Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Menag Ajak Hidupkan Spirit KH Wahab Hasbullah untuk Perkuat Moderasi dan Kebangsaan

Kompas.com, 17 Mei 2026, 07:04 WIB
Farid Assifa

Editor

KOMPAS.com — Menteri Agama Nasaruddin Umar mengajak masyarakat menghidupkan kembali semangat perjuangan KH Abdul Wahab Hasbullah sebagai fondasi penguatan moderasi beragama, transformasi pesantren, dan penguatan kebangsaan di tengah tantangan sosial keagamaan saat ini.

Hal tersebut disampaikan Menag dalam kegiatan bedah buku "KH Abdul Wahab Hasbullah: Pendiri NU Penggerak NKRI bertema The Mastermind of Movement: Mengupas Tuntas Seni Kepemimpinan Inklusif dan Dialektika Moderasi" yang digelar di UIN Jurai Siwo Lampung, Sabtu (16/5/2026).

“Jika dahulu Kiai Abdul Wahab Hasbullah menggunakan organisasi dan diplomasi untuk menjaga bangsa, maka hari ini kita harus menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menjaga kedaulatan bangsa serta martabat kemanusiaan,” ujar Nasaruddin Umar dalam keterangannya di Jakarta.

Baca juga: Menag Ucapkan Selamat Kenaikan Yesus Kristus 2026, Ajak Jaga Kerukunan

Menag menegaskan pesantren merupakan institusi pendidikan asli Indonesia yang telah teruji oleh zaman dan memiliki peran strategis dalam menjaga moralitas bangsa sekaligus mencetak kader pemimpin berjiwa nasionalisme dan keislaman.

Menurut dia, pemerintah saat ini tengah memperkuat kelembagaan pesantren melalui transformasi Direktorat Jenderal Pesantren di lingkungan Kementerian Agama.

“Langkah tersebut dilakukan agar pesantren tidak hanya menjadi benteng moral, tetapi juga berkembang sebagai pusat inovasi, pemberdayaan ekonomi umat, dan institusi pendidikan yang mampu bersaing secara global,” katanya.

Nasaruddin Umar juga menekankan pentingnya meneladani pemikiran dan perjuangan KH Abdul Wahab Hasbullah dalam membangun pendidikan Islam yang moderat, adaptif, dan relevan dengan perkembangan zaman.

Direktur Pesantren Kementerian Agama Basnang Said menyampaikan bahwa sejarah perjuangan Indonesia tidak dapat dilepaskan dari kontribusi pesantren dan tokoh-tokoh besar seperti KH Wahab Hasbullah.

Menurut Basnang, warisan pemikiran KH Wahab masih sangat relevan untuk menghadapi tantangan intoleransi, kekerasan, dan fragmentasi sosial di Indonesia saat ini.

Sementara itu, perwakilan keluarga besar KH Wahab Hasbullah, Ita Rahmawati, menyebut KH Wahab sebagai “arsitek dialektika moderasi” yang mampu memadukan nilai keagamaan dan kebangsaan dalam satu napas perjuangan.

“Kiai Wahab mengajarkan bahwa moderasi bukan berarti kehilangan pendirian, tetapi kemampuan menempatkan kebenaran di tengah berbagai ekstremitas,” ujarnya.

Ia menjelaskan, buku tersebut mengulas kepemimpinan KH Wahab melalui pendekatan The Mastermind of Movement, yang menggambarkan kemampuan KH Wahab membangun gerakan sosial-keagamaan secara inklusif, strategis, dan visioner.

KH Wahab Hasbullah dikenal sebagai salah satu tokoh penting di balik berdirinya Nahdlatul Ulama pada 1926 bersama KH Hasyim Asy’ari. Ia juga berperan besar dalam perjuangan Komite Hijaz serta menggagas gerakan intelektual dan kebangsaan seperti Taswirul Afkar dan Nahdlatul Wathan.

Baca juga: Menag Nasaruddin: Pesantren Harus Jadi Ruang Paling Aman bagi Anak

Rektor UIN Jurai Siwo Lampung, Ida Umami, mengatakan forum tersebut menjadi momentum penting untuk menghadirkan kembali spirit perjuangan ulama pesantren dalam membangun Indonesia.

“Bedah buku ini bukan sekadar membaca sejarah tokoh, tetapi memahami bagaimana pemikiran Kiai Wahab Hasbullah menjadi fondasi moderasi, pendidikan, dan kecintaan terhadap NKRI. Spirit itulah yang penting diwariskan kepada generasi muda,” ujar Ida.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
Aktual
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar