Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Berapa Jumlah Kerikil Lempar Jumrah? Ini Penjelasan Lengkapnya

Kompas.com, 9 Mei 2026, 15:11 WIB
Add on Google
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Di tengah padatnya lautan manusia di Mina, jutaan jemaah haji dari berbagai negara menjalankan salah satu ritual paling ikonik dalam ibadah haji, yaitu lempar jumrah.

Dari kejauhan, prosesi ini terlihat sederhana: jemaah melempar batu-batu kecil ke tiga titik tertentu.

Namun di balik ritual tersebut, tersimpan sejarah panjang, simbol spiritual mendalam, sekaligus aturan yang cukup rinci.

Salah satu pertanyaan yang paling sering muncul setiap musim haji adalah berapa jumlah kerikil yang sebenarnya dibutuhkan untuk lempar jumrah?

Tidak sedikit jemaah yang baru pertama kali berhaji masih kebingungan mengenai jumlah batu, waktu pelaksanaan, hingga perbedaan antara nafar awal dan nafar tsani. Berikut penjelasan lengkapnya.

Baca juga: Jemaah Haji Kini Lebih Sejuk, Teknologi Kabut Canggih Dipasang di Jamarat

Apa Itu Lempar Jumrah?

Lempar jumrah merupakan salah satu wajib haji yang dilakukan di kawasan Mina pada tanggal 10 hingga 13 Dzulhijjah.

Ritual ini dilakukan dengan melempar batu-batu kecil ke tiga tempat yang disebut Jumrah Ula, Jumrah Wustha, dan Jumrah Aqabah.

Dikutip dari buku Ensiklopedia Fiqih Haji dan Umrah edisi revisi karya Agus Arifin, lempar jumrah merupakan simbol perlawanan terhadap godaan setan dan bentuk keteguhan iman kepada Allah SWT.

Ibadah ini meneladani kisah Nabi Ibrahim AS ketika mendapat ujian besar dari Allah SWT untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail AS.

Dalam perjalanan melaksanakan perintah tersebut, Nabi Ibrahim disebut beberapa kali digoda setan agar mengurungkan niatnya.

Namun godaan itu ditolak dengan melempar batu ke arah setan.

Peristiwa inilah yang kemudian menjadi dasar disyariatkannya lempar jumrah dalam rangkaian ibadah haji.

Dalam buku Rahasia Haji dan Umrah karya Imam Al-Ghazali dijelaskan bahwa lempar jumrah bukan sekadar melempar batu secara fisik, tetapi juga simbol membuang sifat buruk, hawa nafsu, dan bisikan setan dari dalam diri manusia.

Oleh karena itu, ibadah ini memiliki makna spiritual yang sangat dalam bagi setiap Muslim.

Baca juga: Kumpulan Doa Haji dan Umrah Lengkap: Arab, Latin, Arti Sesuai Sunnah

Di Mana Lokasi Lempar Jumrah Dilaksanakan?

Prosesi lempar jumrah dilakukan di Mina, sebuah kawasan yang berada tidak jauh dari Mekkah dan menjadi lokasi penting dalam rangkaian puncak ibadah haji.

Di tempat ini terdapat tiga jumrah utama, yaitu:

1. Jumrah Ula

Merupakan jumrah pertama yang dilempar jemaah pada hari-hari tasyrik.

2. Jumrah Wustha

Jumrah kedua yang berada di tengah.

3. Jumrah Aqabah

Jumrah terbesar dan terakhir yang dilempar.

Ketiga lokasi tersebut kini telah dibangun secara modern oleh pemerintah Arab Saudi untuk mengurangi kepadatan dan menjaga keselamatan jemaah.

Baca juga: Dzikir dan Doa Hari Arafah, Bacaan yang Dianjurkan Saat Wukuf

Berapa Jumlah Kerikil yang Dibutuhkan?

Merujuk buku Buku Pintar dan Praktis Haji & Umrah: Lengkap Sesuai Sunnah karya Ratih Puspitawati, jumlah kerikil yang dibutuhkan jemaah tergantung pada pilihan nafar dalam pelaksanaan haji.

Lempar Jumrah pada 10 Dzulhijjah

Pada Hari Raya Idul Adha atau 10 Dzulhijjah, jemaah hanya melempar Jumrah Aqabah sebanyak tujuh butir kerikil.

Prosesi ini biasanya dilakukan setelah jemaah kembali dari Muzdalifah menuju Mina.

Lempar Jumrah Hari Tasyrik

Selanjutnya, pada tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah atau yang dikenal sebagai hari tasyrik, jemaah melempar tiga jumrah sekaligus.

Masing-masing jumrah dilempar tujuh kali.

Artinya, dalam satu hari jemaah membutuhkan:

  • 7 kerikil untuk Jumrah Ula
  • 7 kerikil untuk Jumrah Wustha
  • 7 kerikil untuk Jumrah Aqabah

Totalnya menjadi 21 butir kerikil per hari.

Total Kerikil untuk Nafar Awal dan Nafar Tsani

Dalam pelaksanaan haji, terdapat dua pilihan bagi jemaah ketika berada di Mina, yakni nafar awal dan nafar tsani.

1. Nafar Awal

Nafar awal adalah pilihan meninggalkan Mina lebih cepat, yakni setelah melempar jumrah pada 12 Dzulhijjah sebelum matahari terbenam.

Jika memilih nafar awal, maka jumlah kerikil yang dibutuhkan adalah:

  • 10 Dzulhijjah: 7 kerikil
  • 11 Dzulhijjah: 21 kerikil
  • 12 Dzulhijjah: 21 kerikil

Total: 49 butir kerikil.

2. Nafar Tsani

Nafar tsani berarti jemaah tetap bermalam di Mina hingga 13 Dzulhijjah dan melanjutkan lempar jumrah pada hari terakhir.

Jumlah kerikilnya menjadi:

  • 10 Dzulhijjah: 7 kerikil
  • 11 Dzulhijjah: 21 kerikil
  • 12 Dzulhijjah: 21 kerikil
  • 13 Dzulhijjah: 21 kerikil

Total: 70 butir kerikil.

Seperti Apa Ukuran Batu untuk Lempar Jumrah?

Banyak orang membayangkan lempar jumrah dilakukan dengan batu besar. Padahal, batu yang digunakan justru berukuran kecil.

Dalam kitab-kitab fikih dijelaskan bahwa kerikil yang digunakan idealnya seukuran biji kacang atau ujung jari.

Kerikil biasanya diambil di Muzdalifah setelah jemaah bermalam di sana. Namun sebagian ulama membolehkan mengambil batu dari area Mina atau tempat lain yang suci.

Hal ini menunjukkan bahwa inti ibadah bukan terletak pada kerasnya lemparan, tetapi pada ketaatan menjalankan syariat dan makna simbolik di balik ritual tersebut.

Baca juga: Tata Cara Sa’i Lengkap: Doa dari Safa ke Marwah 7 Putaran

Lempar Jumrah dan Ujian Kesabaran Jemaah

Lempar jumrah juga menjadi salah satu momen paling menantang dalam ibadah haji karena jutaan jemaah berkumpul di lokasi yang sama dalam waktu berdekatan.

Karena itu, pemerintah Arab Saudi setiap tahun terus memperbaiki infrastruktur Jamarat untuk mengurangi risiko kepadatan.

Dalam buku Fiqih Sunnah Haji dan Umrah karya Syaikh Sayyid Sabiq dijelaskan bahwa Islam sangat menekankan keselamatan jiwa dalam pelaksanaan ibadah. Karena itu, jemaah dianjurkan tidak memaksakan diri dan tetap mengikuti arahan petugas.

Selain menjadi simbol melawan setan, lempar jumrah juga melatih kesabaran, disiplin, serta kemampuan menahan emosi di tengah keramaian jutaan manusia.

Makna Spiritual di Balik Lempar Jumrah

Bagi banyak jemaah, lempar jumrah bukan sekadar ritual tahunan. Di balik tujuh butir kerikil yang dilempar, ada simbol penolakan terhadap kesombongan, amarah, iri hati, dan berbagai sifat buruk manusia.

Karena itu, para ulama sering mengingatkan bahwa inti lempar jumrah bukanlah mengenai seberapa keras seseorang melempar batu, tetapi sejauh mana ia mampu “melempar” hawa nafsu dan godaan dalam kehidupannya sehari-hari.

Di tengah panasnya Mina dan padatnya jutaan manusia, ritual ini menjadi pengingat bahwa perjuangan terbesar manusia sejatinya adalah melawan godaan dalam dirinya sendiri.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Layanan di Makkah Diperkuat, Jemaah Dipastikan Nyaman Jelang Puncak Haji
Layanan di Makkah Diperkuat, Jemaah Dipastikan Nyaman Jelang Puncak Haji
Aktual
Pemberangkatan Jemaah Haji Bangkalan Diwarnai Laporan Kehilangan Dompet dan Handphone
Pemberangkatan Jemaah Haji Bangkalan Diwarnai Laporan Kehilangan Dompet dan Handphone
Aktual
Fasilitas Penjemuran Pakaian untuk Jemaah Haji Indonesia di Makkah Tersedia dengan Baik
Fasilitas Penjemuran Pakaian untuk Jemaah Haji Indonesia di Makkah Tersedia dengan Baik
Aktual
Berapa Jumlah Kerikil Lempar Jumrah? Ini Penjelasan Lengkapnya
Berapa Jumlah Kerikil Lempar Jumrah? Ini Penjelasan Lengkapnya
Aktual
Hari Arafah 2026 Tanggal Berapa? Ini Prediksi dan Keutamaannya
Hari Arafah 2026 Tanggal Berapa? Ini Prediksi dan Keutamaannya
Aktual
Jaga Gizi Jemaah Haji 2026, Kemenhaj Pastikan Menu Nusantara Hadir di Tanah Suci
Jaga Gizi Jemaah Haji 2026, Kemenhaj Pastikan Menu Nusantara Hadir di Tanah Suci
Aktual
Sanksi Maksimal untuk Pelaku Kekerasan Seksual di Pesantren, MUI Serukan Pengawasan Ketat
Sanksi Maksimal untuk Pelaku Kekerasan Seksual di Pesantren, MUI Serukan Pengawasan Ketat
Aktual
Dzikir dan Doa Hari Arafah, Bacaan yang Dianjurkan Saat Wukuf
Dzikir dan Doa Hari Arafah, Bacaan yang Dianjurkan Saat Wukuf
Doa dan Niat
Kisah Ays, Jemaah Haji Termuda Malang yang Ikut Ujian Sekolah dari Tanah Suci
Kisah Ays, Jemaah Haji Termuda Malang yang Ikut Ujian Sekolah dari Tanah Suci
Aktual
Via Aplikasi Tawakkalna Izin Haji Kini Bisa Diakses Sebelum Berangkat
Via Aplikasi Tawakkalna Izin Haji Kini Bisa Diakses Sebelum Berangkat
Aktual
Arab Saudi Rilis Panduan Kesehatan Haji dalam 8 Bahasa, Salah Satunya Indonesia
Arab Saudi Rilis Panduan Kesehatan Haji dalam 8 Bahasa, Salah Satunya Indonesia
Aktual
Cara Unik Jemaah Indonesia Tandai Kelompoknya, Pakai Bros Mawar hingga Blangkon
Cara Unik Jemaah Indonesia Tandai Kelompoknya, Pakai Bros Mawar hingga Blangkon
Aktual
WNI di Makkah Kembali Ditangkap karena Jual Jasa Haji Ilegal di Medsos
WNI di Makkah Kembali Ditangkap karena Jual Jasa Haji Ilegal di Medsos
Aktual
Kemenhaj Perkuat Satgas Haji Nonprosedural, 80 Keberangkatan WNI Ditunda
Kemenhaj Perkuat Satgas Haji Nonprosedural, 80 Keberangkatan WNI Ditunda
Aktual
Ayam Bukan Hewan Kurban, Lalu Mengapa Bilal Pernah Menyembelihnya saat Idul Adha?
Ayam Bukan Hewan Kurban, Lalu Mengapa Bilal Pernah Menyembelihnya saat Idul Adha?
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com