Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Jemaah Haji Diajak Doakan Presiden Prabowo Jadi Pemimpin Adil dan Bijaksana

Kompas.com, 19 Mei 2026, 07:49 WIB
Khairina

Editor

Sumber MUI

KOMPAS.com-Musyrif Diny atau Pembimbing Ibadah Asrorun Niam Sholeh mengajak jemaah haji Indonesia mendoakan Presiden Prabowo Subianto dan para pemimpin bangsa.

Ajakan tersebut disampaikan menjelang puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina atau Armuzna.

Niam juga meminta jemaah memperbanyak doa untuk kelancaran ibadah haji, keluarga yang sakinah, serta masyarakat Indonesia yang damai dan sejahtera.

Selain itu, ia mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan, memahami fikih haji praktis, dan mempersiapkan diri menghadapi rangkaian ibadah pada 8 sampai 13 Dzulhijjah.

Baca juga: PPIH Bentuk Timsus Mina, Bantu Jemaah Haji Lansia dan Sakit saat Puncak Haji

Jemaah diajak doakan Presiden dan pemimpin bangsa

Musyrif Diny mengajak jemaah haji Indonesia untuk mendoakan Presiden Prabowo Subianto dan para pemimpin negeri.

Menurut Niam, doa bagi pemimpin penting agar Indonesia dapat menjadi bangsa yang baik, damai, dan mendapat ampunan Allah SWT.

"Jangan lupa mendoakan Presiden dan para pemimpin negeri untuk dapat memimpin dan membangun bangsa Indonesia dengan adil, bijaksana," kata Asrorun Niam Sholeh, dilansir dari laman MUI, Selasa (19/5/2026).

Ia mengatakan, doa tersebut menjadi bagian dari ikhtiar spiritual untuk mengantarkan bangsa Indonesia menuju baldatun thayyibatun wa rabbun ghafuur.

Baca juga: Puncak Haji 2026 Dimulai 25 Mei, Jutaan Jemaah Bergerak ke Armuzna

Doakan kelancaran ibadah haji

Menjelang pelaksanaan ibadah haji di Armuzna, Niam juga mengajak jemaah berdoa kepada Allah SWT agar seluruh rangkaian ibadah berjalan lancar.

Ia menyebut doa tersebut tidak hanya ditujukan untuk kelancaran haji, tetapi juga untuk keluarga dan kehidupan bangsa.

"Berdoa kepada Allah SWT untuk kelancaran pelaksanaan ibadah haji, keluarga yang sakinah, dan masyarakat bangsa Indonesia yang damai dan sejahtera," sambungnya.

Pembimbing diminta perkuat fikih haji praktis

Niam meminta pembimbing ibadah mengintensifkan pembekalan fikih haji praktis kepada jemaah.

Pembekalan tersebut mencakup pemahaman mengenai syarat dan rukun haji, wajib haji, larangan haji, serta amalan haji pada waktu dan tempat tertentu.

Menurut dia, pemahaman manasik menjadi bekal penting karena haji merupakan ibadah yang memiliki ketentuan khusus.

"Jangan hanya sekedar berangkat ke Tanah Suci tanpa membekali diri dengan ilmu manasik haji. Karena haji adalah ibadah mahdlah yang harus memenuhi syarat rukun serta ketentuan keagamaan," jelasnya.

Baca juga: Cahaya Hijau Terpancar di Clock Tower Makkah, Tanda Puncak Haji Sebentar Lagi

Jemaah diminta jaga kesehatan

Niam mengimbau jemaah haji menjaga kesehatan menjelang fase puncak haji.

Jemaah diminta mengonsumsi makanan sehat, beristirahat cukup, dan menjaga pikiran tetap tenang.

Ia juga mengingatkan jemaah agar tidak memaksakan diri melakukan aktivitas yang menguras tenaga.

Jemaah diminta fokus mempersiapkan rangkaian ibadah haji pada 8 sampai 13 Dzulhijjah, terutama saat berada di Arafah, Muzdalifah, dan Mina.

"Terutama di Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Ibadah haji itu ada unsur ibadah jasmaniyah, ibadah fisik, karenanya butuh kebugaran. Di samping ibadah maliyah (karenanya butuh biaya) dan ibadah ruhiyah, mental spiritual," tegasnya.

Haji jadi momentum perbaikan diri

Ketua MUI Bidang Fatwa ini juga mengajak jemaah haji bermuhasabah selama berada di Tanah Suci.

Menurut Niam, ibadah haji dapat menjadi momentum perbaikan diri, keluarga, dan negeri.

Ia menegaskan bahwa perbaikan bangsa dapat dimulai dari perbaikan diri setiap individu.

"Perbaiki negeri mulai dari perbaiki diri sendiri. Etos haji adalah etos kesetaraan, kebersamaan, kejujuran dan kerja keras," ujarnya.

Perbanyak ibadah dan dzikir

Pengasuh Pondok Pesantren An-Nahdlah, Depok, Jawa Barat, itu mengajak jemaah memperbanyak ibadah, dzikir, dan munajat kepada Allah SWT.

Ia juga menganjurkan jemaah menjaga shalat lima waktu secara berjamaah.

"Shalat lima waktu berjamaah. Bagi yang sehat dapat ke Masjidil Haram dengan memanfaatkan fasilitas transportasi yang tersedia," sambungnya.

Guru Besar Ilmu Fikih UIN Jakarta ini juga mengimbau jemaah yang memiliki uzur agar tetap melaksanakan shalat berjamaah di masjid sekitar tempat tinggal selama berada di Makkah.

Tanah Haram tidak hanya Masjidil Haram

Niam menjelaskan, seluruh tempat tinggal jemaah haji Indonesia berada di kawasan Tanah Haram yang memiliki keistimewaan.

Karena itu, ia menegaskan bahwa Tanah Haram tidak hanya terbatas pada Masjidil Haram.

Menurut dia, jemaah tetap perlu memperbanyak ibadah dan menjaga kesadaran spiritual selama berada di wilayah Tanah Suci.

"Jamaah haji perlu terus mengaji dan memahami tata cara manasik haji secara benar. Pembimbing ibadah perlu mengintensifkan pembekalan fikih haji praktif," tegasnya.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
Aktual
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar