Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Benarkah Malaikat Sudah Berhaji 2.000 Tahun Sebelum Nabi Adam Diciptakan?

Kompas.com, 30 Mei 2026, 16:30 WIB
Add on Google
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Setiap tahun, jutaan Muslim dari berbagai penjuru dunia berkumpul di Makkah untuk menunaikan ibadah haji.

Mereka mengenakan pakaian ihram yang sama, mengelilingi Ka'bah, berlari kecil antara Shafa dan Marwah, berwukuf di Arafah, hingga melempar jumrah di Mina.

Seluruh rangkaian itu telah berlangsung selama berabad-abad dan menjadi salah satu simbol terbesar persatuan umat Islam.

Namun di balik ritual yang terus dijalankan hingga saat ini, tersimpan sebuah pertanyaan menarik yang sejak lama menjadi bahan kajian para ulama, mufasir, dan sejarawan Islam, siapakah yang pertama kali melaksanakan ibadah haji?

Apakah para malaikat yang sudah beribadah sebelum manusia diciptakan? Apakah Nabi Adam AS sebagai manusia pertama? Ataukah Nabi Ibrahim AS yang selama ini dikenal sebagai peletak dasar syariat haji?

Jawaban atas pertanyaan tersebut ternyata tidak sesederhana yang dibayangkan. Berbagai literatur klasik Islam memuat pandangan yang berbeda, masing-masing dengan argumentasi dan sumber yang menarik untuk ditelusuri.

Ketika Haji Dimulai Sebelum Manusia Ada?

Salah satu pendapat paling awal menyebutkan bahwa ibadah haji telah ada bahkan sebelum Nabi Adam AS diciptakan.

Pandangan ini berkaitan dengan kisah penciptaan manusia yang disebut dalam Al-Qur'an Surah Al-Baqarah ayat 30.

وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اِنِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةً ۗ قَالُوْٓا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاۤءَۚ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۗ قَالَ اِنِّيْٓ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ

Wa iż qāla rabbuka lil-malā'ikati innī jā‘ilun fil-arḍi khalīfah(tan), qālū ataj‘alu fīhā may yufsidu fīhā wa yasfikud-dimā'(a), wa naḥnu nusabbiḥu biḥamdika wa nuqaddisu lak(a), qāla innī a‘lamu mā lā ta‘lamūn(a)

Dalam ayat tersebut Allah SWT mengabarkan kepada para malaikat bahwa Dia akan menjadikan khalifah di bumi.

Sebagian ulama dan sejarawan kemudian mengaitkan ayat tersebut dengan riwayat-riwayat yang menjelaskan adanya ibadah tawaf yang dilakukan para malaikat jauh sebelum manusia hadir di bumi.

Dalam kitab Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali mengutip sebuah riwayat yang menyebutkan bahwa ketika Nabi Adam selesai menunaikan haji, para malaikat mendatanginya dan berkata:

"Wahai Adam, hajimu diterima Allah. Sesungguhnya kami telah berhaji di Baitullah ini dua ribu tahun sebelum engkau."

Riwayat tersebut juga disebutkan oleh sejumlah ulama klasik, meskipun sebagian ahli hadis menilai sanadnya tidak mencapai derajat sahih.

Kendati demikian, riwayat ini tetap menjadi bagian dari khazanah sejarah Islam yang sering dikutip ketika membahas asal-usul ibadah haji.

Dalam buku Manajemen Haji dan Umroh: Mengelola Perjalanan Tamu Allah ke Tanah Suci karya Drs. H. Noor Hamid dijelaskan bahwa sejumlah ulama menafsirkan adanya hubungan antara Baitullah di bumi dengan Baitul Ma'mur di langit.

Baitul Ma'mur digambarkan sebagai rumah ibadah yang berada di langit ketujuh dan setiap hari dikunjungi ribuan malaikat untuk beribadah kepada Allah SWT.

Menurut penjelasan yang dikutip dari karya Al-Kharbuthli, ketika para malaikat memohon ampun kepada Allah, mereka melakukan tawaf mengelilingi Arsy.

Setelah itu Allah menciptakan Baitul Ma'mur dan memerintahkan mereka bertawaf di sekelilingnya.

Selanjutnya, Allah memerintahkan para malaikat di bumi untuk membangun bangunan yang menyerupai Baitul Ma'mur dan mengelilinginya sebagaimana malaikat di langit bertawaf.

Jika pandangan ini diterima, maka malaikatlah yang pertama kali melakukan ritual yang menjadi cikal bakal ibadah haji.

Baca juga: Jejak Sejarah Aceh di Balik Kampung Haji Indonesia di Arab Saudi

Nabi Adam dan Hawa: Peziarah Pertama di Bumi?

Pendapat kedua menyebut bahwa manusia pertama yang melaksanakan haji adalah Nabi Adam AS.

Pandangan ini cukup banyak ditemukan dalam literatur sejarah Islam klasik. Menurut sejumlah riwayat, setelah Nabi Adam dan Hawa diturunkan ke bumi, Allah memerintahkan mereka membangun rumah ibadah di lokasi Ka'bah saat ini.

Dalam beberapa kitab sejarah Islam disebutkan bahwa Malaikat Jibril menunjukkan lokasi Baitullah kepada Nabi Adam.

Setelah bangunan itu selesai didirikan, Allah memerintahkan Adam dan Hawa untuk melakukan tawaf.

Riwayat ini kemudian melahirkan keyakinan bahwa Nabi Adam adalah manusia pertama yang melakukan ritual haji dan tawaf sebagaimana dikenal umat Islam sekarang.

Dalam buku Qashash al-Anbiya karya Ibnu Katsir dijelaskan bahwa sejumlah ulama salaf meyakini Ka'bah telah dikenal sejak masa Nabi Adam.

Bahkan sebagian riwayat menyebutkan bahwa para nabi setelah Adam juga mendatangi Baitullah untuk beribadah.

Meski demikian, para ulama juga menegaskan bahwa sebagian besar riwayat mengenai detail pembangunan Ka'bah pada masa Adam berasal dari atsar dan kisah-kisah sejarah yang tidak semuanya memiliki sanad kuat seperti hadis-hadis hukum.

Karena itulah, informasi tersebut lebih banyak ditempatkan sebagai bagian dari sejarah dan tradisi keilmuan Islam.

Misteri Ka'bah yang Telah Ada Sebelum Nabi Ibrahim

Banyak umat Islam mengenal Nabi Ibrahim AS sebagai sosok yang membangun Ka'bah.

Pandangan ini memang memiliki dasar yang kuat dalam Al-Qur'an. Namun menariknya, Al-Qur'an tidak menggunakan kata "membangun" ketika menjelaskan hubungan Nabi Ibrahim dengan Ka'bah.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 127:

"Dan (ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan fondasi Baitullah bersama Ismail..."

Kata yang digunakan dalam ayat tersebut adalah yarfa'u al-qawa'id, yang berarti meninggikan atau mengangkat fondasi yang telah ada.

Dalam tafsirnya, M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah menjelaskan bahwa ayat tersebut memberikan kesan bahwa fondasi Ka'bah telah ada sebelum masa Nabi Ibrahim.

Artinya, Ibrahim dan Ismail bukan membangun Ka'bah dari nol, melainkan meninggikan kembali fondasi yang sudah ada sebelumnya.

Baca juga: Sejarah Kiswah Ka’bah: Siapa Sosok Pertama yang Menyelimutinya?

Lalu siapa yang pertama kali membangun fondasi tersebut?

Di sinilah muncul berbagai pendapat yang menghubungkannya dengan malaikat atau Nabi Adam.

Karena tidak ada nash Al-Qur'an maupun hadis sahih yang secara tegas menjelaskan hal itu, para ulama memilih tidak memastikan satu pendapat tertentu.

Mengapa Nama Nabi Ibrahim Paling Identik dengan Haji?

Meskipun terdapat perbedaan pandangan mengenai siapa yang pertama kali berhaji, mayoritas ulama sepakat bahwa syariat haji yang dikenal umat Islam saat ini berakar pada Nabi Ibrahim AS.

Setelah meninggikan fondasi Ka'bah bersama Nabi Ismail AS, Allah memerintahkan Ibrahim menyeru manusia agar datang menunaikan haji.

Perintah tersebut tercantum dalam Surah Al-Hajj ayat 27:

"Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh."

Menurut Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim, setelah menerima perintah tersebut Nabi Ibrahim bertanya bagaimana mungkin suaranya bisa didengar seluruh manusia.

Allah kemudian menjawab bahwa tugas Ibrahim hanyalah menyeru, sedangkan Allah yang akan menyampaikan seruan itu kepada manusia.

Karena itulah, dalam tradisi Islam Nabi Ibrahim dikenal sebagai tokoh yang menghidupkan kembali Ka'bah dan menjadi pelopor syariat haji yang terus dijalankan hingga sekarang.

Haji dan Jejak Para Nabi

Menariknya, sejumlah riwayat juga menyebut bahwa banyak nabi pernah berhaji ke Baitullah.

Dalam kitab-kitab sejarah Islam disebutkan bahwa Nabi Nuh, Nabi Hud, Nabi Shalih, hingga Nabi Musa pernah mendatangi Ka'bah untuk beribadah kepada Allah SWT.

Imam An-Nawawi dalam beberapa penjelasannya mengutip riwayat yang menunjukkan bahwa Ka'bah telah menjadi pusat ibadah tauhid jauh sebelum masa Rasulullah SAW.

Hal ini menunjukkan bahwa haji bukan sekadar ritual yang muncul pada masa Islam, melainkan memiliki akar sejarah yang sangat panjang dalam perjalanan kenabian.

Baca juga: Mengapa Kubah Masjid Nabawi Berwarna Hijau? Ini Sejarah dan Maknanya

Apa Kata Para Ulama Modern?

Para ulama kontemporer umumnya mengambil posisi yang lebih hati-hati.

Menurut mereka, yang paling penting bukanlah memastikan secara mutlak siapa yang pertama kali berhaji, melainkan memahami bahwa Ka'bah telah menjadi pusat ibadah tauhid sejak masa yang sangat awal dalam sejarah manusia.

Dalam buku Fi Zhilal Al-Qur'an, Sayyid Qutb menjelaskan bahwa Ka'bah merupakan simbol penghambaan kepada Allah yang menghubungkan generasi demi generasi sejak zaman para nabi hingga umat Islam saat ini.

Oleh karena itu, perbedaan pendapat mengenai siapa yang pertama berhaji tidak mengubah hakikat bahwa seluruh nabi mengajarkan tauhid yang sama.

Sebuah Pertanyaan yang Menyimpan Banyak Pelajaran

Pertanyaan tentang siapa yang pertama kali melaksanakan ibadah haji mungkin tidak memiliki satu jawaban tunggal yang disepakati seluruh ulama.

Sebagian riwayat menunjuk para malaikat sebagai pelaku haji pertama sebelum manusia diciptakan.

Sebagian lainnya meyakini Nabi Adam AS sebagai manusia pertama yang bertawaf dan berhaji. Sementara itu, banyak ulama menempatkan Nabi Ibrahim AS sebagai tokoh utama yang menghidupkan kembali Ka'bah dan memperkenalkan syariat haji kepada umat manusia.

Di balik perbedaan pandangan tersebut, terdapat satu kesimpulan yang hampir tidak diperselisihkan, Ka'bah adalah rumah ibadah tertua yang menjadi simbol tauhid dan penghambaan kepada Allah SWT.

Setiap musim haji, ketika jutaan Muslim bergerak serempak mengelilingi Ka'bah, mereka sesungguhnya sedang melanjutkan jejak sejarah panjang yang telah dimulai sejak masa para nabi, bahkan menurut sebagian riwayat, sejak para malaikat belum pernah berhenti bertasbih kepada Sang Pencipta.

Mungkin itulah sebabnya haji tidak hanya menjadi perjalanan fisik menuju Makkah, tetapi juga perjalanan spiritual yang menghubungkan manusia dengan mata rantai sejarah keimanan yang telah berlangsung selama ribuan tahun.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com