Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bahaya Egoisme di Balik Kecanggihan AI, Menag: Bisa Menjadi Musibah!

Kompas.com, 21 Mei 2026, 18:06 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Menteri Agama RI Nasaruddin Umar menyoroti pentingnya nilai moral dan kemanusiaan di tengah pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Hal itu disampaikan Nasaruddin saat menghadiri diskusi bertema “Innovate in the Era of All Intelligence” yang digelar Huawei Indonesia di Masjid Istiqlal, Jakarta, Kamis (21/5/2026).

Menurut dia, kemajuan teknologi pada dasarnya bersifat netral sehingga arah pemanfaatannya sangat bergantung pada nilai dan komitmen moral manusia yang menggunakannya.

“Teknologi pada dasarnya adalah entitas yang netral. Ia akan menjadi berkah luar biasa jika berada di tangan orang-orang yang memiliki komitmen moral untuk berbagi kebahagiaan,” ujar Nasaruddin dalam sambutannya.

Di sisi lain, ia mengingatkan teknologi juga dapat menjadi ancaman apabila dikembangkan tanpa mempertimbangkan aspek kemanusiaan dan kepedulian sosial.

“Sebaliknya, ia bisa menjadi musibah jika egoisme menguasai para pengembang,” katanya.

Baca juga: Menag: Kurban Idul Adha Jadi Bantuan Sosial Protein bagi Masyarakat

Nasaruddin menilai perkembangan AI saat ini telah menghadirkan perubahan besar di berbagai sektor kehidupan, mulai dari pendidikan, ekonomi, layanan publik, hingga aktivitas sosial masyarakat.

Karena itu, menurut dia, transformasi digital perlu dibangun di atas fondasi moral, solidaritas, dan nilai kemanusiaan agar manfaat teknologi dapat dirasakan secara luas dan inklusif.

Dalam kesempatan tersebut, Menag juga mengajak seluruh pihak, mulai dari pemerintah, perusahaan teknologi, lembaga pendidikan, hingga organisasi keagamaan untuk bersama-sama menjaga arah perkembangan teknologi agar tetap berpihak kepada kepentingan masyarakat.

Ia mengatakan kolaborasi lintas sektor menjadi penting agar tidak ada kelompok masyarakat yang tertinggal dalam era digitalisasi.

“Jangan biarkan satu pun warga negara kita tertinggal di belakang dalam transisi digital,” ucapnya.

Baca juga: Menag Ajak Hidupkan Spirit KH Wahab Hasbullah untuk Perkuat Moderasi dan Kebangsaan

Selain itu, Nasaruddin menilai semangat gotong royong dan kepedulian sosial harus menjadi fondasi utama dalam membangun ekosistem digital nasional.

Menurut dia, perkembangan AI tidak seharusnya hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi dan efisiensi teknologi, tetapi juga harus mampu memperkuat solidaritas sosial di tengah masyarakat.

Pandangan serupa juga disampaikan Kepala Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin) Sekretariat Jenderal Kementerian Agama RI Abdul Rouf.

Dalam sesi diskusi, Abdul Rouf mengatakan perkembangan AI memang tidak bisa dihindari, tetapi harus diantisipasi melalui penguatan etika, regulasi, dan perlindungan data pribadi.

Menurut dia, pemerintah memiliki tanggung jawab untuk memastikan teknologi digital berkembang secara aman dan tidak keluar dari nilai moral.

“Oleh karena itu, di dalam perkembangan AI ini perlu sebuah kepemimpinan yang berbasis etika, termasuk kepemimpinan pemerintah,” kata Abdul Rouf.

Ia menilai pengembangan AI tidak boleh hanya mengejar kecepatan layanan dan efisiensi teknologi semata, tetapi juga harus membangun rasa aman dan kepercayaan publik.

“Inovasi AI harus fokus tidak hanya pada efisiensi, tetapi juga etika, inklusivitas, dan kepercayaan,” tuturnya.

Baca juga: Kemenag Integrasikan AI untuk Layanan KUA hingga Zakat Wakaf

Di sisi lain, Abdul Rouf mengungkapkan Kementerian Agama saat ini tengah mempercepat digitalisasi tata kelola dan integrasi data di internal kementerian.

Menurut dia, Kemenag juga mulai mengembangkan pemanfaatan AI untuk berbagai layanan publik seperti Kantor Urusan Agama (KUA), zakat, wakaf, hingga sistem penyuratan digital.

“Nanti masyarakat bisa bertanya dalam bentuk chat, visual, termasuk avatar terkait layanan KUA, zakat wakaf, maupun layanan lainnya,” ungkap Abdul Rouf.

Ia mengatakan perkembangan teknologi harus dimanfaatkan untuk mempercepat pelayanan masyarakat, namun tetap harus berada dalam koridor etika dan perlindungan data.

Selain itu, Abdul Rouf juga menyinggung pentingnya adaptasi teknologi di sektor pendidikan keagamaan. Bahkan, beberapa madrasah disebut telah mulai mengenalkan pelajaran fikih robotik sebagai bagian dari transformasi digital pendidikan.

“Perkembangan AI tidak bisa kita hindari, tetapi bisa kita antisipasi supaya nilai-nilai etika dan moral bisa dipegang oleh kita semua,” ujarnya.

Sementara itu, Nasaruddin juga mengapresiasi Huawei Indonesia yang dinilai tidak hanya fokus pada pengembangan teknologi, tetapi turut menghadirkan kontribusi sosial melalui program CSR bertajuk “Sharing Happiness, Qurban for Indonesia”.

Program tersebut diwujudkan melalui penyaluran 15 sapi dan 60 kambing ke 15 masjid di 10 kota di Indonesia.

Ia menilai kegiatan tersebut menjadi contoh bahwa perusahaan teknologi tetap dapat berjalan berdampingan dengan nilai keagamaan dan kepedulian sosial.

“Kontribusi nyata melalui donasi hewan kurban untuk masjid di berbagai kota di Indonesia adalah bukti bahwa kemajuan teknologi tidak harus mencabut korporasi dari nilai kemanusiaan dan keagamaan,” tutur Nasaruddin.

Melalui forum tersebut, para pembicara menekankan bahwa perkembangan AI dan teknologi digital di Indonesia harus tetap diarahkan untuk memperkuat kesejahteraan masyarakat dengan tetap menjaga nilai etika, moral, dan kemanusiaan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
PUI: Jangan Jadikan Ayat Al-Qur’an Bahan Olok-olok untuk Promosi Miras
PUI: Jangan Jadikan Ayat Al-Qur’an Bahan Olok-olok untuk Promosi Miras
Aktual
Polemik Istiqlal Masuk Bursa: Menguak Fakta Wakaf Saham Syariah
Polemik Istiqlal Masuk Bursa: Menguak Fakta Wakaf Saham Syariah
Aktual
Bikin Lomba Agustusan Pakai Uang Pendaftaran? Begini Hukumnya
Bikin Lomba Agustusan Pakai Uang Pendaftaran? Begini Hukumnya
Aktual
Legitimasi Historis Tokoh Partai di Pucuk Pimpinan PBNU
Legitimasi Historis Tokoh Partai di Pucuk Pimpinan PBNU
Aktual
Cegah Kekerasan Seksual, Kemenag Wajibkan CCTV hingga Cabut Izin Pesantren Nakal
Cegah Kekerasan Seksual, Kemenag Wajibkan CCTV hingga Cabut Izin Pesantren Nakal
Aktual
Muhammadiyah Soroti Tantangan Hafalan Surah Ad-Dhuha Berhadiah Miras di Festival Musik
Muhammadiyah Soroti Tantangan Hafalan Surah Ad-Dhuha Berhadiah Miras di Festival Musik
Aktual
Contoh Teks Doa Upacara 17 Agustus 2026 pada Peringatan HUT Ke-81 RI
Contoh Teks Doa Upacara 17 Agustus 2026 pada Peringatan HUT Ke-81 RI
Doa dan Niat
Rahasia Surah Ad-Dhuha, Kisah Turunnya Surat Penghiburan Bagi Rasulullah SAW
Rahasia Surah Ad-Dhuha, Kisah Turunnya Surat Penghiburan Bagi Rasulullah SAW
Aktual
Surat Ad-Dhuha: Arab, Latin, Arti, Makna, dan Keutamaannya
Surat Ad-Dhuha: Arab, Latin, Arti, Makna, dan Keutamaannya
Aktual
5 Amalan dan Doa Rebo Wekasan Lengkap, Tradisi Rabu Terakhir di Bulan Safar
5 Amalan dan Doa Rebo Wekasan Lengkap, Tradisi Rabu Terakhir di Bulan Safar
Aktual
Gerhana Matahari Terbesar di Inggris 12 Agustus 2026, Muhammadiyah Britania Raya Ajak Salat Kusuf
Gerhana Matahari Terbesar di Inggris 12 Agustus 2026, Muhammadiyah Britania Raya Ajak Salat Kusuf
Aktual
Belajar Kerukunan di Indonesia, Mahasiswa Jepang Tanya Zakat untuk Non-Muslim
Belajar Kerukunan di Indonesia, Mahasiswa Jepang Tanya Zakat untuk Non-Muslim
Aktual
Muktamar NU 2026: Gus Rozin Sampaikan Gagasan Besar untuk NU
Muktamar NU 2026: Gus Rozin Sampaikan Gagasan Besar untuk NU
Aktual
5 Tips Padu Padan 'Modest Wear' untuk Perempuan Berhijab, Tetap Stylish Tanpa Banyak Baju
5 Tips Padu Padan "Modest Wear" untuk Perempuan Berhijab, Tetap Stylish Tanpa Banyak Baju
Aktual
Bolehkah Imam Shalat Sambil Duduk? Ini Hukum dan Posisi Makmumnya
Bolehkah Imam Shalat Sambil Duduk? Ini Hukum dan Posisi Makmumnya
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar