Editor
KOMPAS.com - Tim Bimbingan Ibadah (Bimbad) Daerah Kerja Bandara terus memberikan pendampingan kepada jemaah haji Indonesia setibanya di Arab Saudi.
Pendampingan tersebut difokuskan bagi jemaah lanjut usia dan berisiko tinggi (risti) agar dapat menjalankan ibadah dengan aman dan nyaman.
Salah satu edukasi yang diberikan ialah pembacaan niat isytirath sebelum menjalani umrah wajib.
Baca juga: Rahasia Cita Rasa Makanan Jemaah Haji, Ada Koki Indonesia yang Jadi Andalan Dapur di Makkah
Niat ini menjadi penting bagi jemaah dengan kondisi kesehatan rentan karena memberikan keringanan apabila mengalami hambatan saat beribadah.
Di tengah padatnya kedatangan jemaah haji Indonesia, ustadzah Anis Diyah Puspita bahkan harus berlari mengejar jemaah yang melewati jalur Makkah Route atau fast track, Kamis (14/5/2026).
Baca juga: Jemaah Haji Indonesia Dapat 15 Porsi Makanan Siap Santap saat Puncak Armuzna
Anis melakukan hal tersebut karena jalur fast track tidak memungkinkan jemaah masuk ke ruang paviliun untuk mendapatkan bimbingan ibadah secara langsung. Karena itu, ia mendatangi para jemaah guna membimbing pelafalan niat umrah wajib.
Jemaah haji Indonesia diketahui menjalankan haji Tamattu, yakni rangkaian ibadah haji yang didahului dengan umrah kemudian dilanjutkan haji.
Anis menjelaskan, salah satu edukasi penting yang diberikan kepada jemaah ialah pembacaan niat isytirath atau niat bersyarat sebelum umrah wajib dilaksanakan.
Menurut dia, niat tersebut diperuntukkan bagi jemaah lansia maupun mereka yang memiliki penyakit bawaan dan berisiko mengalami gangguan kesehatan selama menjalankan ibadah.
“Jemaah haji kita ada yang lansia dan ada juga yang memiliki penyakit bawaan yang berisiko. Karena itu mereka dibimbing untuk membaca niat isytirath,” ujar Anis.
Niat isytirath merupakan niat ihram yang disertai syarat apabila jemaah mengalami hambatan dalam menyempurnakan ibadah umrah akibat sakit atau kondisi tertentu.
Lafal niat isytirath yang dibimbing kepada jemaah berbunyi:
“Allahumma inni uridul ‘umrata fa in habasani habisun famahilli haitsu habastani.”
Artinya, “Ya Allah, aku berniat umrah. Jika ada halangan yang menghambatku, maka tempat tahalulku adalah di tempat terjadinya halangan tersebut.”
Anis mengatakan niat tersebut dapat dibaca dalam bahasa Arab maupun bahasa Indonesia dengan makna yang sama agar lebih mudah dipahami jemaah.
Anis menjelaskan, jemaah yang telah membaca niat isytirath kemudian mengalami sakit sehingga tidak mampu menyelesaikan rangkaian umrah diperbolehkan bertahalul tanpa dikenai dam.
“Jika terjadi halangan karena sakit dan tidak bisa menyempurnakan umrahnya, maka jemaah terbebas dari dam. Insya Allah pahala umrahnya tetap seperti umrah yang sempurna,” jelasnya.
Pendampingan tersebut menjadi bagian dari upaya PPIH Arab Saudi dalam menghadirkan layanan haji ramah lansia dan disabilitas, khususnya bagi jemaah dengan kondisi kesehatan yang memerlukan perhatian lebih selama berada di Tanah Suci.
Artikel ini telah tayang di Tribun-Timur.com dengan judul "Niat Isytirath Jadi Ikhtiar Lindungi Jemaah Lansia dan Risti Saat Umrah Wajib".
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang