Editor
KOMPAS.com - Jamaah haji reguler asal Indonesia mulai menempati tenda di Mina menjelang puncak pelaksanaan ibadah haji 1447 Hijriah/2026.
Salah satunya jamaah Kloter 40 UPG yang di dalamnya terdapat jamaah asal Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan.
Mina menjadi lokasi penting dalam rangkaian ibadah haji karena menjadi tempat mabit dan pelaksanaan lontar jumrah.
Baca juga: Tujuh Calon Haji Asal Riau Wafat di Tanah Suci, Kemenhaj Pastikan Hak Jamaah Dipenuhi
Kawasan Mina berada sekitar 5 kilometer di sebelah timur Kota Makkah d dikenal sebagai “Kota Tenda Terbesar di Dunia” karena menjadi tempat bermukim sementara jutaan jamaah haji dari berbagai negara selama musim haji berlangsung.
Petugas haji pun memperketat pengaturan pergerakan jamaah demi menjaga keamanan dan kenyamanan selama berada di kawasan suci tersebut.
Baca juga: Timwas Haji DPR Minta Petugas Waspadai Situasi Tak Terduga di Armuzna
Kloter 40 UPG menempati Maktab 60 Mina yang dibagi menjadi tiga bagian dengan total 393 jamaah.
Rinciannya, tenda pertama diisi 185 jamaah, tenda kedua sebanyak 128 jamaah, dan tenda ketiga ditempati 80 jamaah.
Tenda-tenda tersebut telah dilengkapi berbagai fasilitas penunjang, mulai dari toilet, dapur umum, tempat sampah, klinik kesehatan, hingga layanan pemandu bus menuju Arafah.
Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH), Abdul Karim Ashri, mengatakan penempatan tenda di Mina telah diatur berdasarkan kloter demi memberikan kenyamanan dan keamanan bagi jamaah Indonesia.
“Jadi, kami sudah mengatur sedemikian rupa agar jamaah haji Indonesia mendapatkan kenyamanan dan keamanan yang layak. Posisi tenda juga disesuaikan berdasarkan aturan kloter,” ujarnya saat dikonfirmasi melalui WhatsApp.
Puncak ibadah haji akan berlangsung di Arafah pada 9 Zulhijah melalui rangkaian wukuf yang dimulai sejak azan Zuhur hingga matahari terbenam.
Setelah menjalani wukuf di Padang Arafah, jamaah akan bergerak menuju Muzdalifah untuk mabit sekaligus mengumpulkan batu kerikil yang digunakan untuk melontar jumrah di Mina.
Jarak dari Maktab 60 Kloter 40 UPG menuju lokasi pelemparan jumrah diperkirakan sekitar 2 kilometer untuk perjalanan pergi dan sekitar 3 kilometer saat kembali.
Petugas haji juga mengimbau jamaah Indonesia mematuhi pengaturan waktu lontar jumrah demi menghindari kepadatan di kawasan Mina.
“Mulai pukul 09.30 hingga 15.50 WAS, jamaah Indonesia dilarang keluar untuk melempar jumrah karena waktu tersebut digunakan jamaah dari negara lain,” kata Karim.
Kebijakan tersebut diterapkan untuk mengurangi risiko penumpukan jamaah di terowongan Mina yang menjadi jalur utama menuju lokasi jamarat.
Selain menjaga ketertiban, jamaah juga diminta menyiapkan perlengkapan pribadi seperti air minum, payung, topi, dan kacamata guna menghindari dehidrasi dan paparan panas ekstrem.
Pasalnya, suhu udara di kawasan Mina dapat mencapai 45 derajat Celsius.
Khusus jamaah lanjut usia, petugas haji juga telah menyiapkan layanan badal lontar jumrah untuk membantu pelaksanaan ibadah mereka.
Di tengah lautan tenda putih Mina dan cuaca panas yang menyengat, jamaah haji Indonesia tetap menjalani rangkaian ibadah dengan penuh kesabaran dan kekhusyukan.
Perjalanan spiritual tersebut tidak hanya menjadi pelaksanaan rukun Islam, tetapi juga momentum memperkuat keikhlasan, kebersamaan, dan ketundukan kepada Allah SWT di Tanah Suci.
Artikel ini telah tayang di Tribun-Timur.com dengan judul "Jamaah Haji Sidrap Tempati Maktab 60 Mina, Suhu Capai 45 Derajat".
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang