Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

PPIH Imbau Jemaah Haji Tak Memaksakan Ibadah di Masjidil Haram untuk Jaga Stamina Jelang Armuzna

Kompas.com, 9 Mei 2026, 18:31 WIB
Puspasari Setyaningrum

Editor

Sumber

KOMPAS.com - Menjalankan ibadah di Masjidil Haram menjadi impian seluruh jemaah haji selama berada di Tanah Suci.

Namun, tingginya semangat beribadah juga perlu diimbangi dengan kondisi fisik yang prima agar jemaah tetap sehat hingga puncak ibadah haji.

Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi pun mengingatkan jemaah agar tidak memaksakan diri terus beribadah di Masjidil Haram apabila kondisi tubuh tidak memungkinkan.

Baca juga: Hadirnya Makanan Nusantara di Tanah Suci pada Musim Haji 2026 Membuka Peluang Ekonomi bagi UMKM

Terlebih, fase puncak ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) nantinya membutuhkan stamina yang kuat.

PPIH Ingatkan jemaah Tidak Memaksakan Diri

Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi mengimbau jemaah agar tidak memaksakan diri selalu beribadah di Masjidil Haram, terutama bagi lansia, disabilitas, dan jemaah yang memiliki penyakit penyerta.

Baca juga: Jemaah Haji Embarkasi Surabaya Gelombang Kedua Langsung Pakai Ihram Sejak dari Asrama

Imbauan tersebut disampaikan Tim Layanan Bimbingan Ibadah (Bimbad) Daker Makkah guna meluruskan anggapan sebagian jemaah yang menilai ibadah di luar Masjidil Haram memiliki keutamaan lebih rendah.

Tim Pelaksana Bimbad PPIH Daker Makkah, Abdul Aziz Siswanto, mengatakan seluruh kawasan Tanah Haram tetap memiliki keutamaan ibadah yang besar.

“Salat di sini pahalanya berlipat,” ujarnya usai kegiatan Visitasi, Konsultasi, dan Edukasi (Visduk) di kawasan Syisyah, Selasa (5/5/2026).

Menurut Aziz, keinginan jemaah untuk beribadah langsung di Masjidil Haram merupakan hal baik, namun harus disesuaikan dengan kemampuan fisik masing-masing.

Ia menegaskan prinsip hifdz nafs atau menjaga keselamatan diri tetap menjadi prioritas utama dalam menjalankan ibadah.

“Kalau fisiknya memungkinkan, silakan. Tapi jangan sampai memaksakan diri hingga membahayakan,” tegasnya.

Risiko Kelelahan atau Tersesat di Masjidil Haram

PPIH mengingatkan kepadatan di Masjidil Haram menyimpan sejumlah risiko, terutama bagi jemaah lanjut usia dan jemaah dengan kondisi kesehatan tertentu.

Selain rawan kelelahan, kasus jemaah tersesat juga cukup sering terjadi akibat banyaknya pintu masuk, luasnya area masjid, serta tingginya jumlah pengunjung.

“Sering jemaah lupa pintu masuk, tempat wudu, atau titik pertemuan. Ini yang perlu diantisipasi,” kata Aziz.

Untuk mengurangi risiko tersebut, PPIH meminta jemaah dengan kondisi tertentu agar mengoptimalkan ibadah di masjid hotel masing-masing.

Jemaah Diharap Fokus Jaga Kondisi Fisik Jelang Puncak Haji

Menjelang fase puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna), jemaah diminta lebih bijak mengatur aktivitas ibadah agar stamina tetap terjaga.

Kepala Seksi Bimbingan dan Ibadah (Bimbad) serta KBIHU PPIH Daker Makkah, Erti Herlina, mengatakan mayoritas jemaah Indonesia yang tiba di Makkah kini mulai memasuki tahap persiapan menuju Armuzna setelah menyelesaikan umrah wajib.

"Alhamdulillah hampir 90 persen jemaah yang tiba di Makkah sudah melaksanakan umrah wajib. Sekarang fokus kita adalah persiapan menuju puncak ibadah," katanya, Selasa (5/5/2026).

Ia berharap jemaah dapat menjalankan ibadah secara bijak dengan menyesuaikan kondisi fisik, menjaga keselamatan, dan tetap meraih pahala maksimal selama berada di Tanah Suci.

Artikel ini telah tayang di Tribun-Timur.com dengan judul "Jemaah Jangan Paksakan Diri ke Masjidil Haram". 

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Aktual
Di Hadapan Para Imam Besar di Istiqlal, Imam Masjid Al Aqsa Sampaikan Pesan Persatuan
Di Hadapan Para Imam Besar di Istiqlal, Imam Masjid Al Aqsa Sampaikan Pesan Persatuan
Aktual
MUI Akan Luncurkan Wajib Halal Oktober di Bengkulu pada 1 Oktober 2026
MUI Akan Luncurkan Wajib Halal Oktober di Bengkulu pada 1 Oktober 2026
Aktual
Imam Besar Dunia Shalat Jumat di Masjid Istiqlal, Doakan Persatuan Umat dan Kembalinya Masjid Al Aqsa
Imam Besar Dunia Shalat Jumat di Masjid Istiqlal, Doakan Persatuan Umat dan Kembalinya Masjid Al Aqsa
Aktual
Menag Ajak Imam Gunakan Bahasa Agama untuk Bangun Kesadaran Menjaga Lingkungan
Menag Ajak Imam Gunakan Bahasa Agama untuk Bangun Kesadaran Menjaga Lingkungan
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar