Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Warisan Gus Dur untuk Gen Z, Hamzah Sahal Soroti Dua Nilai Penting

Kompas.com, 4 Juni 2026, 06:15 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Direktur NU Online, Hamzah Sahal menilai generasi muda perlu meneladani dua warisan utama yang ditinggalkan Presiden keempat RI sekaligus tokoh Nahdlatul Ulama (NU), Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

Menurutnya, keteguhan dalam memegang prinsip dan kemampuan membangun solidaritas menjadi nilai yang tetap relevan bagi Generasi Z di tengah perubahan sosial yang semakin cepat.

Hal itu disampaikan Hamzah saat berbicara mengenai sosok Gus Dur dan relevansinya bagi anak muda masa kini.

Ia menegaskan bahwa meskipun sosok Gus Dur tidak tergantikan, nilai-nilai yang diperjuangkannya masih hidup dan terus diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Gus Dur hanya diciptakan oleh Yang Maha Penguasa, Yang Maha Pencipta. Hanya satu Gus Dur itu, tidak ada. Tetapi menurut saya gagasan-gagasan Gus Dur tentang solidaritas, tentang kebersamaan hidup di tengah perbedaan, tentang kritikisme itu sekarang banyak ditiru,” kata Hamzah di Jakarta, Rabu (3/6/2026).

Baca juga: Tanpa Meritokrasi di NU, Gus Yahya: Semua Orang Bisa Lompat ke Puncak

Menurut Hamzah, budaya kritik dan perbedaan pendapat yang selama ini berkembang di lingkungan NU tidak bisa dilepaskan dari pengaruh pemikiran Gus Dur.

Ia menyebut dinamika yang terjadi di dalam organisasi merupakan bagian dari tradisi demokrasi yang sehat.

“Di lingkungan NU kritik-kritik itu biasa, dinamis sekali. Ini mungkin bising, tetapi demokrasi memang bising. Perbedaan-perbedaan itu biasa. Namanya perbedaan tidak dianggap masalah. Main bola saja di lapangan saling berkejaran, berkompetisi, bahkan saling tendang. Tapi setelah peluit berakhir, setelah 90 menit habis, salaman, rangkul-rangkulan. Yang menang diberi ucapan selamat,” ujarnya.

Hamzah menjelaskan bahwa salah satu alasan mengapa pemikiran Gus Dur masih bertahan hingga sekarang adalah karena nilai-nilai tersebut terus dirawat oleh berbagai komunitas, termasuk kalangan muda.

Salah satunya melalui jaringan Gusdurian yang saat ini banyak diisi oleh generasi muda dari berbagai daerah.

“Ada komunitas Gusdurian yang dipimpin oleh putrinya Gus Dur, Mbak Alissa Wahid. Aktivisnya sekarang Gen Z banyak sekali dan itu se-Indonesia. Belum lama mereka mengadakan musyawarah dan yang datang dari berbagai macam latar belakang sosial, ekonomi, bahkan berbeda-beda daerah. Mereka gotong royong, tidak dibayar, tidak ditransportasi. Mereka relawan yang datang dengan sukarela,” jelas Hamzah.

Menurutnya, keterlibatan anak muda dalam komunitas tersebut menunjukkan bahwa gagasan Gus Dur masih memiliki daya tarik kuat bagi generasi saat ini.

Terlebih, nilai-nilai yang dibawa tidak hanya berbicara soal toleransi, tetapi juga solidaritas yang lebih luas.

Hamzah mengatakan ada dua hal yang menurutnya paling penting untuk diwariskan dari Gus Dur kepada Gen Z. Pertama adalah keteguhan dalam memegang prinsip dan keyakinan.

“Nah ada dua hal menurut saya yang penting untuk diteladani dari Gus Dur. Yang pertama adalah sikap keteguhannya dalam membela prinsip. Keteguhannya Gus Dur dalam ber-NU, dalam beragama, dalam prinsip berkebangsaan, itu penting sekali. Prinsip Gus Dur itu tanpa bisa ditawar,” ungkapnya.

Baca juga: Wasekjen PBNU: Jika Gus Dur Masih Hidup, Beliau Pasti Kritik NU Saat Ini

Ia mencontohkan bagaimana Gus Dur tetap mempertahankan prinsip yang diyakininya bahkan ketika menghadapi tekanan politik saat menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia.

“Makanya Gus Dur tidak mau bernegosiasi ketika menjadi presiden. Mending beliau lengser karena tidak mau bernegosiasi atau berkompromi yang terlalu berlebih. Karena ada prinsip-prinsip yang harus dijaga. Itu Gus Dur. Gus Dur rela,” tambah Hamzah.

Selain keteguhan, Hamzah menilai solidaritas merupakan warisan penting lainnya yang perlu ditanamkan kepada generasi muda.

Menurutnya, selama menjadi aktivis, budayawan, ulama hingga presiden, Gus Dur selalu berupaya membangun hubungan dengan berbagai kelompok masyarakat tanpa memandang latar belakang agama maupun identitas sosial.

“Yang kedua menurut saya teladan Gus Dur adalah solidaritas. Gus Dur selama kariernya menjadi aktivis NU, budayawan, menjadi agamawan, itu membangun solidaritas keagamaan di mana-mana. Makanya waktu itu kita kenal Gus Dur akrab dengan Romo Mangun, dengan banyak elemen bangsa yang agamanya berbeda,” tuturnya.

Ia menegaskan bahwa yang dibangun Gus Dur bukan sekadar toleransi dalam arti sempit, melainkan solidaritas sosial yang mampu mempertemukan berbagai kelompok dalam kehidupan berbangsa.

“Sebetulnya yang sedang dibangun oleh Gus Dur adalah solidaritas. Solidaritas, bukan hanya soal toleransi. Kalau toleransi itu hanya satu tema saja. Tapi di luar itu kan banyak sekali. Solidaritas kebangsaan, solidaritas kemasyarakatan,” tegasnya.

Baca juga: Gus Yahya: Kritik Gus Dur Soal Keikhlasan Harus Membayangi Kader NU

Hamzah menilai pesan tersebut semakin penting di era digital ketika banyak orang cenderung hidup dalam kelompoknya masing-masing dan terjebak dalam polarisasi sosial.

“Ini perlu sekali kita teladani. Tidak boleh hidup nafsi-nafsi, sendirian-sendirian. Di banyak tempat harus memperkuat komunitas-komunitas. Di tengah teknologi yang makin mempersempit kehidupan kita ini, teladan solidaritas itu penting,” ujarnya.

Karena itu, ia mengajak generasi muda untuk menjadi penggerak solidaritas di lingkungan masing-masing, baik dalam keluarga, komunitas, maupun masyarakat luas.

“Sehingga kita ini menjadi solidarity maker di komunitasnya masing-masing. Di keluarga, di komunitas olahraga, di komunitas sosial. Itu penting sekali. Kalau orang bertanya kepada saya apa yang paling penting dari Gus Dur, ada dua. Keteguhan dalam memegang prinsip dan solidaritas. Toleransi itu bagian dari solidaritas,” pungkas Hamzah.

Menurutnya, dua nilai tersebut menjadi bekal penting bagi Generasi Z untuk menghadapi tantangan masa depan sekaligus menjaga kehidupan kebangsaan yang harmonis di tengah keberagaman Indonesia.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Muhammadiyah Soroti Tantangan Hafalan Surah Ad-Dhuha Berhadiah Miras di Festival Musik
Muhammadiyah Soroti Tantangan Hafalan Surah Ad-Dhuha Berhadiah Miras di Festival Musik
Aktual
Contoh Teks Doa Upacara 17 Agustus 2026 pada Peringatan HUT Ke-81 RI
Contoh Teks Doa Upacara 17 Agustus 2026 pada Peringatan HUT Ke-81 RI
Doa dan Niat
Rahasia Surah Ad-Dhuha, Kisah Turunnya Surat Penghiburan Bagi Rasulullah SAW
Rahasia Surah Ad-Dhuha, Kisah Turunnya Surat Penghiburan Bagi Rasulullah SAW
Aktual
Surat Ad-Dhuha: Arab, Latin, Arti, Makna, dan Keutamaannya
Surat Ad-Dhuha: Arab, Latin, Arti, Makna, dan Keutamaannya
Aktual
5 Amalan dan Doa Rebo Wekasan Lengkap, Tradisi Rabu Terakhir di Bulan Safar
5 Amalan dan Doa Rebo Wekasan Lengkap, Tradisi Rabu Terakhir di Bulan Safar
Aktual
Gerhana Matahari Terbesar di Inggris 12 Agustus 2026, Muhammadiyah Britania Raya Ajak Salat Kusuf
Gerhana Matahari Terbesar di Inggris 12 Agustus 2026, Muhammadiyah Britania Raya Ajak Salat Kusuf
Aktual
Belajar Kerukunan di Indonesia, Mahasiswa Jepang Tanya Zakat untuk Non-Muslim
Belajar Kerukunan di Indonesia, Mahasiswa Jepang Tanya Zakat untuk Non-Muslim
Aktual
Muktamar NU 2026: Gus Rozin Sampaikan Gagasan Besar untuk NU
Muktamar NU 2026: Gus Rozin Sampaikan Gagasan Besar untuk NU
Aktual
5 Tips Padu Padan 'Modest Wear' untuk Perempuan Berhijab, Tetap Stylish Tanpa Banyak Baju
5 Tips Padu Padan "Modest Wear" untuk Perempuan Berhijab, Tetap Stylish Tanpa Banyak Baju
Aktual
Bolehkah Imam Shalat Sambil Duduk? Ini Hukum dan Posisi Makmumnya
Bolehkah Imam Shalat Sambil Duduk? Ini Hukum dan Posisi Makmumnya
Aktual
4 Doa Rebo Wekasan 2026, Lengkap Arab, Latin, dan Terjemahnya
4 Doa Rebo Wekasan 2026, Lengkap Arab, Latin, dan Terjemahnya
Doa dan Niat
Tradisi Rebo Wekasan Dimulai Malam Ini, Simak Sederet Amalan yang Bisa Dilakukan
Tradisi Rebo Wekasan Dimulai Malam Ini, Simak Sederet Amalan yang Bisa Dilakukan
Aktual
Apa Itu Rebo Wekasan? Mengenal Tradisi Rabu di Terakhir Bulan Safar
Apa Itu Rebo Wekasan? Mengenal Tradisi Rabu di Terakhir Bulan Safar
Aktual
Guru Besar UIN Bandung: Merdeka Juga Harus dari Kebencian, Fanatisme, dan Hoaks
Guru Besar UIN Bandung: Merdeka Juga Harus dari Kebencian, Fanatisme, dan Hoaks
Aktual
Niat Sholat Ba'diyah Isya: Arab, Latin, Rakaat, dan Tata Caranya
Niat Sholat Ba'diyah Isya: Arab, Latin, Rakaat, dan Tata Caranya
Doa Harian
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar