Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tangis Haru Nenek Jumaria Ikon Mecca Route, Tuntaskan Haji: Ingin Kembali Lagi ke Tanah Suci

Kompas.com, 11 Juni 2026, 15:17 WIB
Pythag Kurniati,
Khairina

Tim Redaksi

JEDDAH, KOMPAS.com- Jumaria P Sire Said (70), nenek asal Desa Kuru Sumange, Kecamatan Tanralili, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan itu tak kuasa menahan air mata saat mengungkap asanya.

Nenek yang terpilih menjadi ikon 'Mecca Route' tersebut ingin Allah memanggilnya kembali ke Baitullah suatu saat nanti.

"Saya berdoa mau kembali lagi ke sini," kata Jumaria yang telah menuntaskan ibadah hajinya dengan haru di Bandara King Abdulaziz Jeddah, Rabu (10/6/2026).

Baca juga: Kisah Nenek Jumaria: 20 Tahun Menabung di Ember demi Naik Haji

Kembali ke sawah

Jumaria tergabung dalam kelompok terbang 14 embarkasi Makassar (UPG). Dia terbang dengan Garuda Indonesia GA 1114 pada 1 Mei 2026 menuju Madinah.

Setelah menuntaskan ibadah hajinya, Jumaria dan kelompoknya kembali ke Tanah Air melalui Bandara King Abdul Aziz Jeddah, Arab Saudi, Rabu (10/6/206).

Jumaria mengatakan, dirinya akan kembali mengolah sawah sekembalinya ke Tanah Air. Dari hasil mengolah sawah itulah, Jumaria mengumpulkan rupiah selama 20 tahun demi pergi ke Tanah Suci.

"Saya dulu (sebelum hajian) bekerja di sawah, setelah pulang akan kembali ke sawah lagi," katanya sembari tersenyum.

Baca juga: Permudah Proses Imigrasi Jemaah Haji 2026, Layanan Fast Track Mecca Route Hadir di Makassar

Doa yang dikabulkan

Menatap Kabah dan menunaikan rukun Islam kelima adalah impian Jumaria sejak lama. Apa yang terjadi pada dirinya saat ini, menurut Jumaria, adalah doa yang dikabulkan.

Jumaria mengatakan setiap hari selama berpuluh-puluh tahun dirinya memanjatkan doa yang sama, sembari mengumpulkan uang sedikit demi sedikit.

"Saya selalu berdoa, saya kerja ini, saya dapat uang saya tabung supaya saya bisa ke Tanah Suci. Saya lebih dari 20 tahun (menabung dan berdoa). Saat ini saya sudah dikabulkan," katanya lirih.

Pengalaman Jumaria menatap Kabah menjadi hal yang tak terlupakan dalam hidupnya. Sebab, selama ini Jumaria hanya bisa membayangkan Kabah dalam pikirannya. Bahkan perjalanan haji Jumaria adalah perjalanan pertamanya di luar Pulau Sulawesi.

Pengalaman tak terlupakan lainnya adalah selama Armuzna dan juga masuk ke Raudhah. Jumaria menyebutkan doa yang dia panjatkan di tempat-tempat mustajab tersebut.

"Saya doakan orangtua saya, saya juga berdoa bisa kembali lagi ke sini," harap Jumaria.

Baca juga: Petugas Haji Diminta Tak Kendur Meski Puncak Armuzna Selesai

Menabung di ember

Menjalankan ibadah haji yang membutuhkan istitoah finansial, bukan hal yang mudah bagi Jumaria. Dia berjuang mengumpulkan lembar demi lembar uang rupiah di sebuah ember di kolong tempat tidurnya selama lebih dari 20 tahun.

Uang tersebut diperolehnya dari hasil panen sawah peninggalan orangtua dan menggarap kebun tetangga.

"Saya menabung di ember, saya tutup kain-kain jelek (embernya) supaya tidak ada yang tahu," ujarnya.

Jumaria menabung paling banyak Rp 700.000 jika mendapat rezeki lebih, terkadang Rp 200.000. Namun tak jarang dia hanya memperoleh sedikit uang.

Demi menjaga tabungannya tetap utuh, Jumaria lebih memilih makan makanan yang disediakan oleh alam.

"Ambil saja daun ubi, saya masak, masak apa yang ada saja," ujar dia.

Kisah Jumaria dalam masa haji 2026 ini mengajarkan banyak orang bahwa Allah bukan memanggil orang-orang yang mampu, namun memampukan orang-orang yang dipanggil-Nya.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
Aktual
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar