Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kisah Bakti Rina, Kembali Berhaji untuk Badal Haji Sang Ibu yang Telah Wafat

Kompas.com, 2 Juni 2026, 18:16 WIB
Puspasari Setyaningrum

Editor

KOMPAS.com - Di tengah pelaksanaan ibadah haji 2026 yang diikuti jutaan Muslim dari berbagai negara, terselip kisah haru seorang jemaah asal Papua yang menunaikan haji untuk mendiang ibunya.

Rina Abdullah, jemaah asal Jayapura, kembali berangkat ke Tanah Suci bukan untuk menjalankan haji bagi dirinya sendiri, melainkan untuk membadalkan ibadah haji sang ibu yang telah wafat pada 2002.

Niat tersebut telah disimpannya sejak menunaikan ibadah haji pertama pada 2011 dan terus diperjuangkan selama bertahun-tahun.

Baca juga: 195.326 Jemaah Haji Indonesia Bayar Dam, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Setelah menunggu lebih dari satu dekade, doa dan harapannya akhirnya terwujud pada musim haji 1447 H/2026 M.

Berawal dari Keberangkatan Haji Pertama pada 2011

Rina, perempuan kelahiran Makassar yang tumbuh besar di Jayapura, pertama kali menunaikan ibadah haji pada 2011 setelah mendaftar pada 2008.

Baca juga: Jemaah Haji Pulang Diikuti Malaikat, Mitos atau Fakta? Ini Penjelasannya

Pengalaman melihat Ka'bah untuk pertama kali masih membekas kuat dalam ingatannya hingga saat ini.

Saat itu, ia tidak mampu menahan haru karena akhirnya bisa menyaksikan langsung tempat suci yang selama ini hanya dilihat melalui layar televisi.

"Orang tanya kenapa nangis, ya enggak bisa dijelaskan. Selama ini cuma lihat di TV, ternyata sekarang benar-benar ada di depan mata," kenangnya saat ditemui tim Media Center Haji (MCH) di Mina, Makkah, Kamis (28/5/2026).

Di tengah kekhusyukan menjalani ibadah haji pertamanya, Rina menyimpan satu harapan yang terus dibawanya hingga bertahun-tahun kemudian.

Saat melaksanakan tawaf wada, ia berdoa agar suatu hari Allah kembali memanggilkannya ke Tanah Suci sehingga dapat menghadiahkan ibadah haji untuk sang ibu.

Berangkat Menunaikan Niat untuk Badal Haji Sang Ibu

Menurut Rina, ibunya meninggal dunia akibat sakit pada 2002 sebelum sempat menunaikan ibadah haji.

Sosok ibunya dikenang sebagai perempuan pekerja keras yang sepanjang hidupnya berjuang untuk keluarga.

Kepergian sang ibu bahkan terjadi sebelum Rina menikah.

"Rasanya seperti punya utang. Saya sudah bisa ke sini, sementara ibu belum sempat. Jadi saya berdoa, kalau Allah mudahkan rezeki, saya ingin membadalkan haji ibu," tuturnya.

Dua tahun setelah menyelesaikan haji pertamanya, Rina kembali mendaftarkan diri pada 2013.

Kali ini, pendaftaran tersebut dilakukan khusus untuk membadalkan ibadah haji ibunya.

Perjalanan menuju keberangkatan tidak berjalan mudah.

Saat musim haji tiba, statusnya masih tercatat sebagai jemaah cadangan sehingga kepastian keberangkatan baru diperoleh sekitar dua minggu sebelum berangkat ke Arab Saudi.

Meski demikian, Rina tetap berusaha dan menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah.

"Saya urus semua. Bismillah saja. Yang penting ikhtiar. Kalau memang Allah mengizinkan berangkat, pasti ada jalannya," ujarnya.

Wukuf di Arafah Menjadi Momen Paling Berkesan

Setelah penantian panjang lebih dari 10 tahun, Rina akhirnya dapat menunaikan amanah yang selama ini disimpan dalam hatinya.

Momen yang paling membekas baginya terjadi saat wukuf di Arafah.

Selama berada di Padang Arafah, ia menghabiskan waktu untuk berdoa bukan hanya bagi ibunya, tetapi juga untuk keluarga besar, saudara-saudaranya, hingga para tetangga yang menitipkan harapan agar suatu saat dapat berangkat ke Tanah Suci.

"Doa yang paling sering saya ulang-ulang itu supaya saudara-saudara saya bisa ke sini juga. Jangan saya saja. Tetangga yang titip doa juga saya doakan. Kita kan cuma perantara. Kalau niat baik, insya Allah Allah dengar," katanya.

Rina Tetap Membantu Jemaah Lain Meski Cedera

Berbeda dengan pengalaman hajinya pada 2011 yang dimulai dari Madinah, perjalanan haji kali ini dirasakan lebih berat.

Usia yang bertambah membuat kondisi fisiknya tidak sekuat sebelumnya.

Rangkaian ibadah Armuzna yang membutuhkan kesiapan fisik dan mental juga menjadi tantangan tersendiri.

"Kalau sekarang lebih terasa capeknya. Faktor umur juga. Tapi ya dijalani saja. Namanya haji memang melatih kesabaran," ujarnya.

Kesabaran itu semakin diuji ketika Rina mengalami cedera kaki hingga terkilir di tengah cuaca panas dan padatnya aktivitas ibadah.

Meski merasakan sakit, ia tetap berupaya menyelesaikan seluruh rangkaian ibadah haji.

Bahkan saat kondisinya tidak sepenuhnya prima, perempuan yang merupakan anak kedua dari delapan bersaudara itu masih membantu jemaah lain.

Salah seorang teman sekamarnya tidak mampu menyelesaikan lontar jumrah sehingga Rina bersedia membadalkan lempar jumrah tersebut.

"Kasihan kalau enggak bisa lanjut. Kalau saya masih bisa bantu, saya bantu saja," ucapnya.

Menurut Rina, membantu sesama juga merupakan bagian dari ibadah yang tidak terpisahkan dari perjalanan hajinya.

"Kalau kita bermanfaat buat orang banyak, insya Allah rezeki juga dimudahkan. Saya percaya itu," ujarnya.

Kisah Rina Wujud Perjalanan Bakti dan Cinta Seorang Anak untuk Ibunya

Di usia 49 tahun, Rina akhirnya berhasil menuntaskan niat yang telah disimpannya sejak lama.

Dalam setiap tawaf, doa di Arafah, hingga lontar jumrah yang dilakukannya, selalu terselip nama sang ibu yang telah lebih dahulu berpulang.

Bagi Rina, perjalanan haji kali ini bukan sekadar memenuhi kewajiban ibadah di Tanah Suci.

Lebih dari itu, haji 2026 menjadi wujud bakti dan cinta seorang anak kepada ibunya yang tidak pernah benar-benar berakhir.

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul “Demi Bakti pada Sang Ibu, Rina Kembali ke Tanah Suci untuk Badal Haji”.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
Aktual
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar