KOMPAS.com - Di tengah situasi yang masih penuh tantangan di tanah Palestina, ribuan warga Palestina tahun ini tetap mendapat kesempatan menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci.
Kehadiran mereka di Makkah bukan hanya menjadi perjalanan spiritual, tetapi juga membawa harapan, keteguhan iman, dan kerinduan panjang untuk dapat beribadah di dua kota suci umat Islam.
Dilansir dari Arab News, Kementerian Wakaf dan Urusan Agama Palestina menyebutkan sebanyak 6.600 jamaah Palestina telah tiba di Arab Saudi dalam beberapa pekan terakhir untuk mengikuti rangkaian ibadah haji 1447 Hijriah atau musim haji 2026.
Para jamaah tersebut datang dari berbagai wilayah Palestina, termasuk Tepi Barat dan Yerusalem Timur, sementara sebagian jamaah lainnya berasal dari Jalur Gaza yang melakukan perjalanan melalui Mesir.
Kedatangan jamaah Palestina menjadi bagian dari arus besar jutaan umat Islam dunia yang mulai memadati Tanah Suci menjelang fase puncak haji yang dijadwalkan berlangsung pada 24–29 Mei 2026.
Baca juga: Tim Amirul Hajj Hasyim Asyari Tiba di Arab Saudi, Siap Kawal Haji dan Jalankan Diplomasi
Kementerian Wakaf dan Urusan Agama Palestina menjelaskan bahwa sebagian besar jamaah melakukan perjalanan menuju Arab Saudi melalui Yordania menggunakan jalur darat dan udara.
Mereka berasal dari sejumlah kota di Tepi Barat yang diduduki Israel serta wilayah Yerusalem Timur.
Sementara itu, sekitar 700 jamaah dari Jalur Gaza diberangkatkan melalui Mesir sebelum melanjutkan perjalanan menuju Arab Saudi.
Perjalanan jamaah Palestina menuju Tanah Suci tahun ini menjadi perhatian tersendiri karena sebagian dari mereka harus melewati proses perjalanan yang panjang dan kompleks sebelum tiba di Makkah dan Madinah.
Dalam buku The Hajj: The Muslim Pilgrimage to Mecca and the Holy Places karya F.E. Peters dijelaskan bahwa perjalanan haji sejak dahulu tidak hanya menjadi ritual ibadah, tetapi juga perjalanan penuh perjuangan yang sarat makna spiritual dan emosional bagi umat Islam.
Bagi sebagian jamaah Palestina, kesempatan berhaji dipandang sebagai momen langka yang penuh harapan di tengah situasi kemanusiaan yang mereka hadapi.
Setibanya di Arab Saudi, para jamaah Palestina langsung ditempatkan di sejumlah hotel yang telah disiapkan pemerintah dan otoritas terkait.
Kementerian Wakaf Palestina menyebutkan bahwa jamaah ditempatkan di enam hotel berbeda untuk memudahkan pelayanan dan koordinasi selama musim haji berlangsung.
Selain layanan akomodasi, jamaah juga mendapatkan pendampingan terkait transportasi, konsumsi, kesehatan, hingga bimbingan ibadah selama berada di Tanah Suci.
Arab Saudi sendiri terus memperkuat layanan penyelenggaraan haji 2026, terutama menjelang fase Armuzna yang meliputi Arafah, Muzdalifah, dan Mina.
Dalam beberapa pekan terakhir, pemerintah Saudi juga memperluas layanan multibahasa, kesehatan, serta distribusi makanan siap santap untuk jamaah internasional.
Baca juga: Jemaah Haji Diajak Doakan Presiden Prabowo Jadi Pemimpin Adil dan Bijaksana
Selain melalui penerbangan langsung, ribuan jamaah dari Palestina, Yordania, dan Mesir juga memasuki Arab Saudi melalui jalur darat di wilayah utara kerajaan.
Otoritas Saudi di Kabupaten Khaybar, wilayah Madinah, disebut telah menerima jamaah internasional sejak akhir April 2026.
Mobilitas jamaah melalui jalur darat menjadi salah satu bagian penting dalam operasional haji, terutama bagi negara-negara yang berada dekat dengan Arab Saudi.
Dalam buku Manajemen Penyelenggaraan Ibadah Haji karya Prof. H. M. Atho Mudzhar dijelaskan bahwa pengelolaan transportasi dan kedatangan jamaah menjadi salah satu tantangan terbesar dalam penyelenggaraan ibadah haji modern karena melibatkan jutaan manusia dari berbagai negara dalam waktu hampir bersamaan.
Oleh karena itu, koordinasi lintas negara menjadi sangat penting untuk menjaga kelancaran perjalanan jamaah menuju Tanah Suci.
Ibadah haji merupakan rukun Islam kelima yang wajib dilaksanakan setiap Muslim yang mampu setidaknya sekali seumur hidup.
Setiap tahun, jutaan umat Islam dari berbagai negara datang ke Makkah dan Madinah untuk melaksanakan ibadah yang menjadi simbol persatuan umat Islam dunia tersebut.
Menurut data Otoritas Umum Statistik Arab Saudi, sebanyak 1.673.230 jamaah menunaikan ibadah haji pada musim haji tahun lalu.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 166.654 jamaah merupakan warga negara atau penduduk Arab Saudi, sementara sisanya datang dari luar negeri.
Tahun ini, selain Palestina, diperkirakan sekitar 21.000 jamaah asal Suriah dan sekitar 8.000 jamaah dari Yordania juga akan menunaikan ibadah haji di Tanah Suci.
Dalam buku Fiqih Haji dan Umrah karya Syaikh Yusuf Al-Qaradawi dijelaskan bahwa haji menjadi simbol kesetaraan manusia di hadapan Allah SWT karena seluruh jamaah mengenakan pakaian ihram yang sama tanpa membedakan status sosial, bangsa, maupun latar belakang budaya.
Baca juga: PPIH Bentuk Timsus Mina, Bantu Jemaah Haji Lansia dan Sakit saat Puncak Haji
Bagi banyak warga Palestina, keberangkatan ke Tanah Suci tahun ini bukan sekadar perjalanan ibadah biasa.
Di tengah berbagai tantangan yang mereka hadapi, kesempatan berhaji menjadi simbol harapan, keteguhan iman, sekaligus bentuk kerinduan mendalam untuk dapat berdoa langsung di Masjidil Haram.
Dalam sejumlah kesempatan, jamaah Palestina juga dikenal memiliki ikatan emosional kuat dengan kota-kota suci Islam karena sejarah panjang hubungan spiritual antara Palestina dan Tanah Suci.
Oleh karena itu, keberangkatan ribuan jamaah Palestina menuju Makkah tahun ini menjadi perhatian dunia Islam sekaligus menghadirkan pesan tentang persaudaraan dan keteguhan umat Muslim lintas negara.
Menjelang puncak haji 2026, jutaan jamaah kini mulai mempersiapkan diri memasuki fase Armuzna, termasuk ribuan jamaah Palestina yang berharap dapat menjalankan seluruh rangkaian ibadah dengan aman, sehat, dan khusyuk hingga kembali ke tanah air masing-masing.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang