Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Matahari Tepat di Atas Ka'bah Usai Azan Dzuhur, Apa yang Terjadi? Ini Faktanya

Kompas.com, 29 Mei 2026, 12:30 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Langit kota suci Makkah kembali menghadirkan fenomena astronomi langka yang menarik perhatian umat Islam dan ilmuwan di berbagai negara.

Tepat pada Kamis, 28 Mei 2026 pukul 12.18 waktu Arab Saudi, matahari berada hampir sempurna tepat di atas Ka'bah bersamaan dengan berkumandangnya adzan Dzuhur.

Fenomena tersebut bukan sekadar peristiwa langit biasa. Momentum ini dimanfaatkan umat Islam di berbagai penjuru dunia untuk memverifikasi kembali arah kiblat secara akurat hanya dengan memanfaatkan posisi matahari dan bayangan benda tegak.

Dilansir dari Arab News, fenomena tahunan itu kembali menjadi perhatian karena memiliki nilai ilmiah, historis, sekaligus spiritual yang sangat besar, terutama bagi umat Muslim yang tengah berada dalam suasana Hari Raya Idul Adha dan musim haji.

Apa yang Terjadi Saat Matahari Tepat di Atas Ka'bah?

Direktur Asosiasi Astronomi Jeddah, Majed Abu Zahra, menjelaskan bahwa pada momen tersebut matahari mencapai posisi hampir tegak lurus sempurna di atas Ka'bah dengan sudut elevasi sekitar 89,94 derajat.

Artinya, posisi matahari hanya berbeda sekitar 0,06 derajat dari titik vertikal sempurna atau zenith.

Dalam kondisi ini, bayangan benda-benda tegak di sekitar Ka'bah nyaris menghilang total karena sinar matahari jatuh tepat dari atas.

Fenomena tersebut terjadi akibat gerak semu tahunan matahari ketika melintasi garis lintang kota Makkah yang berada di sekitar 21,4 derajat Lintang Utara.

Secara astronomis, momen ini sangat penting karena arah datang cahaya matahari secara otomatis menunjuk langsung ke Ka'bah.

Oleh karena itu, umat Islam di berbagai negara dapat mengecek arah kiblat dengan cara sederhana, yakni memperhatikan arah bayangan benda tegak pada waktu yang sama.

Baca juga: Kemenag: Matahari di Atas Kabah 27-28 Mei, Saatnya Cek Arah Kiblat

Mengapa Fenomena Ini Sangat Penting bagi Umat Islam?

Bagi umat Islam, arah kiblat memiliki kedudukan sangat penting karena menjadi arah utama dalam pelaksanaan salat. Kesalahan arah kiblat sekecil apa pun dapat memengaruhi akurasi orientasi ibadah.

Fenomena matahari tepat di atas Ka'bah menjadi salah satu metode alami paling akurat untuk mengoreksi arah kiblat tanpa bantuan teknologi modern.

Dalam buku Ilmu Falak Praktis karya Muhyiddin Khazin dijelaskan bahwa metode rashdul kiblat atau penentuan arah kiblat melalui posisi matahari telah digunakan sejak lama oleh para ahli falak Muslim.

Ketika matahari berada tepat di atas Ka'bah, seluruh bayangan benda tegak di berbagai wilayah bumi akan mengarah berlawanan dengan posisi Ka'bah. Dari situlah arah kiblat dapat diketahui secara presisi.

Metode ini bahkan telah digunakan para ilmuwan Muslim sejak abad pertengahan untuk menentukan orientasi masjid di berbagai wilayah dunia.

Fenomena yang Hanya Terjadi Dua Kali Setahun

Menurut penjelasan Asosiasi Astronomi Jeddah, peristiwa matahari tepat di atas Ka'bah hanya terjadi dua kali dalam satu tahun.

Fenomena pertama biasanya berlangsung pada akhir Mei ketika matahari bergerak menuju Garis Balik Utara atau Tropic of Cancer.

Sementara fenomena kedua terjadi sekitar pertengahan Juli saat matahari bergerak kembali ke arah selatan.

Karena letak geografis Makkah berada di antara lintasan gerak semu matahari, posisi zenith di atas Ka'bah menjadi fenomena yang rutin tetapi sangat singkat.

Durasi presisi fenomena tersebut hanya berlangsung beberapa menit sehingga pengamatan harus dilakukan tepat waktu.

Baca juga: Cara Cek Arah Kiblat saat Matahari Tepat di Atas Kabah 27-28 Mei 2026

Bertepatan dengan Hari Tasyrik dan Musim Haji

Keunikan tahun 2026 semakin terasa karena fenomena astronomi ini berlangsung bertepatan dengan suasana Hari Tasyrik atau hari kedua setelah Idul Adha.

Momentum tersebut menjadikan suasana spiritual di Makkah terasa semakin istimewa. Jutaan jamaah haji yang tengah berada di Tanah Suci menyaksikan langsung fenomena alam yang jarang terjadi bersamaan dengan puncak musim ibadah haji.

Para astronom menjelaskan bahwa kombinasi antara kalender Hijriah dan kalender Masehi membuat keselarasan antara Hari Tasyrik dan posisi matahari di atas Ka'bah hanya terjadi dalam siklus tertentu.

Dalam laporan astronomi Asosiasi Astronomi Jeddah disebutkan bahwa irisan waktu semacam ini dapat berulang sekitar sekali dalam 33 tahun.

Cara Mengecek Arah Kiblat Saat Fenomena Berlangsung

Fenomena rashdul kiblat sebenarnya bisa dimanfaatkan masyarakat umum dengan cara yang sangat sederhana.

Berikut langkah-langkahnya:

  1. Siapkan benda tegak lurus seperti tongkat atau botol.
  2. Letakkan di tempat yang terkena sinar matahari langsung.
  3. Perhatikan arah bayangan tepat pada waktu fenomena berlangsung.
  4. Arah berlawanan dari bayangan tersebut merupakan arah kiblat menuju Ka'bah.

Di Indonesia, fenomena ini biasanya dapat diamati sekitar sore hari menyesuaikan perbedaan zona waktu dengan Arab Saudi.

Dalam buku Arah Kiblat dan Tata Cara Pengukurannya karya Slamet Hambali disebutkan bahwa metode rashdul kiblat memiliki tingkat akurasi tinggi karena memanfaatkan posisi astronomis matahari secara langsung.

Baca juga: Saudi Minta Jamaah Haji Hindari Sinar Matahari Langsung Saat Puncak Haji 2026

Apakah Fenomena Ini Menyebabkan Cuaca Ekstrem?

Munculnya matahari tepat di atas kepala sering kali memicu anggapan bahwa suhu udara otomatis menjadi sangat panas atau bahkan memicu gelombang panas ekstrem.

Namun, Pusat Meteorologi Nasional Arab Saudi menegaskan bahwa fenomena tersebut tidak secara langsung menyebabkan heatwave.

Otoritas meteorologi menjelaskan bahwa suhu udara dipengaruhi banyak faktor lain seperti kelembapan, kecepatan angin, tekanan udara, dan pergerakan massa udara regional.

Meski radiasi matahari saat zenith memang sangat kuat, kondisi cuaca di permukaan bumi tetap bergantung pada sistem iklim yang lebih kompleks.

Fenomena Astronomi yang Sarat Nilai Edukasi

Selain bernilai religius, fenomena matahari tepat di atas Ka'bah juga menjadi sarana edukasi astronomi yang menarik.

Peristiwa ini menunjukkan bagaimana ilmu falak, astronomi, dan ibadah dalam Islam memiliki hubungan yang sangat erat sejak zaman dahulu.

Dalam sejarah Islam, para ilmuwan seperti Al-Biruni hingga Ibnu Syatir dikenal mengembangkan metode astronomi untuk membantu navigasi, menentukan kalender hijriah, hingga menghitung arah kiblat.

Fenomena tahunan ini menjadi pengingat bahwa perkembangan ilmu pengetahuan dalam peradaban Islam pernah mencapai tingkat yang sangat maju.

Momentum Langka yang Selalu Dinantikan

Bagi banyak umat Muslim, fenomena matahari tepat di atas Ka'bah bukan hanya peristiwa ilmiah, tetapi juga pengalaman spiritual yang menimbulkan rasa takjub.

Di tengah kemajuan teknologi navigasi modern, alam ternyata masih menyediakan cara sederhana namun sangat presisi untuk menunjukkan arah kiblat.

Momentum singkat yang terjadi hanya beberapa menit ini menjadi pengingat tentang keteraturan alam semesta dan hubungan harmonis antara sains serta spiritualitas dalam ajaran Islam.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
Aktual
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar