Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Wanita Haid Tetap Bisa Raih Pahala Hari Arafah, Simak 5 Amalan Penggantinya!

Kompas.com, 25 Mei 2026, 12:49 WIB
Norma Desvia Rahman,
Farid Assifa

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Datangnya haid saat Hari Arafah sering kali membuat sebagian muslimah merasa sedih.

Tidak sedikit yang merasa kehilangan kesempatan meraih pahala besar dari puasa Arafah yang dikenal memiliki keutamaan luar biasa, yaitu menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.

Padahal, dalam Islam, haid bukanlah penghalang bagi seorang perempuan untuk tetap mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Haid merupakan fitrah yang telah ditetapkan Allah kepada setiap wanita. Oleh karena itu, muslimah yang sedang haid tetap memiliki banyak peluang ibadah dan amalan bernilai besar, khususnya pada Hari Arafah dan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.

Hari Arafah sendiri merupakan salah satu hari paling mulia dalam Islam. Hari yang jatuh setiap 9 Dzulhijjah itu menjadi puncak ibadah haji bagi para jemaah di Padang Arafah sekaligus momentum terbaik memperbanyak amal saleh bagi seluruh umat Islam di dunia.

Rasulullah SAW bersabda:

“Tidak ada hari-hari di mana amal saleh lebih dicintai Allah daripada hari-hari ini (sepuluh hari pertama Dzulhijjah).” (HR Bukhari)

Oleh karena itu, muslimah yang sedang haid tidak perlu berkecil hati. Meski tidak melaksanakan puasa Arafah maupun shalat Idul Adha, masih banyak pintu pahala lain yang dapat diraih dengan memperbanyak ibadah dan amal kebaikan.

Dikutip dari berbagai sumber keislaman, kitab ulama, hingga penjelasan fikih, berikut amalan yang bisa dilakukan wanita haid saat Hari Arafah dan bulan Dzulhijjah.

Mengapa Wanita Haid Tetap Bisa Meraih Keutamaan Hari Arafah?

Dalam Islam, perempuan yang sedang haid memang tidak diwajibkan melaksanakan shalat dan puasa.

Namun kondisi tersebut tidak menghalangi seorang muslimah untuk tetap berzikir, berdoa, bersedekah, hingga melakukan berbagai amal saleh lainnya.

Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Majmu’ menjelaskan bahwa wanita haid tetap dianjurkan memperbanyak dzikir dan amal ibadah yang memungkinkan dilakukan selama tidak melanggar ketentuan syariat.

Sementara dalam buku Fiqih Sunnah karya Sayyid Sabiq disebutkan bahwa Allah SWT menilai ketakwaan dan keikhlasan seorang hamba, bukan semata-mata bentuk ibadah lahiriahnya.

Dengan demikian, muslimah tetap dapat menjadikan Hari Arafah sebagai momentum mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui berbagai amalan hati dan lisan.

Baca juga: Kenapa Puasa Arafah Bisa Menghapus Dosa Dua Tahun? Ini Haditsnya

1. Memperbanyak Dzikir dan Shalawat

Salah satu amalan paling dianjurkan saat Hari Arafah adalah memperbanyak dzikir. Amalan ini sangat mudah dilakukan oleh wanita haid kapan pun dan di mana pun.

Dzikir yang dianjurkan antara lain membaca tasbih, tahmid, takbir, tahlil, dan istighfar. Rasulullah SAW juga menganjurkan umatnya memperbanyak kalimat tauhid pada Hari Arafah.

Dzikir yang paling utama dibaca saat Hari Arafah adalah:

“La ilaha illallahu wahdahu la syarikalah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai’in qadir.”

Dalam kitab Lathaif Al-Ma’arif karya Ibnu Rajab Al-Hanbali dijelaskan bahwa Hari Arafah merupakan waktu terbaik memperbanyak dzikir karena termasuk hari ketika Allah SWT membebaskan banyak hamba dari api neraka.

Selain dzikir, memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad SAW juga menjadi amalan yang dianjurkan.

Shalawat diyakini dapat mendatangkan ketenangan hati sekaligus menjadi sebab turunnya rahmat Allah SWT.

2. Memperbanyak Doa dan Istighfar

Hari Arafah dikenal sebagai salah satu waktu paling mustajab untuk berdoa. Rasulullah SAW bersabda:

“Sebaik-baik doa adalah doa pada Hari Arafah.” (HR Tirmidzi)

Oleh karena itu, muslimah yang sedang haid tetap dapat memanfaatkan hari mulia tersebut untuk memperbanyak doa, memohon ampunan, meminta keberkahan hidup, kesehatan, rezeki halal, hingga keteguhan iman.

Dalam buku Panduan Doa dan Dzikir Haji dan Umrah karya H. Deden Hafid Usman Lc dijelaskan bahwa Hari Arafah menjadi momentum terbaik untuk bermuhasabah dan memperbanyak istighfar atas dosa-dosa yang pernah dilakukan.

Banyak ulama salaf bahkan menghabiskan Hari Arafah dengan menangis dan memohon ampun kepada Allah SWT.

Di tengah kehidupan modern yang penuh kesibukan, Hari Arafah menjadi pengingat bahwa setiap manusia membutuhkan waktu untuk berhenti sejenak, memperbaiki hati, dan kembali mendekat kepada Sang Pencipta.

Baca juga: Puasa Tarwiyah dan Arafah: Keutamaan, Hukum, dan Bacaan Niatnya

3. Membaca dan Mendengarkan Al-Qur’an

Persoalan membaca Al-Qur’an bagi wanita haid memang memiliki perbedaan pendapat di kalangan ulama.

Namun sebagian ulama membolehkan wanita haid membaca Al-Qur’an tanpa menyentuh mushaf secara langsung.

Saat ini, banyak muslimah memanfaatkan aplikasi Al-Qur’an digital di ponsel untuk tetap membaca ayat-ayat suci selama haid.

Dalam buku Ensiklopedi Fikih Wanita karya Abu Malik Kamal dijelaskan bahwa sebagian ulama membolehkan wanita haid membaca Al-Qur’an karena tidak adanya dalil shahih yang secara tegas melarangnya.

Selain membaca, mendengarkan lantunan ayat suci Al-Qur’an juga menjadi amalan yang menenangkan hati dan mendatangkan pahala.

Hari Arafah bisa menjadi momentum memperbanyak tadabbur Al-Qur’an, memahami makna ayat, sekaligus memperbaiki hubungan spiritual dengan Allah SWT.

4. Bersedekah dan Berbagi Makanan

Amalan lain yang sangat dianjurkan saat Hari Arafah dan bulan Dzulhijjah adalah bersedekah.

Dalam Islam, sedekah bukan hanya tentang memberi uang, tetapi juga membantu sesama, berbagi makanan, hingga meringankan kesulitan orang lain.

Rasulullah SAW bersabda:

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputus amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak saleh.” (HR Muslim)

Muslimah yang sedang haid juga dapat memperoleh pahala puasa Arafah dengan membantu menyiapkan makanan berbuka bagi orang yang berpuasa.

Dalam hadits riwayat Tirmidzi disebutkan:

“Barang siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang itu sedikit pun.”

Karena itu, menyediakan hidangan berbuka untuk keluarga, tetangga, atau orang yang membutuhkan juga termasuk amalan mulia di Hari Arafah.

Baca juga: Kapan Puasa Arafah 2026? Ini Tanggal, Niat, dan Keutamaannya

5. Memperbanyak Muhasabah dan Memohon Ampunan

Hari Arafah juga dikenal sebagai hari pengampunan dosa. Pada hari tersebut, Allah SWT membuka pintu rahmat seluas-luasnya bagi hamba-hamba-Nya yang bertaubat.

Dalam hadits riwayat Muslim, Rasulullah SAW bersabda:

“Tidak ada hari ketika Allah lebih banyak membebaskan hamba dari neraka selain Hari Arafah.”

Oleh karena itu, wanita haid tetap dapat memperbanyak muhasabah diri, mengevaluasi kehidupan, memperbaiki hubungan dengan keluarga, serta memohon ampunan dengan penuh kerendahan hati.

Dalam kitab Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa ibadah terbaik bukan hanya yang dilakukan dengan anggota tubuh, tetapi juga ibadah hati berupa keikhlasan, kesabaran, dan taubat yang sungguh-sungguh.

Haid Bukan Penghalang Mendekat kepada Allah

Sering kali sebagian muslimah merasa tertinggal saat tidak bisa menjalankan puasa Arafah atau shalat Idul Adha karena haid.

Padahal Islam adalah agama yang penuh kasih sayang dan memahami kondisi setiap hamba-Nya.

Allah SWT tidak membebani seseorang di luar kemampuannya. Karena itu, wanita haid tetap memiliki peluang besar meraih pahala dan keutamaan Hari Arafah melalui dzikir, doa, sedekah, membaca Al-Qur’an, hingga memperbanyak istighfar.

Pada akhirnya, yang paling utama bukan hanya banyaknya ibadah yang dilakukan, melainkan ketulusan hati dan kesungguhan seorang hamba dalam mendekat kepada Allah SWT.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
Aktual
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar