Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
KH. Imam Jazuli, Lc. MA
Akademisi dan Pengasuh Ponpes Bina Insan Mulia Cirebon

Alumni Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri; Alumni Universitas Al-Azhar, Mesir, Dept. Theology and Philosophy; Alumni Universiti Kebangsaan Malaysia, Dept. Politic and Strategy; Alumni Universiti Malaya, Dept. International Strategic and Defence Studies; Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon; Wakil Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia); Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Periode 2010-2015.

Lirboyo dan Kekuatan Sunyi yang Menggerakkan Nahdlatul Ulama

Kompas.com, 12 Mei 2026, 08:16 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

JIKA ada yang bertanya di mana “pabrik” utama kader struktural Nahdlatul Ulama, maka salah satu jawaban paling kuat tentu adalah Pondok Pesantren Lirboyo. Kita tidak sedang membicarakan pengaruh simbolik, melainkan pengaruh nyata yang bekerja melalui jaringan alumni, otoritas keilmuan, dan legitimasi moral. Dalam konteks NU modern, Lirboyo telah berkembang bukan sekadar sebagai lembaga pendidikan, tetapi sebagai pusat reproduksi kepemimpinan keagamaan yang menopang denyut organisasi hingga ke akar rumput.

Jumlah santri aktif yang mencapai puluhan ribu hanyalah permukaan dari kekuatan itu. Yang lebih besar adalah jejaring alumninya yang tersebar di hampir seluruh wilayah Indonesia. Dari desa-desa kecil hingga kota-kota besar, alumni Lirboyo mengisi ruang-ruang strategis keagamaan: pengasuh pesantren, imam masjid, penggerak majelis taklim, hingga pengurus struktural NU. Dalam bahasa sosiologi organisasi, Lirboyo berhasil membangun “kapital sosial” yang sangat kuat dan berlapis.

Karena itu, ungkapan “NU ya Lirboyo, Lirboyo ya NU” tidak bisa dipahami sekadar sebagai slogan emosional. Ia lahir dari fakta historis dan realitas struktural. Sejak lama, Lirboyo dikenal sebagai pesantren yang tidak hanya menanamkan penguasaan kitab kuning, tetapi juga membangun kesadaran jam’iyah. Santri dididik memahami bahwa ilmu tidak cukup berhenti pada kecerdasan personal, melainkan harus diterjemahkan menjadi khidmah untuk umat dan organisasi.

Baca juga: Lirboyo, Pabrik Pencetak Ulama yang Mengubah Indonesia

Dalam tubuh NU, terutama pada lapisan Syuriah, LBM dan RMI pengaruh alumni Lirboyo tampak sangat dominan. Di semua tingkatan MWCNU, PCNU, PWNU, hingga PBNU, secara nasional tiap kecamatan/kabupaten/kota banyak Rais dan anggota Syuriah memiliki akar pendidikan dari Lirboyo. Sebenarnya di Tanfidliyah, baik sebagai ketua atau pengurus harian dan lembaga di semua tingkatan juga lebih banyak. Fenomena ini bukan kebetulan, melainkan hasil dari proses kaderisasi panjang yang menekankan kombinasi antara kedalaman ilmu, kematangan akhlak, dan loyalitas terhadap manhaj Ahlussunnah wal Jamaah.

Keunggulan Lirboyo terletak pada kemampuannya menjaga keseimbangan antara tradisi dan organisasi. Banyak pesantren melahirkan ulama besar, tetapi tidak semuanya mampu membentuk kader yang siap masuk ke medan struktural. Sebaliknya, ada organisasi yang kuat secara administratif, tetapi kehilangan kedalaman keilmuan. Lirboyo hadir di titik temu keduanya: melahirkan ulama yang organisatoris dan organisator yang tetap alim.

Musyawarah Kubro (Muskub) yang diselenggarakan oleh Forum Sesepuh Nahdlatul Ulama, pada 21 Desember 2025, yang dihadiri oleh jajaran Mustasyar PBNU, Syuriah, Tanfidziyah, pimpinan lembaga, badan otonom, pengasuh pesantren, serta perwakilan PWNU dan PCNU se-Indonesia. Sebanyak 601 peserta hadir secara langsung dan 546 secara daring, yang merepresentasikan 308 pengurus wilayah dan cabang untuk merespons dinimika internal PBNU 90 persen lebih pesertanya adalah pengurus NU alumni lirboyo, ini adalah bukti nyata Lirboyo masih menjadi pusat gravitasi moral NU.

Dalam kultur Nahdliyin, legitimasi tertinggi tetap berada pada otoritas keilmuan para masyayikh, bukan pada kekuatan administratif semata. Maka, disinilah Lirboyo memainkan peran penting sebagai jangkar ideologis NU. Ketika organisasi menghadapi tantangan politik, polarisasi sosial, dan penetrasi paham keagamaan transnasional, pesantren seperti Lirboyo menjadi benteng yang menjaga arah. Para alumninya membawa tradisi tawassuth, tasamuh, tawazun, dan i’tidal ke dalam praktik organisasi sehari-hari.

Kekuatan lain Lirboyo adalah kemampuannya membangun disiplin sanad keilmuan. Dalam tradisi pesantren, sanad bukan hanya transmisi ilmu, tetapi juga transmisi adab dan otoritas moral. Karena itu, alumni Lirboyo umumnya memiliki legitimasi yang diterima luas oleh warga NU. Mereka tidak hadir sebagai elite dadakan, tetapi tumbuh melalui proses panjang pengabdian dan pengakuan sosial.

Hal ini berbeda dengan pola kepemimpinan modern yang sering dibangun melalui popularitas instan atau kekuatan modal. Di lingkungan NU, terutama pada lapisan Syuriah, masyarakat masih menaruh hormat besar pada figur yang memiliki kedalaman ilmu dan rekam jejak pesantren. Lirboyo menyediakan fondasi itu secara sistematis dan berkesinambungan.

Lebih jauh lagi, pengaruh Lirboyo tidak hanya bersifat struktural, tetapi juga kultural. Banyak keputusan penting di tubuh NU pada akhirnya selalu mempertimbangkan pandangan para kiai pesantren besar. Dalam konteks ini, Lirboyo sering menjadi salah satu titik rujukan utama. Ketika para masyayikh berbicara, yang bergerak bukan hanya individu, melainkan jejaring sosial dan spiritual yang sangat luas.

Karena itu, jika PWNU dan PCNU dalam berbagai momentum strategis bersandar pada pandangan Lirboyo, hal itu menunjukkan bahwa kedaulatan kultural NU tetap berada di tangan pesantren. Organisasi boleh memiliki struktur formal, tetapi ruhnya tetap hidup dari otoritas moral para kiai. Tanpa pesantren, NU berpotensi kehilangan arah ideologis dan identitas tradisionalnya.

Di tengah arus modernisasi, keberadaan Lirboyo juga penting sebagai penjaga kesinambungan tradisi kitab kuning. Banyak lembaga pendidikan Islam mulai bergeser pada orientasi pragmatis dan formalistik. Namun Lirboyo tetap mempertahankan tradisi talaqqi, bahtsul masail, dan pendalaman turats sebagai inti pendidikan. Dari sinilah lahir kader-kader yang matang secara intelektual sekaligus rendah hati secara spiritual.

Kekuatan Sunyi yang Menggerakkan NU

Yang menarik, kekuatan Lirboyo tidak dibangun melalui propaganda besar-besaran. Ia tumbuh secara organik melalui keteladanan dan konsistensi. Para alumninya bekerja di berbagai lini tanpa banyak sorotan, tetapi pengaruhnya terasa nyata dalam denyut organisasi NU sehari-hari. Mereka menjadi penghubung antara pesantren, masyarakat, dan struktur organisasi.

Karena itu, menyebut Lirboyo sebagai “pabrik struktural NU” sesungguhnya bukan hiperbola. Ia adalah realitas yang dapat dilihat dari komposisi kepemimpinan, jaringan alumni, hingga arah kebijakan kultural organisasi. Dalam banyak kasus, keberadaan alumni Lirboyo menjadi penjamin bahwa NU tetap berpijak pada tradisi keilmuan pesantren yang otentik.

Jika ingin melihat bagaimana NU bertahan sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia dengan karakter moderatnya, maka lihatlah pesantren-pesantren penyangganya, dan di antara yang paling menonjol adalah Lirboyo. Dari ruang-ruang ngaji yang sederhana, lahir para penjaga marwah organisasi. Mereka bukan hanya alim dalam ilmu, tetapi juga teguh dalam khidmah.

Baca juga: Lirboyo, dari Sarang Penyamun Menjelma Benteng Nusantara

Pada akhirnya, Lirboyo bukan sekadar institusi pendidikan. Ia adalah jantung Syuriah, pusat reproduksi otoritas keagamaan, sekaligus benteng tradisi NU. Selama Lirboyo terus hidup dan melahirkan kader-kader berilmu serta beradab, selama itu pula NU akan tetap memiliki napas panjang untuk menjaga Islam Nusantara yang damai, moderat, dan berakar kuat pada tradisi pesantren. Wallahu'alam bissowab

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Aktual
Di Hadapan Para Imam Besar di Istiqlal, Imam Masjid Al Aqsa Sampaikan Pesan Persatuan
Di Hadapan Para Imam Besar di Istiqlal, Imam Masjid Al Aqsa Sampaikan Pesan Persatuan
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar