Editor
KOMPAS.com - Ratusan jamaah haji asal Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan memilih menjalankan ibadah dengan skema Haji Ifrad pada musim haji 2026.
Pilihan tersebut membuat jamaah harus mengenakan pakaian ihram dalam waktu lebih lama dibanding skema Haji Tamattu’.
Dari total ratusan jamaah yang berangkat, hampir separuh memilih mendahulukan niat haji sebelum umrah.
Baca juga: Tujuan Edukasi Niat Isytirath untuk Jemaah Haji Lansia dan Risti di Arab Saudi
Kondisi itu berbeda dengan mayoritas jamaah Indonesia yang umumnya menggunakan skema Haji Tamattu’.
Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah Maros Ahmad Ihyadin mengatakan dari total 628 jamaah asal Maros, sebanyak 292 orang memilih menjalankan Haji Ifrad.
Baca juga: Rahasia Cita Rasa Makanan Jemaah Haji, Ada Koki Indonesia yang Jadi Andalan Dapur di Makkah
"Sementara 336 jamaah lainnya memilih haji tamattu," ujarnya, Rabu (13/5/2026).
Jamaah yang memilih Haji Ifrad tersebar di seluruh kelompok terbang (kloter) asal Maros.
Menurut Ahmad, pilihan jenis ibadah haji umumnya sudah ditentukan sebelum keberangkatan ke Tanah Suci.
"Biasanya sudah ada data awal ke kami, tapi tetap menyesuaikan kondisi mereka saat di Tanah Suci," katanya.
Ahmad menjelaskan perbedaan utama antara Haji Ifrad dan Haji Tamattu terletak pada niat ibadah yang dilakukan terlebih dahulu.
"Kalau ifrad mengambil niat haji terlebih dahulu baru umrah. Kalau tamattu mengambil niat umrah dulu baru haji," kata Ahmad.
Jamaah yang menjalankan Haji Ifrad juga mengenakan pakaian ihram lebih lama, yakni hingga 14 Zulhijjah.
Hal ini berbeda dengan Haji Tamattu yang memungkinkan jamaah bertahalul setelah menyelesaikan umrah sebelum kembali berihram untuk ibadah haji.
Jumlah jamaah calon haji asal Maros tahun ini mencapai 626 orang atau meningkat hampir dua kali lipat dibanding musim haji sebelumnya.
Bupati Maros Chaidir Syam mengatakan Kloter 14 menjadi satu kloter penuh asal Kabupaten Maros dengan total 387 jamaah. Sementara sisanya tersebar di sejumlah kloter lainnya.
Mayoritas jamaah asal Maros tahun ini juga didominasi lanjut usia atau lansia.
“Lansia itu sekitar 75 persen,” kata mantan Ketua DPRD Maros itu.
Chaidir berharap seluruh jamaah diberikan kesehatan dan kemudahan selama menjalankan ibadah haji hingga kembali ke tanah air dengan predikat haji mabrur.
"Pemerintah Kabupaten Maros tentu mendoakan seluruh jamaah diberi kelancaran selama beribadah di tanah suci dan kembali dalam keadaan sehat," katanya.
Ibadah haji memiliki tiga jenis pelaksanaan, yakni Haji Ifrad, Haji Qiran, dan Haji Tamattu’. Pemilihan jenis haji biasanya disesuaikan dengan kondisi masing-masing jamaah.
Haji Ifrad dilakukan dengan mengerjakan ibadah haji terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan umrah setelah seluruh rangkaian haji selesai.
Jenis haji ini biasanya dipilih jamaah yang datang mendekati puncak pelaksanaan ibadah haji, seperti kloter akhir dari Indonesia. Jamaah Haji Ifrad tidak diwajibkan membayar dam.
Haji Qiran dilakukan dengan menggabungkan ibadah haji dan umrah dalam satu niat dan satu ihram secara bersamaan.
Jamaah yang melaksanakan Haji Qiran diwajibkan membayar dam berupa penyembelihan hewan kurban, seperti seekor kambing atau sepertujuh sapi maupun unta, pada 10 Zulhijah atau hari tasyrik.
Haji Tamattu’ dilakukan dengan melaksanakan umrah terlebih dahulu sebelum menjalankan ibadah haji.
Jenis haji ini menjadi yang paling banyak dipilih jamaah Indonesia, khususnya pada kloter awal keberangkatan.
Jamaah yang menjalankan Haji Tamattu’ diwajibkan membayar dam berupa penyembelihan seekor kambing atau sepertujuh unta maupun sapi pada 10 Zulhijah atau hari tasyrik tanggal 11, 12, dan 13 Zulhijah.
Artikel ini telah tayang di Tribun-Timur.com dengan judul "292 Jamaah Maros Pilih Haji Ifrad, Apa Bedanya dengan Tamattu' dan Qiran?".
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang