Editor
KOMPAS.com - Situasi Iran kembali memanas setelah Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Ayatollah Mojtaba Khamenei, menyampaikan ancaman pembalasan atas kematian ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei.
Pernyataan tersebut menjadi pesan publik pertamanya sejak rangkaian pemakaman sang ayah dimulai sepekan lalu.
Di tengah meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat dan Israel, keberadaan Mojtaba Khamenei juga masih menjadi sorotan karena belum pernah tampil di hadapan publik.
Baca juga: Jenazah Ayatollah Ali Khamenei Tiba di Najaf, Ribuan Pelayat Iringi Prosesi Pemakaman
Kondisi tersebut memicu spekulasi mengenai situasi kepemimpinan di Iran pascaperang.
Dilansir dari Arab News (11/7/2026), Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, menegaskan bahwa pembalasan atas kematian pendahulunya sekaligus ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, merupakan tuntutan rakyat Iran.
Baca juga: Melayat Khamenei, Delegasi RI Dorong Perdamaian Konflik Iran-AS di Teheran
Namun, ia mengatakan aksi tersebut tidak hanya bergantung pada Iran, melainkan juga melibatkan "orang-orang merdeka di seluruh dunia."
Dalam pesan publik pertamanya yang disiarkan televisi pemerintah sejak prosesi pemakaman Ayatollah Ali Khamenei dimulai, disebutkan bahwa pembalasan merupakan "tuntutan rakyat" dan "pasti akan dilakukan."
Ayatollah Ali Khamenei diketahui tewas dalam serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari yang menjadi awal pecahnya perang.
"Kami berjanji akan menuntut balas atas darah pemimpin yang gugur sebagai syahid dan seluruh syuhada dalam dua perang ini dari para pembunuh yang keji dan tercela," demikian bunyi pernyataan tersebut.
Mojtaba Khamenei juga menegaskan bahwa rencana pembalasan akan tetap berjalan, terlepas dari kondisi dirinya saat ini.
"Baik kami hadir maupun tidak, janji itu akan tetap terlaksana. Dalam waktu dekat, setiap orang yang mencintai kebebasan di berbagai penjuru dunia akan mengambil bagian dalam misi suci ini," lanjut pernyataan tersebut.
Mojtaba Khamenei hingga kini belum terlihat di hadapan publik sejak ditunjuk sebagai Pemimpin Tertinggi Iran pada 8 Maret.
Menurut sejumlah sumber senior, ia mengalami cedera serius, termasuk luka pada bagian wajah akibat serangan udara yang menewaskan Ayatollah Ali Khamenei.
Sejak serangan tersebut, belum ada foto, rekaman video, maupun rekaman suara terbaru Mojtaba Khamenei yang dipublikasikan.
Kondisi itu memunculkan ketidakpastian di dalam negeri. Sejumlah warga Iran menilai pemimpin tertinggi yang baru perlu tampil di hadapan masyarakat, meskipun masih dalam kondisi cedera.
Mojtaba Khamenei diangkat sebagai Pemimpin Tertinggi Iran dengan dukungan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Di sisi lain, saling serang antara pasukan Amerika Serikat dan Iran dalam beberapa hari terakhir memunculkan keraguan terhadap keberlangsungan gencatan senjata yang sebelumnya disepakati Washington dan Teheran untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung selama empat bulan.
Iran menyatakan kesepakatan tersebut pada akhirnya akan memberikan manfaat ekonomi yang besar bagi negara itu.
Meski situasi kembali memanas, Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Jumat mengatakan kedua negara tetap sepakat melanjutkan perundingan, meskipun sebelumnya ia menyatakan gencatan senjata telah berakhir.
Sementara itu, jenazah Ayatollah Ali Khamenei yang memimpin Iran selama 37 tahun telah dimakamkan di tempat suci paling dihormati di negara tersebut.
Media pemerintah Iran melaporkan prosesi pemakaman dihadiri lautan pelayat yang memadati lokasi upacara sebagai penghormatan terakhir kepada pemimpin yang telah memimpin Republik Islam Iran selama hampir empat dekade.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang