Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Gus Yahya: Pemimpin Baru NU Masa Depan Harus Paham Isu Global

Kompas.com, 30 Mei 2026, 07:30 WIB
Norma Desvia Rahman,
Farid Assifa

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Ketua Umum Nahdlatul Ulama Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya menegaskan bahwa kepemimpinan NU di masa depan harus mampu menjawab tantangan era digital dan dinamika global.

Menurutnya, organisasi Islam terbesar di Indonesia itu tidak lagi bisa dikelola dengan cara-cara lama di tengah perubahan teknologi dan pola hidup masyarakat yang berkembang sangat cepat.

Gus Yahya menjelaskan bahwa skala NU yang sangat besar menuntut adanya transformasi sistem organisasi, termasuk melalui digitalisasi manajemen dan pembentukan kepemimpinan yang memiliki pemahaman luas terhadap teknologi serta persoalan internasional.

“Kalau kita lihat ukuran dari NU itu sendiri yang skalanya begitu besar sampai kurang lebih separuh dari Indonesia, saya bisa langsung sampai pada kesimpulan bahwa tidak mungkin ini dikelola secara manual. Harus ada cara yang lebih efektif untuk bisa melakukan pengelolaan yang mampu mengcover keseluruhan stakeholder dari NU ini,” ujar Gus Yahya di Jakarta, Jumat (29/5/2026).

Baca juga: Tanpa Meritokrasi di NU, Gus Yahya: Semua Orang Bisa Lompat ke Puncak

Oleh karena itu, PBNU saat ini mulai mengembangkan sistem digital untuk mendukung pengelolaan organisasi secara lebih modern dan terintegrasi.

Menurut Gus Yahya, digitalisasi bukan lagi pilihan tambahan, melainkan kebutuhan mendesak bagi organisasi sebesar NU.

“Itulah sebabnya kami mengembangkan sistem digital untuk manajemen organisasi dan tentu saja yang dibutuhkan ke depan adalah kepemimpinan yang cukup punya pemahaman tentang soal ini,” katanya.

Namun, tantangan NU menurut Gus Yahya tidak berhenti pada persoalan teknologi semata. Ia mengatakan bahwa NU kini berada dalam situasi global yang membuat organisasi tidak bisa lagi mengasingkan diri dari perkembangan dunia internasional.

“Kita sekarang juga memasuki satu era ketika NU tidak bisa lagi mengasingkan diri dari dinamika masyarakat yang luas, bukan hanya dalam skala nasional tapi juga secara internasional. Kita tidak bisa lari karena sekarang semua orang mencari, memburu NU untuk dilibatkan di dalam berbagai macam agenda yang dibuat oleh berbagai pihak,” tuturnya.

Oleh sebab itu, ia menilai pemimpin NU ke depan harus memiliki kemampuan memahami konstelasi global, isu sosial internasional, hingga problem kemanusiaan lintas negara.

Kepemimpinan yang hanya kuat secara keagamaan tanpa kemampuan membaca perubahan dunia dinilai tidak lagi cukup.

“Kita juga membutuhkan kepemimpinan yang memiliki kapasitas untuk memahami keseluruhan dinamika, konstelasi, dan problematika masyarakat secara luas, baik domestik, nasional maupun secara internasional,” ungkap Gus Yahya.

Baca juga: Krapyak, Rahim Intelektual NU: Dari Gus Dur hingga Gus Yahya

Di sisi lain, perkembangan teknologi digital juga melahirkan fenomena baru di kalangan generasi muda, termasuk dalam cara mereka belajar agama.

Gus Yahya mengakui bahwa media sosial dan platform digital kini menjadi ruang utama masyarakat mencari informasi keagamaan.

Menurutnya, fenomena tersebut tidak dapat dihindari karena merupakan konsekuensi perkembangan teknologi dan perubahan pola hidup masyarakat modern.

“Ini fenomena yang tak terelakkan karena perkembangan dari platform-platform digital dan juga perkembangan dari bagaimana teknologi mempengaruhi pola hidup masyarakat. Menurut saya sih tidak apa-apa, menurut saya positif saja,” katanya.

Meski demikian, Gus Yahya mengingatkan bahwa belajar agama hanya melalui media sosial memiliki keterbatasan serius.

Ia menilai agama tidak cukup dipahami hanya dari sisi pengetahuan atau aspek kognitif semata.

“Saya ingin katakan bahwa itu tidak cukup. Saya ingin sampaikan kepada generasi muda bahwa hanya mencari informasi keagamaan dari media-media digital itu tidak cukup karena agama itu bukan hanya aspek kognitif,” ucapnya.

Baca juga: Kiai Imjaz, Gus Yahya, dan Gus Yusuf Hadir di PMKNU Cirebon, Sinyal Panas Menuju Muktamar NU 2026

Menurut Gus Yahya, agama juga memiliki dimensi spiritual dan rohani yang tidak bisa diperoleh hanya lewat video pendek, unggahan media sosial, ataupun pesan berantai di aplikasi percakapan.

“Agama itu ada aspek spiritual, aspek rohani dan aspek rohani ini kan tidak bisa di-WA gitu ya. Aspek rohani ini membutuhkan direct engagement, one way or another,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa inti keberagamaan justru terletak pada dimensi ruhani yang membutuhkan hubungan langsung dengan guru, kiai, pesantren, atau lingkungan yang memiliki kapasitas spiritual.

“Transfer dari dimensi ruhaniah agama ini sebetulnya justru inti dari keberagamaan itu sendiri. Kalau cuma pengetahuan kognitif, orang bisa punya banyak pengetahuan tapi kelakuannya bejat itu bisa saja. Itu kenapa? Karena aspek ruhaninya tidak terurus,” ujar Gus Yahya.

Karena itulah, ia mendorong generasi muda agar tidak hanya bergantung pada media sosial dalam memahami agama, tetapi juga mencari jalur pembelajaran yang lebih terstruktur dan mendalam.

“Yang terbaik itu kalau dilakukan secara terstruktur. Artinya bukan hanya sekadar melihat-lihat YouTube atau sharing WA grup, tapi memang belajar secara terstruktur dan itu banyak platform yang menyediakan itu,” jelasnya.

Selain belajar secara sistematis, Gus Yahya juga mengingatkan pentingnya mencari pembimbing spiritual yang benar-benar memiliki kapasitas rohani, bukan sekadar popularitas atau citra di media sosial.

“Ini bukan soal citra ya. Banyak orang yang citranya seolah-olah sakti atau keramat tapi sebetulnya kapasitasnya untuk mentransfer kapasitas ruhani itu dipertanyakan,” ujarnya.

Ia menilai tradisi pesantren dan tarekat di lingkungan NU masih menjadi ruang penting untuk menjaga keseimbangan antara kemajuan teknologi dan kedalaman spiritualitas agama.

“Dalam tradisi NU itu masih tersedia simpul-simpul yang memang memiliki kredibilitas nyata untuk mampu mentransfer atau mendorong tumbuhnya kapasitas rohani kepada orang lain. Ada pesantren-pesantren dengan kiai-kiai yang memang punya kemampuan seperti itu,” tutur Gus Yahya.

Menurutnya, tantangan terbesar NU di era digital bukan hanya soal kemampuan mengikuti teknologi, tetapi juga bagaimana menjaga dimensi spiritual masyarakat agar tidak hilang di tengah banjir informasi.

Oleh karena itu, Gus Yahya menilai masa depan NU harus dibangun dengan kombinasi antara modernisasi organisasi, penguasaan teknologi, keterbukaan terhadap isu global, dan penguatan tradisi spiritual pesantren yang selama ini menjadi fondasi utama Nahdlatul Ulama.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
Aktual
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar