Editor
KOMPAS.com-Jamaah haji bergerak menuju Muzdalifah setelah melaksanakan wukuf di Arafah dalam rangkaian puncak ibadah haji.
Di Muzdalifah, jamaah bermalam atau mabit dan mengambil kerikil untuk persiapan melempar jumrah di Mina.
Sebagian ulama menyebutkan mabit di Muzdalifah dapat dilakukan meski hanya sebentar melalui skema murur atau sekadar melintas.
Dilansir dari MUI, selain menjadi tempat singgah, Muzdalifah juga merupakan tempat mulia untuk memperbanyak dzikir dan doa kepada Allah SWT.
Baca juga: Skema Murur Haji 2026: Jamaah Wajib Lewati Tengah Malam di Muzdalifah
Muzdalifah termasuk bagian dari Masy’aril Haram, yaitu pelataran yang dimuliakan karena berada di Tanah Suci.
Kedudukan Muzdalifah disebutkan dalam Alquran melalui firman Allah SWT:
فَإِذَآ أَفَضْتُم مِّنْ عَرَفَٰتٍ فَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ عِندَ ٱلْمَشْعَرِ ٱلْحَرَامِ
Artinya: “Maka apabila kamu telah bertolak dari ‘Arafah, berdzikirlah kepada Allah di Masy‘aril Haram.” (QS. Al-Baqarah: 198)
Ayat tersebut menunjukkan bahwa Muzdalifah bukan sekadar tempat singgah setelah Arafah.
Tempat ini juga menjadi ruang bagi jamaah haji untuk berdzikir dan bermunajat kepada Allah SWT.
Baca juga: Hukum Mabit di Muzdalifah dan Mina, Apakah Wajib saat Haji?
Secara bahasa, kata Muzdalifah berasal dari makna al-izdilaf yang berarti al-ijtima’ atau berkumpul.
Oleh karena itu, Muzdalifah dimaknai sebagai tempat pertemuan dan tempat berkumpul.
Dalam sebuah riwayat disebutkan, tempat ini dinamakan Muzdalifah karena Nabi Adam dan Sayyidatuna Hawa ‘alaihimassalam dipertemukan kembali setelah diturunkan ke bumi.
Terlepas dari penafsiran filosofis tersebut, para ulama menjelaskan bahwa mabit di Muzdalifah pada malam 10 Dzulhijjah merupakan momentum memperbanyak doa dan mengingat Allah.
Momen ini datang setelah jamaah melewati puncak ibadah haji di Padang Arafah.
Dalam sebuah riwayat disebutkan, orang Arab pada masa Jahiliyyah juga berdoa ketika berada di Masy’aril Haram.
Namun, doa mereka hanya berkisar pada kepentingan duniawi, seperti meminta unta, kambing, harta, dan kemewahan hidup.
Allah SWT kemudian menurunkan ayat untuk mengoreksi cara pandang tersebut.
Seorang mukmin tidak semestinya hanya mengejar dunia, tetapi juga memohon keselamatan akhirat.
Hal ini sebagaimana disebutkan dalam riwayat yang dibawakan Imam Thabrani dalam kitab Ad-Du’a:
وَكَانَ النَّاسُ فِي الْجَاهِلِيَّةِ إِذَا وَقَفُوا عِنْدَ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ دَعَوْا، فَقَالَ أَحَدُهُمُ: اللَّهُمَّ ارْزُقْنِي إِبِلًا، اللَّهُمَّ ارْزُقْنِي غَنَمًا، فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Artinya: “Dahulu manusia pada masa Jahiliyyah apabila berdiri di Masy‘aril Haram mereka berdoa. Salah seorang dari mereka berkata: ‘Ya Allah, berilah aku unta, ya Allah, berilah aku kambing.’ Maka Allah menurunkan ayat: ‘Di antara manusia ada yang berdoa: Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia,’ dan dia tidak memperoleh bagian di akhirat. Dan di antara mereka ada yang berdoa: ‘Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta lindungilah kami dari siksa neraka.’” (Ad-Du‘a [Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah], h. 275)
Baca juga: Doa Mabit di Muzdalifah: Arab, Latin & Arti, Amalan Mustajab Puncak Malam Haji
Dari riwayat tersebut, para ulama menyebutkan bahwa salah satu doa yang sangat dianjurkan dibaca ketika berada di Muzdalifah adalah doa yang termaktub dalam ayat tersebut.
Doa ini menghimpun permohonan kebaikan dunia dan akhirat dalam lafaz yang ringkas, tetapi memiliki makna luas.
Berikut lafaz doa di Muzdalifah yang dapat dibaca jamaah haji:
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Artinya: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia, kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.”
Doa ini tidak hanya berisi permintaan rezeki atau kenikmatan hidup.
Para mufassir menjelaskan, hasanah fid-dunya mencakup ilmu yang bermanfaat, ibadah yang diterima, keluarga saleh, kesehatan, rezeki halal, dan kehidupan yang penuh keberkahan.
Adapun hasanah fil-akhirah meliputi ampunan Allah, kemudahan hisab, dan surga-Nya yang abadi.
Selain doa tersebut, terdapat riwayat lain yang berkaitan dengan dzikir dan doa Nabi SAW dalam rangkaian ibadah haji, tepatnya pada Hari Nahr atau Hari Raya Idul Adha.
Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu menyebutkan bahwa Rasulullah SAW membaca dzikir atau doa berikut:
يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ فَاكْفِنِي شَأْنِي كُلَّهُ، وَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ
Artinya: “Wahai Dzat Yang Maha Hidup dan Maha Mengurus seluruh makhluk, tiada Tuhan selain Engkau. Dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan. Maka cukupilah seluruh urusanku dan jangan Engkau serahkan aku kepada diriku sendiri walau sekejap mata.’” (HR Thabrani)
Dalam riwayat lengkapnya, doa tersebut dibaca Nabi SAW ketika beliau berada di al-Qarn ats-Tsa’alib, yaitu tempat di luar Muzdalifah.
Namun, apabila dilihat dari sisi momentum, doa ini juga dapat dibaca ketika berada di Muzdalifah.
Hal itu karena mabit di Muzdalifah masih termasuk rangkaian momentum Hari Nahr atau Hari Raya Idul Adha.
Doa tersebut menunjukkan puncak ketundukan seorang hamba kepada Allah SWT.
Rasulullah SAW yang ma’shum atau terjaga dari dosa tetap memohon agar seluruh urusannya dicukupkan oleh Allah.
Beliau juga memohon agar tidak diserahkan kepada dirinya sendiri walau hanya sekejap mata.
Doa ini menjadi pengingat bahwa jamaah haji sangat membutuhkan pertolongan Allah dalam setiap urusan.
Karena itu, jamaah haji dianjurkan memperbanyak doa di Muzdalifah, baik memohon kebaikan dunia dan akhirat maupun memohon perlindungan serta pertolongan Allah SWT.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang