KOMPAS.com - Menjelang fase puncak ibadah haji 1447 Hijriah, jemaah haji Indonesia diimbau untuk tidak hanya mempersiapkan kondisi fisik, tetapi juga memperkuat kesiapan spiritual sebelum memasuki rangkaian Armuzna di Tanah Suci.
Fase Armuzna yang meliputi Arafah, Muzdalifah, dan Mina dikenal sebagai inti perjalanan ibadah haji.
Pada momen inilah jutaan jemaah dari berbagai negara berkumpul dalam satu waktu untuk menjalankan rangkaian ritual utama haji yang sarat makna spiritual.
Oleh karena itu, pemerintah melalui para pembimbing ibadah dan Musyrif Dini terus mengingatkan pentingnya memperbanyak doa, zikir, istighfar, dan shalawat menjelang puncak haji.
Baca juga: Kamar Haji Ramah Lansia di Makkah, Ada Pegangan Khusus dan Akses Kursi Roda
Dilansir dari laman resmi Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI, pesan tersebut disampaikan Musyrif Dini KH Abdullah Kafabihi dalam kajian bertajuk Fadhail Amaliyah Masyair Muqaddasah di Musala Kantor Daerah Kerja (Daker) Makkah, Senin (18/5/2026) malam.
Dalam kajian tersebut, Gus Kafa, sapaan akrab KH Abdullah Kafabihi mengajak jemaah memanfaatkan momentum di masyair muqaddasah sebagai waktu terbaik untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Baca juga: Tim Amirul Hajj Hasyim Asyari Tiba di Arab Saudi, Siap Kawal Haji dan Jalankan Diplomasi
Dalam ibadah haji, fase Armuzna bukan sekadar perpindahan lokasi dari satu tempat ke tempat lain.
Armuzna merupakan rangkaian ibadah utama yang menjadi puncak seluruh proses haji. Armuzna sendiri merupakan singkatan dari Arafah, Muzdalifah, dan Mina.
Pada 9 Dzulhijjah, seluruh jemaah wajib melaksanakan wukuf di Arafah yang menjadi rukun paling utama dalam ibadah haji.
Dalam hadis Nabi Muhammad SAW disebutkan:
“Al-hajju ‘Arafah.”
Artinya: “Haji itu adalah Arafah.”
Hadis tersebut menunjukkan bahwa wukuf di Arafah menjadi inti legalitas ibadah haji seseorang.
KH Abdullah Kafabihi menegaskan bahwa momentum wukuf harus benar-benar dimanfaatkan jemaah untuk memperbanyak doa dan ibadah.
“Arafah pada 9 Zulhijah merupakan inti pelaksanaan ibadah haji sebagaimana sabda Nabi SAW, ‘Al-hajju Arafah’,” ujar Gus Kafa.
Dalam buku Fiqih Haji dan Umrah karya Syaikh Yusuf Al-Qaradawi dijelaskan bahwa wukuf di Arafah merupakan momentum paling agung dalam haji karena menjadi saat ketika jutaan umat Islam berkumpul dalam keadaan penuh kerendahan di hadapan Allah SWT.
Menurut Al-Qaradawi, Arafah bukan hanya ritual fisik, tetapi juga momentum perenungan, taubat, dan penghambaan diri secara total.
Selain Arafah, jemaah juga akan menjalani mabit di Muzdalifah dan Mina serta melaksanakan lempar jumrah selama hari-hari tasyrik.
Setiap lokasi tersebut memiliki nilai spiritual yang besar dalam tradisi ibadah haji.
Dalam kajiannya, Gus Kafa menjelaskan bahwa seluruh titik di masyair muqaddasah merupakan tempat-tempat yang memiliki keutamaan tersendiri dan menjadi waktu mustajab untuk berdoa.
“Momentum di masyair muqaddasah merupakan kesempatan penting bagi jemaah untuk memperbanyak doa, zikir, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT,” jelasnya.
Dalam buku Manasik Haji dan Umrah karya KH Ahmad Sarwat dijelaskan bahwa Arafah, Muzdalifah, dan Mina bukan hanya lokasi ritual, tetapi simbol perjalanan spiritual manusia menuju ketakwaan.
Arafah menjadi simbol penghambaan dan pengakuan dosa, Muzdalifah melambangkan ketenangan dan pengumpulan bekal spiritual, sedangkan Mina menjadi simbol perjuangan melawan hawa nafsu melalui prosesi lempar jumrah.
Oleh karena itu, para ulama menganjurkan agar jemaah memperbanyak ibadah hati selama berada di lokasi-lokasi tersebut.
Baca juga: Jemaah Haji Diajak Doakan Presiden Prabowo Jadi Pemimpin Adil dan Bijaksana
Sebagai bentuk penguatan spiritual bagi jemaah, Gus Kafa juga memberikan ijazah amalan berupa pembacaan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW sebanyak 1.000 kali setiap hari selama pelaksanaan ibadah haji.
Menurutnya, amalan tersebut dapat membantu menjaga ketenangan hati jemaah di tengah beratnya aktivitas fisik selama Armuzna.
“Saya menganjurkan jemaah untuk mendawamkan pembacaan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW sebanyak 1.000 kali setiap hari selama pelaksanaan ibadah haji,” ujarnya.
Dalam kitab Dalailul Khairat karya Imam Al-Jazuli dijelaskan bahwa memperbanyak shalawat merupakan salah satu amalan yang memiliki keutamaan besar karena menjadi bentuk cinta kepada Rasulullah SAW.
Sementara Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam kitab Jala’ul Afham menyebutkan bahwa shalawat dapat menjadi sebab ketenangan hati, penghapus kegelisahan, dan pembuka keberkahan dalam hidup seorang muslim.
Di tengah kondisi fisik yang melelahkan selama musim haji, amalan shalawat dinilai dapat menjadi penguat mental dan spiritual bagi jemaah.
Fase Armuzna dikenal sebagai periode paling padat selama musim haji. Jutaan jemaah bergerak hampir bersamaan menuju Arafah, Muzdalifah, dan Mina dalam cuaca panas ekstrem yang dapat mencapai lebih dari 40 derajat Celsius.
Kondisi tersebut sering kali membuat jemaah mengalami kelelahan fisik, dehidrasi, bahkan stres akibat kepadatan manusia.
Oleh karena itu, para pembimbing ibadah mengingatkan agar jemaah tidak terlalu disibukkan dengan aktivitas yang menguras tenaga di luar kebutuhan utama ibadah.
Dalam buku Kesehatan Haji terbitan Kementerian Kesehatan RI dijelaskan bahwa menjaga kestabilan fisik dan mental menjadi faktor penting agar jemaah mampu menjalani Armuzna dengan baik.
Selain menjaga kesehatan tubuh, kestabilan spiritual juga dinilai penting agar jemaah dapat tetap khusyuk di tengah situasi yang padat dan melelahkan.
Baca juga: PPIH Bentuk Timsus Mina, Bantu Jemaah Haji Lansia dan Sakit saat Puncak Haji
Bagi banyak jemaah, perjalanan haji bukan hanya perjalanan fisik menuju Tanah Suci, tetapi juga perjalanan ruhani untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Karena itu, momentum di Arafah, Muzdalifah, dan Mina dipandang sebagai kesempatan yang sangat berharga dan belum tentu terulang kembali dalam hidup seseorang.
Para ulama menyebut bahwa hari-hari di Tanah Suci, khususnya saat Armuzna, termasuk waktu terbaik untuk memperbanyak istighfar, doa, membaca Al-Qur’an, serta memperbaiki hubungan dengan Allah SWT.
Dalam kitab Lathaif Al-Ma’arif karya Ibnu Rajab Al-Hanbali dijelaskan bahwa sepuluh hari pertama Dzulhijjah merupakan musim ibadah yang paling dicintai Allah SWT.
Oleh karena itu, jemaah dianjurkan mengisi hari-hari tersebut dengan amal saleh sebanyak mungkin.
Menjelang puncak haji 2026, penguatan spiritual menjadi bagian penting yang terus diingatkan kepada jemaah Indonesia.
Di tengah persiapan logistik, layanan kesehatan, dan mobilitas jutaan manusia di Tanah Suci, ketenangan hati dan kekuatan ibadah tetap menjadi bekal utama dalam menjalani Armuzna.
Melalui doa, zikir, dan shalawat, jemaah diharapkan dapat menjalani puncak ibadah haji dengan lebih khusyuk, tenang, dan penuh makna spiritual hingga kembali ke Tanah Air dengan predikat haji mabrur.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang