KOMPAS.com - Bulan Dzulhijjah selalu menghadirkan suasana spiritual yang berbeda bagi umat Islam. Pada bulan ke-12 dalam kalender Hijriah ini, jutaan muslim dari seluruh dunia menunaikan ibadah haji di Tanah Suci.
Sementara bagi yang tidak berhaji, terdapat amalan-amalan sunnah yang sangat dianjurkan untuk memperbanyak pahala, salah satunya adalah puasa Dzulhijjah.
Namun di tengah anjuran berpuasa selama sembilan hari pertama Dzulhijjah, muncul pertanyaan yang cukup sering ditanyakan umat Islam, apakah boleh puasa Dzulhijjah hanya satu hari saja?
Pertanyaan ini kerap muncul terutama dari orang-orang yang memiliki keterbatasan kondisi fisik, pekerjaan berat, perempuan yang sedang mengalami haid, ibu menyusui, atau mereka yang baru mampu menjalankan puasa sunnah di hari-hari tertentu saja.
Lantas, bagaimana hukum dan penjelasan para ulama mengenai hal tersebut?
Jawabannya adalah boleh dan tetap sah.
Puasa Dzulhijjah termasuk ibadah sunnah, bukan kewajiban. Artinya, seseorang tetap memperoleh pahala meskipun hanya mampu menjalankannya satu hari atau beberapa hari saja.
Anjuran puasa pada awal Dzulhijjah didasarkan pada sejumlah hadis Nabi Muhammad SAW. Salah satunya riwayat dari Ummul Mukminin Hafsah RA:
“Rasulullah SAW biasa berpuasa pada hari Asyura, sembilan hari pertama Dzulhijjah, dan tiga hari setiap bulan.” (HR Abu Dawud dan Ahmad)
Hadis tersebut menunjukkan keutamaan puasa pada awal bulan Dzulhijjah. Namun tidak ada ketentuan yang mewajibkan puasa itu harus dilakukan penuh selama sembilan hari berturut-turut.
Keterangan serupa juga dijelaskan dalam berbagai kajian fikih kontemporer. Dalam penjelasan Direktorat Jenderal Bimas Islam Kementerian Agama, puasa Dzulhijjah tetap sah meskipun dilakukan hanya satu hari karena sifatnya sunnah tathawwu’ atau ibadah sunnah sukarela.
Dengan demikian, seseorang tetap bisa mendapatkan pahala puasa Dzulhijjah walaupun hanya melaksanakan puasa Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah atau puasa Tarwiyah pada tanggal 8 Dzulhijjah saja.
Baca juga: Puasa Dzulhijjah Sampai Kapan? Ini Batas Waktu dan Jadwal Lengkapnya
Keutamaan puasa Dzulhijjah tidak lepas dari kemuliaan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah yang disebut sebagai hari-hari terbaik dalam Islam.
Dalam hadis riwayat Imam Bukhari, Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak ada hari-hari di mana amal saleh lebih dicintai Allah daripada hari-hari ini,” yakni sepuluh hari pertama Dzulhijjah.
Para ulama menjelaskan bahwa keistimewaan hari-hari tersebut bahkan melebihi hari-hari lain dalam setahun karena di dalamnya berkumpul ibadah besar seperti haji, kurban, zikir, sedekah, dan puasa.
Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab menjelaskan bahwa puasa pada sembilan hari pertama Dzulhijjah sangat dianjurkan karena termasuk amalan sunnah yang memiliki nilai pahala besar.
Sementara Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitab Fathul Bari menyebutkan bahwa keutamaan sepuluh hari pertama Dzulhijjah terjadi karena berkumpulnya ibadah-ibadah pokok yang tidak ditemukan secara lengkap di waktu lain.
Bagi umat Islam yang tidak mampu menjalankan puasa penuh selama sembilan hari, ulama menganjurkan untuk mengutamakan puasa pada tanggal 9 Dzulhijjah atau puasa Arafah.
Puasa Arafah memiliki keutamaan yang sangat besar sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Muslim:
“Puasa Arafah menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.”
Oleh karena itu, meskipun seseorang hanya mampu berpuasa satu hari, maka puasa Arafah menjadi pilihan paling utama.
Selain Arafah, puasa Tarwiyah pada 8 Dzulhijjah juga termasuk amalan yang banyak dilakukan umat Islam meskipun terdapat perbedaan pendapat mengenai kekuatan hadis khusus tentang keutamaannya.
Baca juga: Puasa Dzulhijjah Apakah Harus 9 Hari? Simak Hukum dan Ketentuannya
Tidak harus.
Puasa Dzulhijjah boleh dilakukan secara terpisah dan tidak wajib berurutan dari tanggal 1 sampai 9 Dzulhijjah. Misalnya seseorang hanya berpuasa tanggal 1, 3, dan 9 Dzulhijjah, maka puasanya tetap sah.
Hal ini karena puasa Dzulhijjah bukan puasa wajib seperti Ramadan yang memiliki aturan tertentu.
Dalam buku Fiqih Sunnah karya Sayyid Sabiq dijelaskan bahwa puasa sunnah memiliki kelonggaran lebih luas dibanding puasa wajib.
Oleh karena itu, umat Islam dapat menyesuaikan pelaksanaannya dengan kemampuan masing-masing.
Banyak kitab dan literatur Islam menyebutkan keutamaan puasa pada awal Dzulhijjah. Meski sebagian riwayat mengenai keutamaan setiap harinya diperselisihkan tingkat kesahihannya, para ulama tetap membolehkan mengamalkannya dalam konteks fadha’ilul a’mal atau motivasi amal kebaikan.
Dalam buku Puasa Sepanjang Tahun karya Yunus Hanis Syam dijelaskan bahwa setiap hari pada awal Dzulhijjah memiliki nilai spiritual tersendiri.
Misalnya:
Disebut sebagai hari ketika Allah SWT menerima taubat Nabi Adam AS. Orang yang berpuasa di hari tersebut diharapkan memperoleh ampunan dosa.
Dikaitkan dengan keselamatan Nabi Yunus AS dari perut ikan.
Disebut sebagai hari dikabulkannya doa Nabi Zakaria AS.
Allah SWT akan hilangkan kesusahan dan kefakirannya di hari kiamat.
Akan terbebas dari sifat nifak dan siksa kubur.
Akan dipandang dengan penuh rahmat oleh Allah SWT dan tidak disiksa selamanya.
Allah SWT akan membuka 30 pintu kebaikan dan menghindarkan 30 pintu kesulitan.
akan diberikan pahala sebesar-besarnya oleh Allah SWT.
Dapat menebus dosa seseorang pada setahun yang lalu dan setahun yang akan datang jika ia berpuasa.
Meski demikian, para ulama mengingatkan agar umat Islam lebih fokus pada dalil-dalil sahih mengenai keutamaan umum puasa Dzulhijjah dan tidak berlebihan dalam meyakini riwayat-riwayat lemah.
Baca juga: Puasa Tarwiyah 2026 Jatuh pada Hari Senin, Bisakah Niatnya Digabung?
Dalam buku Lathaif Al-Ma’arif karya Ibnu Rajab Al-Hanbali dijelaskan bahwa sepuluh hari pertama Dzulhijjah merupakan musim ketaatan yang sangat dicintai Allah SWT.
Ibnu Rajab menulis bahwa orang-orang saleh terdahulu sangat bersungguh-sungguh memanfaatkan awal Dzulhijjah dengan berbagai ibadah, termasuk puasa.
Sementara Syekh Wahbah Az-Zuhaili dalam Fiqih Islam wa Adillatuhu menjelaskan bahwa puasa pada awal Dzulhijjah termasuk sunnah muakkadah atau sunnah yang sangat dianjurkan.
Namun Islam tetap memberikan kemudahan bagi orang yang tidak mampu menjalankannya secara penuh.
Berikut bacaan niat puasa Dzulhijjah:
نَوَيْتُ صَوْمَ شَهْرِ ذُوالْحِجَّةِ سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma syahri dzulhijjah sunnatan lillaahi ta’aalaa.
Artinya: “Saya berniat puasa sunnah Dzulhijjah karena Allah Ta’ala.”
نَوَيْتُ صَوْمَ تَرْوِيَةَ سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma tarwiyata sunnatan lillaahi ta’aalaa.
Artinya: “Saya berniat puasa sunnah Tarwiyah karena Allah Ta’ala.”
نَوَيْتُ صَوْمَ عَرَفَةَ سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma ‘arafata sunnatan lillaahi ta’aalaa.
Artinya: “Saya berniat puasa sunnah Arafah karena Allah Ta’ala.”
Berikut jadwal puasa Dzulhijjah 1447 Hijriah:
Puasa Dzulhijjah tidak harus dilakukan sembilan hari penuh agar tetap sah dan bernilai ibadah. Seseorang tetap diperbolehkan berpuasa hanya satu hari sesuai kemampuan.
Karena hukumnya sunnah, Islam memberikan kemudahan kepada umatnya untuk menyesuaikan pelaksanaan puasa dengan kondisi masing-masing.
Namun jika mampu menjalankannya lebih banyak, tentu pahala dan keutamaannya juga semakin besar.
Di antara seluruh puasa awal Dzulhijjah, puasa Arafah pada 9 Dzulhijjah menjadi yang paling dianjurkan karena memiliki keutamaan besar dalam menghapus dosa.
Pada akhirnya, yang paling penting bukan hanya seberapa banyak hari berpuasa, tetapi kesungguhan hati dalam memanfaatkan hari-hari terbaik di bulan Dzulhijjah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang