KOMPAS.com - Fase puncak ibadah haji atau Armuzna menjadi salah satu momen paling menentukan dalam seluruh rangkaian ibadah haji di Tanah Suci.
Pada fase inilah jutaan jemaah dari berbagai negara bergerak secara bersamaan menuju Arafah, Muzdalifah, dan Mina dalam waktu yang hampir bersamaan.
Kondisi cuaca ekstrem, kepadatan mobilitas, hingga tingginya aktivitas fisik membuat kesiapan layanan bagi jemaah menjadi sangat penting, terutama layanan konsumsi.
Oleh karena itu, pemerintah melalui Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) memastikan layanan makanan bagi jemaah haji Indonesia disiapkan secara optimal menjelang fase Armuzna 1447 Hijriah atau musim haji 2026.
Dilansir dari laman resmi Kemenhaj RI, pemerintah menyiapkan skema makanan siap santap atau Ready To Eat (RTE) guna mendukung kebutuhan konsumsi jemaah selama fase pra-Armuzna, puncak Armuzna, hingga pasca-Armuzna.
Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan, stamina, dan kenyamanan jemaah selama menjalankan ibadah haji.
Baca juga: Fasilitas Baru di Armuzna untuk Kenyamanan Jemaah, Lantai Tebal dan Urinoir
Juru Bicara Kemenhaj, Maria Assegaff, mengatakan operasional penyelenggaraan ibadah haji hingga hari ke-28 berjalan baik dengan dukungan petugas di berbagai titik layanan.
Menurut Maria, fokus pemerintah saat ini mulai diarahkan pada penguatan kesiapan layanan menjelang Armuzna, termasuk distribusi konsumsi bagi jemaah Indonesia.
“Fokus kami saat ini adalah memperkuat kesiapan menjelang Armuzna, termasuk layanan konsumsi yang menjadi bagian penting dalam menjaga stamina dan kesehatan jemaah,” ujar Maria di Jakarta, Senin (18/5/2026).
Berdasarkan data terbaru, sebanyak 464 kloter dengan 179.463 jemaah dan 1.851 petugas telah diberangkatkan menuju Arab Saudi.
Sementara itu, sebanyak 455 kloter dengan 175.682 jemaah dan 1.820 petugas telah tiba di Makkah.
Untuk jemaah gelombang kedua yang masuk melalui King Abdul Aziz International Airport, tercatat sebanyak 190 kloter dengan 72.904 jemaah dan 759 petugas sudah tiba di Tanah Suci.
Selain jemaah reguler, terdapat pula 12.180 jemaah haji khusus yang telah berada di Arab Saudi dan menjalani tahapan ibadah sesuai jadwal.
Baca juga: Tim Amirul Hajj Hasyim Asyari Tiba di Arab Saudi, Siap Kawal Haji dan Jalankan Diplomasi
Armuzna merupakan singkatan dari Arafah, Muzdalifah, dan Mina, yaitu rangkaian utama dalam ibadah haji yang berlangsung pada 8 hingga 13 Dzulhijjah.
Pada fase ini, jemaah harus berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain dalam kondisi cuaca panas dan kepadatan luar biasa.
Dalam buku Manasik Haji dan Umrah karya KH Ahmad Sarwat dijelaskan bahwa Armuzna merupakan inti perjalanan spiritual haji karena di dalamnya terdapat wukuf di Arafah yang menjadi rukun utama ibadah haji.
Karena tingginya mobilitas selama Armuzna, kebutuhan dasar seperti makanan, air minum, tempat istirahat, hingga layanan kesehatan menjadi faktor yang sangat menentukan kondisi fisik jemaah.
Kondisi tersebut membuat layanan konsumsi tidak sekadar urusan logistik, tetapi juga bagian dari strategi menjaga kesehatan dan keselamatan jemaah.
Untuk menghadapi tantangan distribusi makanan di tengah kepadatan Armuzna, pemerintah menggunakan sistem makanan siap santap atau Ready To Eat.
Skema ini dipilih karena lebih praktis, mudah didistribusikan, tahan lebih lama, dan dapat langsung dikonsumsi jemaah tanpa proses pengolahan tambahan.
Maria menjelaskan, makanan siap santap tersebut tetap memperhatikan standar gizi, kebersihan, keamanan pangan, serta cita rasa yang sesuai dengan selera masyarakat Indonesia.
“Makanan siap santap ini disiapkan dengan cita rasa nusantara agar lebih sesuai dengan selera jemaah Indonesia,” jelas Maria.
Langkah menghadirkan menu bercita rasa Indonesia dinilai penting karena makanan yang familiar dapat membantu menjaga nafsu makan jemaah di tengah kondisi fisik yang lelah.
Dalam buku Gizi dalam Ibadah Haji karya dr. Rimbawan disebutkan bahwa asupan makanan yang sesuai kebiasaan konsumsi jemaah berpengaruh terhadap daya tahan tubuh dan kondisi psikologis selama menjalankan ibadah haji.
Baca juga: Jemaah Haji Diajak Doakan Presiden Prabowo Jadi Pemimpin Adil dan Bijaksana
Kemenhaj menyiapkan total puluhan porsi makanan bagi jemaah Indonesia selama fase Armuzna.
Rinciannya meliputi:
Enam porsi tambahan tersebut diberikan pada:
Atau bertepatan dengan:
Seluruh makanan disediakan oleh pihak syarikah yang bekerja sama dengan pemerintah.
Kemenhaj memastikan pengawasan dilakukan secara menyeluruh mulai dari tahap produksi hingga distribusi makanan ke hotel-hotel jemaah Indonesia.
Distribusi makanan siap santap dijadwalkan mulai dilakukan pada 6 Dzulhijjah 1447 H atau 23 Mei 2026 sebelum jemaah bergerak menuju Armuzna.
Menurut Maria, pengawasan dilakukan untuk memastikan makanan yang diterima jemaah benar-benar layak konsumsi dan aman.
“Kami memastikan makanan yang diterima jemaah layak, higienis, aman dikonsumsi, dan mendukung kebutuhan fisik jemaah selama fase puncak haji,” katanya.
Dalam beberapa tahun terakhir, aspek keamanan pangan menjadi perhatian serius pemerintah Indonesia dalam penyelenggaraan ibadah haji.
Hal ini karena suhu panas di Arab Saudi dapat memengaruhi kualitas makanan apabila distribusi tidak dilakukan dengan cepat dan tepat.
Baca juga: PPIH Bentuk Timsus Mina, Bantu Jemaah Haji Lansia dan Sakit saat Puncak Haji
Selain kepadatan manusia, cuaca panas ekstrem di Arab Saudi juga menjadi tantangan utama selama musim haji.
Dalam sejumlah laporan penyelenggaraan haji sebelumnya, suhu di wilayah Arafah dan Mina dapat mencapai lebih dari 40 derajat Celsius pada siang hari.
Oleh karena itu, jemaah diimbau menjaga pola makan, memperbanyak minum air putih, serta mengurangi aktivitas fisik yang tidak mendesak.
Kondisi dehidrasi menjadi salah satu risiko kesehatan paling sering dialami jemaah haji, terutama lansia dan jemaah dengan penyakit penyerta.
Dalam buku Kesehatan Haji terbitan Kementerian Kesehatan RI dijelaskan bahwa menjaga cairan tubuh dan konsumsi makanan bergizi sangat penting untuk mencegah kelelahan dan heat stroke selama ibadah haji.
Kemenhaj meminta jemaah haji Indonesia tetap disiplin menjaga kesehatan menjelang fase puncak haji.
Maria mengingatkan agar jemaah:
Menurutnya, kesiapan fisik menjadi faktor penting agar jemaah dapat menjalani ibadah haji dengan khusyuk dan lancar.
“Jaga kesehatan, hemat tenaga, makan tepat waktu, dan ikuti arahan petugas,” ujar Maria.
Penyediaan makanan siap santap menjelang Armuzna menunjukkan bahwa penyelenggaraan ibadah haji bukan hanya soal ritual keagamaan, tetapi juga pengelolaan layanan kemanusiaan dalam skala besar.
Di tengah jutaan jemaah yang berkumpul di Tanah Suci, kebutuhan konsumsi menjadi bagian penting dari upaya menjaga keselamatan dan kenyamanan selama beribadah.
Dengan penguatan layanan konsumsi, pengawasan distribusi makanan, serta dukungan petugas di lapangan, pemerintah berharap jemaah Indonesia dapat menjalani fase Armuzna dalam kondisi sehat, aman, dan lebih tenang saat menunaikan ibadah haji 2026.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang