Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kenapa Puasa Arafah Bisa Menghapus Dosa Dua Tahun? Ini Haditsnya

Kompas.com, 25 Mei 2026, 09:32 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Bulan Zulhijah selalu menghadirkan suasana spiritual yang berbeda bagi umat Islam.

Di tengah gema talbiyah para jemaah haji di Tanah Suci, umat Islam di berbagai penjuru dunia juga menyambut datangnya salah satu ibadah sunnah paling istimewa, yaitu puasa Arafah pada 9 Zulhijah.

Puasa ini bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Di balik amalan yang tampak sederhana tersebut, tersimpan keutamaan luar biasa yang membuat banyak orang menantikannya setiap tahun.

Rasulullah SAW bahkan menyebut puasa Arafah sebagai amalan yang dapat menghapus dosa selama dua tahun.

Keutamaan inilah yang kemudian membuat banyak umat Islam bertanya-tanya: mengapa puasa Arafah memiliki pahala sebesar itu?

Apa makna “menghapus dosa dua tahun” dalam hadits Nabi? Dan bagaimana penjelasan para ulama mengenai keistimewaan hari Arafah?

Hadits tentang Keutamaan Puasa Arafah

Dasar utama mengenai keutamaan puasa Arafah berasal dari hadits shahih riwayat Imam Muslim.

Dalam kitab Shahih Muslim, Abu Qatadah RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW pernah ditanya mengenai puasa hari Arafah.

Hadits tersebut berbunyi:

سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ؟ فَقَالَ: يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ

Artinya:

“Rasulullah SAW ditanya tentang puasa hari Arafah, lalu beliau menjawab: puasa itu dapat menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” (HR Muslim)

Hadits ini menjadi salah satu dalil paling populer tentang besarnya keutamaan puasa sunnah di bulan Zulhijah.

Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud “menghapus dosa” dalam hadits tersebut adalah dosa-dosa kecil, selama seseorang menjauhi dosa besar.

Penjelasan ini diterangkan oleh Imam An-Nawawi dalam kitab Syarh Shahih Muslim. Ia menyebut bahwa puasa Arafah menjadi sebab dihapuskannya dosa-dosa kecil seorang Muslim sebagai bentuk rahmat dan kemurahan Allah SWT.

Baca juga: Puasa Tarwiyah dan Arafah: Keutamaan, Hukum, dan Bacaan Niatnya

Mengapa Bisa Menghapus Dosa Dua Tahun?

Banyak ulama memandang bahwa keutamaan luar biasa puasa Arafah tidak dapat dilepaskan dari kemuliaan hari Arafah itu sendiri.

Hari tersebut merupakan puncak ibadah haji, ketika jutaan jemaah berkumpul di Padang Arafah untuk melaksanakan wukuf.

Dalam buku Fiqih Sunnah karya Sayyid Sabiq yang diterjemahkan Abu Aulia dan Abu Syauqina, dijelaskan bahwa hari Arafah termasuk hari paling mulia dalam kalender Islam.

Pada hari itu, rahmat Allah turun dengan sangat luas dan pintu ampunan dibuka selebar-lebarnya.

Bahkan dalam sejumlah riwayat disebutkan bahwa tidak ada hari ketika Allah lebih banyak membebaskan hamba-Nya dari api neraka selain hari Arafah.

Keistimewaan ini juga berkaitan dengan sepuluh hari pertama bulan Zulhijah yang sangat dicintai Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda:

“Tidak ada hari-hari yang amal saleh di dalamnya lebih dicintai Allah daripada sepuluh hari pertama Zulhijah.” (HR Bukhari)

Karena puasa Arafah dilakukan tepat pada salah satu hari paling agung tersebut, maka pahala dan ganjarannya pun menjadi sangat besar.

Maksud “Dosa Setahun yang Akan Datang”

Salah satu bagian hadits yang sering membuat penasaran adalah frasa “dosa setahun yang akan datang”. Bagaimana mungkin dosa yang belum dilakukan bisa dihapus?

Para ulama memberikan beberapa penjelasan mengenai hal ini. Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa maknanya bukan berarti seseorang bebas melakukan dosa di masa depan.

Akan tetapi, Allah memberikan perlindungan dan taufik sehingga seorang hamba dijaga dari berbagai dosa pada tahun berikutnya.

Sementara itu, sebagian ulama lain menafsirkan bahwa Allah akan memberikan kemudahan untuk bertaubat ketika seseorang terjatuh dalam kesalahan di masa mendatang.

Dalam buku Koleksi Doa & Dzikir Sepanjang Masa karya Ali Amrin Al Qurawy disebutkan bahwa puasa Arafah merupakan momentum penyucian jiwa.

Orang yang menjalankannya dengan penuh keikhlasan akan memperoleh limpahan rahmat, ketenangan hati, serta kesempatan memperbaiki diri di masa depan.

Baca juga: Kapan Puasa Arafah 2026? Ini Tanggal, Niat, dan Keutamaannya

Keutamaan Hari Arafah dalam Islam

Hari Arafah memiliki kedudukan sangat istimewa dalam Islam. Bahkan Allah SWT bersumpah dengan hari tersebut dalam Al-Qur’an.

Sebagian ulama tafsir menjelaskan bahwa yang dimaksud “syahid” dalam Surah Al-Buruj berkaitan dengan hari Arafah.

Selain itu, hari Arafah juga menjadi momentum turunnya salah satu ayat penting dalam Al-Qur’an, yaitu firman Allah dalam Surah Al-Maidah ayat 3:

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu...”

Menurut riwayat, ayat tersebut turun ketika Rasulullah SAW sedang melaksanakan wukuf di Arafah pada haji wada’.

Dalam kitab Lathaif Al-Ma’arif karya Ibnu Rajab Al-Hanbali dijelaskan bahwa hari Arafah merupakan hari pengampunan, pembebasan dari api neraka, serta hari dikabulkannya doa-doa.

Karena itu, para ulama menganjurkan umat Islam memperbanyak ibadah pada hari tersebut, mulai dari puasa, dzikir, doa, membaca Al-Qur’an, hingga memperbanyak istighfar.

Apakah Semua Orang Dianjurkan Puasa Arafah?

Walaupun memiliki keutamaan besar, puasa Arafah tidak berlaku sama untuk semua orang.

Mayoritas ulama menjelaskan bahwa puasa Arafah sangat dianjurkan bagi umat Islam yang tidak sedang menunaikan ibadah haji. Sementara bagi jemaah haji yang sedang wukuf di Arafah, hukumnya makruh.

Hal ini berdasarkan riwayat Abu Hurairah RA:

“Rasulullah SAW melarang puasa Arafah bagi orang yang berada di Arafah.” (HR Ahmad, Abu Daud, Nasa’i, dan Ibnu Majah)

Larangan tersebut mengandung hikmah besar. Jemaah haji membutuhkan kekuatan fisik dan stamina untuk menjalani rangkaian ibadah puncak di Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Oleh karena itu, mereka dianjurkan untuk tidak berpuasa agar tetap kuat beribadah.

Penjelasan serupa juga dapat ditemukan dalam buku Fiqih karya Hasbiyallah yang menyebut bahwa puasa Arafah disunnahkan bagi selain jemaah haji.

Baca juga: Kapan Puasa Tarwiyah 2026? Ini Tanggal, Niat, dan Keutamaannya

Puasa Arafah Bukan Sekadar Menahan Lapar

Para ulama mengingatkan bahwa esensi puasa Arafah bukan hanya menahan makan dan minum.

Lebih dari itu, puasa ini merupakan latihan spiritual untuk membersihkan hati dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Dalam kitab Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa puasa sejati adalah puasa seluruh anggota tubuh dari perbuatan dosa.

Mata dijaga dari hal haram, lisan dijaga dari ghibah dan dusta, serta hati dijauhkan dari penyakit iri dan sombong.

Oleh karena itu, seseorang yang ingin memperoleh keutamaan puasa Arafah dianjurkan memperbanyak amal saleh serta menjaga perilaku selama menjalankan ibadah tersebut.

Lafaz Niat Puasa Arafah

Bagi umat Islam yang ingin melaksanakan puasa Arafah, berikut bacaan niatnya:

نَوَيْتُ صَوْمَ عَرَفَةَ سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma ‘arafata sunnatal lillaahi ta’aalaa.

Artinya: “Saya niat berpuasa sunnah Arafah karena Allah Ta’ala.”

Niat dapat dibaca pada malam hari atau sebelum terbit fajar selama seseorang memang berniat menjalankan puasa sunnah.

Momentum Membersihkan Diri

Puasa Arafah menjadi pengingat bahwa Islam selalu membuka pintu ampunan bagi hamba-Nya.

Di tengah kesibukan dan dosa yang sering tidak disadari, Allah menghadirkan hari istimewa yang penuh rahmat dan penghapusan dosa.

Oleh karena itu, banyak ulama menyebut hari Arafah sebagai momentum emas untuk memperbaiki diri.

Tidak hanya dengan berpuasa, tetapi juga memperbanyak doa, memohon ampun, serta memperbaiki hubungan dengan sesama manusia.

Apalagi Rasulullah SAW telah menjanjikan keutamaan yang begitu besar bagi orang yang menjalankannya dengan penuh iman dan keikhlasan.

Di balik satu hari puasa itu, tersimpan harapan akan ampunan, rahmat, dan kehidupan yang lebih baik di sisi Allah SWT.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
Aktual
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar