemaah Haji Lansia Aljazair di Madinah, Kemanusiaan Tak Kenal Batas

Tak ada museum dengan etalase kaca yang kaku. Atas kerja sama Liga Muslim Dunia, tempat ini menawarkan pendekatan yang jauh lebih futuristik. Ruang pamer edukatif ini menyulap riwayat agung kenabian menjadi pengalaman yang menggugah batin.

“Museum ini khusus membahas kehidupan Nabi Muhammad SAW. Pengunjung akan dipandu untuk belajar tentang kehidupan Rasulullah dan juga tentang Madinah pada masa beliau,” ungkap Muhammad Adz Dzahabie, salah satu pemandu.

Dua Fase Tur

Secara garis besar, tur di museum ini terbagi ke dalam dua fase. Yang pertama menyoroti dimensi personal sang utusan Allah, mulai dari silsilah keluarga, ciri fisik, busana, perabotan rumah, hingga racikan pengobatan alami yang kerap beliau gunakan. Pada fase kedua, pengunjung diajak menyusuri tata ruang tata Kota Madinah di era kenabian.

Pengalaman kian memukau ketika teknologi seperti magic box dan virtual reality (VR) mengambil alih visualisasi. Peziarah seakan berdiri langsung di dalam bilik Rasulullah.

Berbagai detail tersaji secara presisi, mulai dari tinggi atap, bentuk pintu, letak tempayan air, hingga tata letak makam yang kini berdampingan harmonis dengan peristirahatan sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab.

“Di sini ada berbagai layar interaktif untuk memperkenalkan sejarah kehidupan Nabi Muhammad SAW dengan berbagai tema. Ada juga bagian yang menggambarkan Madinah di masa Rasul, Masjid Nabawi, dan kamar Rasulullah SAW,” kata Adz Dzahabie menjelaskan kecanggihan fasilitas tersebut.

Baca juga: Cuaca Ekstrem di Madinah, Suhu Tembus 40°C, Ini Tips Agar Tidak Tumbang

Keakuratan narasi sejarah yang ditampilkan bukanlah hasil kerja semalam. Selama kurang lebih dua dekade, para cendekiawan memeras keringat mengkaji literatur yang bersumber mutlak pada Al-Qur'an dan hadis untuk merangkai visualisasi yang paripurna.

“Tujuan didirikannya museum ini adalah mengenalkan kembali kehidupan Nabi Muhammad SAW, yang menjadi teladan bagi umat Islam dan seluruh umat manusia,” tutur Adz Dzahabie.

Ramah bagi WNI

Kabar baik bagi jemaah Tanah Air, tersedia layanan pemandu dari berbagai latar belakang bahasa, mulai dari Arab, Inggris, Rusia, Prancis, Turki, Urdu, termasuk bahasa Indonesia. Khusus tur berbahasa Indonesia, ada jadwal tertentu yang harus dipastikan oleh pengunjung.

Proyek edukasi ini pun tidak hanya di Madinah, melainkan dapat ditemukan di Makkah, Maroko, hingga Senegal. Dengan demikian, diharapkan umat Islam bisa lebih mudah meneladani sang manusia paling sempurna.

“Sebagai umat muslim, kita perlu mempelajari kehidupan Rasulullah SAW agar bisa meniru jejak beliau dan menjadi pribadi yang lebih baik,” ucapnya.

Baca juga: Jemaah Haji Khusus Indonesia Mulai Tiba di Madinah, Masa Tinggal Lebih Singkat

Bagi jemaah yang ingin merasakan pengalaman spiritual visual ini, tiket masuknya dibanderol seharga 40 riyal atau sekitar Rp 180.000 untuk akses satu lantai. Bagi yang ingin menjelajah dengan paket lengkap akan dibanderol 70 riyal atau sekitar Rp 315.000.

Pemesanan tiketnya pun sangat praktis, bisa diakses secara daring melalui situs resmi maupun dibeli langsung di lokasi. Jadi, jangan lupa mampir ke museum ini ketika di Tanah Suci.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
Aktual
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar