KOMPAS.com – Di tengah padatnya lautan manusia di Mina, jutaan jemaah haji dari berbagai negara menjalankan salah satu ritual paling ikonik dalam ibadah haji, yaitu lempar jumrah.
Dari kejauhan, prosesi ini terlihat sederhana: jemaah melempar batu-batu kecil ke tiga titik tertentu.
Namun di balik ritual tersebut, tersimpan sejarah panjang, simbol spiritual mendalam, sekaligus aturan yang cukup rinci.
Salah satu pertanyaan yang paling sering muncul setiap musim haji adalah berapa jumlah kerikil yang sebenarnya dibutuhkan untuk lempar jumrah?
Tidak sedikit jemaah yang baru pertama kali berhaji masih kebingungan mengenai jumlah batu, waktu pelaksanaan, hingga perbedaan antara nafar awal dan nafar tsani. Berikut penjelasan lengkapnya.
Baca juga: Jemaah Haji Kini Lebih Sejuk, Teknologi Kabut Canggih Dipasang di Jamarat
Lempar jumrah merupakan salah satu wajib haji yang dilakukan di kawasan Mina pada tanggal 10 hingga 13 Dzulhijjah.
Ritual ini dilakukan dengan melempar batu-batu kecil ke tiga tempat yang disebut Jumrah Ula, Jumrah Wustha, dan Jumrah Aqabah.
Dikutip dari buku Ensiklopedia Fiqih Haji dan Umrah edisi revisi karya Agus Arifin, lempar jumrah merupakan simbol perlawanan terhadap godaan setan dan bentuk keteguhan iman kepada Allah SWT.
Ibadah ini meneladani kisah Nabi Ibrahim AS ketika mendapat ujian besar dari Allah SWT untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail AS.
Dalam perjalanan melaksanakan perintah tersebut, Nabi Ibrahim disebut beberapa kali digoda setan agar mengurungkan niatnya.
Namun godaan itu ditolak dengan melempar batu ke arah setan.
Peristiwa inilah yang kemudian menjadi dasar disyariatkannya lempar jumrah dalam rangkaian ibadah haji.
Dalam buku Rahasia Haji dan Umrah karya Imam Al-Ghazali dijelaskan bahwa lempar jumrah bukan sekadar melempar batu secara fisik, tetapi juga simbol membuang sifat buruk, hawa nafsu, dan bisikan setan dari dalam diri manusia.
Oleh karena itu, ibadah ini memiliki makna spiritual yang sangat dalam bagi setiap Muslim.
Baca juga: Kumpulan Doa Haji dan Umrah Lengkap: Arab, Latin, Arti Sesuai Sunnah
Prosesi lempar jumrah dilakukan di Mina, sebuah kawasan yang berada tidak jauh dari Mekkah dan menjadi lokasi penting dalam rangkaian puncak ibadah haji.
Di tempat ini terdapat tiga jumrah utama, yaitu:
Merupakan jumrah pertama yang dilempar jemaah pada hari-hari tasyrik.
Jumrah kedua yang berada di tengah.
Jumrah terbesar dan terakhir yang dilempar.
Ketiga lokasi tersebut kini telah dibangun secara modern oleh pemerintah Arab Saudi untuk mengurangi kepadatan dan menjaga keselamatan jemaah.
Baca juga: Dzikir dan Doa Hari Arafah, Bacaan yang Dianjurkan Saat Wukuf
Merujuk buku Buku Pintar dan Praktis Haji & Umrah: Lengkap Sesuai Sunnah karya Ratih Puspitawati, jumlah kerikil yang dibutuhkan jemaah tergantung pada pilihan nafar dalam pelaksanaan haji.
Pada Hari Raya Idul Adha atau 10 Dzulhijjah, jemaah hanya melempar Jumrah Aqabah sebanyak tujuh butir kerikil.
Prosesi ini biasanya dilakukan setelah jemaah kembali dari Muzdalifah menuju Mina.
Selanjutnya, pada tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah atau yang dikenal sebagai hari tasyrik, jemaah melempar tiga jumrah sekaligus.
Masing-masing jumrah dilempar tujuh kali.
Artinya, dalam satu hari jemaah membutuhkan:
Totalnya menjadi 21 butir kerikil per hari.
Dalam pelaksanaan haji, terdapat dua pilihan bagi jemaah ketika berada di Mina, yakni nafar awal dan nafar tsani.
Nafar awal adalah pilihan meninggalkan Mina lebih cepat, yakni setelah melempar jumrah pada 12 Dzulhijjah sebelum matahari terbenam.
Jika memilih nafar awal, maka jumlah kerikil yang dibutuhkan adalah:
Total: 49 butir kerikil.
Nafar tsani berarti jemaah tetap bermalam di Mina hingga 13 Dzulhijjah dan melanjutkan lempar jumrah pada hari terakhir.
Jumlah kerikilnya menjadi:
Total: 70 butir kerikil.
Banyak orang membayangkan lempar jumrah dilakukan dengan batu besar. Padahal, batu yang digunakan justru berukuran kecil.
Dalam kitab-kitab fikih dijelaskan bahwa kerikil yang digunakan idealnya seukuran biji kacang atau ujung jari.
Kerikil biasanya diambil di Muzdalifah setelah jemaah bermalam di sana. Namun sebagian ulama membolehkan mengambil batu dari area Mina atau tempat lain yang suci.
Hal ini menunjukkan bahwa inti ibadah bukan terletak pada kerasnya lemparan, tetapi pada ketaatan menjalankan syariat dan makna simbolik di balik ritual tersebut.
Baca juga: Tata Cara Sa’i Lengkap: Doa dari Safa ke Marwah 7 Putaran
Lempar jumrah juga menjadi salah satu momen paling menantang dalam ibadah haji karena jutaan jemaah berkumpul di lokasi yang sama dalam waktu berdekatan.
Karena itu, pemerintah Arab Saudi setiap tahun terus memperbaiki infrastruktur Jamarat untuk mengurangi risiko kepadatan.
Dalam buku Fiqih Sunnah Haji dan Umrah karya Syaikh Sayyid Sabiq dijelaskan bahwa Islam sangat menekankan keselamatan jiwa dalam pelaksanaan ibadah. Karena itu, jemaah dianjurkan tidak memaksakan diri dan tetap mengikuti arahan petugas.
Selain menjadi simbol melawan setan, lempar jumrah juga melatih kesabaran, disiplin, serta kemampuan menahan emosi di tengah keramaian jutaan manusia.
Bagi banyak jemaah, lempar jumrah bukan sekadar ritual tahunan. Di balik tujuh butir kerikil yang dilempar, ada simbol penolakan terhadap kesombongan, amarah, iri hati, dan berbagai sifat buruk manusia.
Karena itu, para ulama sering mengingatkan bahwa inti lempar jumrah bukanlah mengenai seberapa keras seseorang melempar batu, tetapi sejauh mana ia mampu “melempar” hawa nafsu dan godaan dalam kehidupannya sehari-hari.
Di tengah panasnya Mina dan padatnya jutaan manusia, ritual ini menjadi pengingat bahwa perjuangan terbesar manusia sejatinya adalah melawan godaan dalam dirinya sendiri.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang