Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ziarah ke Taif, Menelusuri Jejak Dakwah Rasulullah di Masjid Abdullah bin Abbas

Kompas.com, 11 Juni 2026, 22:18 WIB
Puspasari Setyaningrum

Editor

Sumber Antara

KOMPAS.com - Musim haji 1447 Hijriah mulai berakhir, namun aktivitas spiritual para jemaah di Tanah Suci masih terus berlangsung.

Menjelang kepulangan ke Indonesia, banyak jemaah memanfaatkan waktu untuk mengunjungi sejumlah lokasi bersejarah yang berkaitan dengan perjalanan dakwah Islam.

Salah satu destinasi yang paling banyak didatangi adalah Kota Taif, yang menyimpan kisah penting dalam kehidupan Rasulullah SAW.

Baca juga: Mengenal Masjid Tanim atau Masjid Aisyah, Tempat Miqat di Makkah

Di kota berhawa sejuk yang berada di kawasan pegunungan tersebut, Masjid Abdullah bin Abbas menjadi tujuan utama para peziarah dari berbagai negara.

Masjid Abdullah bin Abbas Jadi Destinasi Ziarah Favorit Jemaah

Perjalanan menuju Taif dari Makkah harus ditempuh melalui jalur pegunungan berbatu. Namun, kondisi tersebut tidak mengurangi minat para jemaah untuk berkunjung ke kota yang dikenal memiliki sejarah penting dalam dakwah Islam tersebut.

Baca juga: Masjid Nabawi Distribusikan 235 Ton Air Zamzam Setiap Hari untuk Jemaah

Setiap hari, kawasan Masjid Abdullah bin Abbas dipadati pengunjung dari berbagai penjuru dunia. Suasana di sekitar masjid juga terasa hidup dengan kehadiran para pedagang yang berasal dari berbagai negara, seperti Bangladesh dan Pakistan.

Masjid Abdullah bin Abbas berdiri sejak tahun 592 Hijriah dan mampu menampung sekitar 3.000 jemaah. Selain dikenal karena arsitekturnya yang ditopang ratusan tiang, masjid ini memiliki nilai sejarah yang sangat penting bagi umat Islam.

Saksi Perjuangan Rasulullah SAW di Kota Taif

Masjid Abdullah bin Abbas berdiri di kawasan yang menjadi pengingat salah satu fase berat dalam perjalanan dakwah Nabi Muhammad SAW.

Sejarah mencatat, Rasulullah mendatangi Taif ketika tekanan dan embargo ekonomi dari kaum Quraisy di Makkah semakin berat. Saat itu, beliau berharap masyarakat Taif dapat menerima dakwah Islam sekaligus memberikan perlindungan.

Namun harapan tersebut tidak terwujud. Penduduk Taif menolak dakwah Rasulullah, mencemooh, bahkan memperlakukan beliau dengan sangat buruk.

Di tengah kesedihan dan sebelum kembali ke Makkah, Rasulullah sempat beristirahat di sebuah lokasi yang kini menjadi kawasan berdirinya Masjid Abdullah bin Abbas.

Tempat tersebut kemudian menjadi simbol keteguhan dan kesabaran Rasulullah dalam menghadapi berbagai ujian dakwah.

MAsjid yang Mengabadikan Nama Abdullah bin Abbas

Selain berkaitan dengan perjalanan Rasulullah SAW, masjid ini juga mengabadikan nama Abdullah bin Abbas, sahabat sekaligus sepupu Nabi Muhammad SAW yang dimakamkan tidak jauh dari lokasi tersebut.

Abdullah bin Abbas wafat pada tahun 68 Hijriah dan dikenal sebagai salah satu ulama besar dalam sejarah Islam. Ia dikenang karena keahliannya dalam menafsirkan Al Quran, kekuatan hafalan, kecerdasan, serta kedekatannya dengan Rasulullah SAW.

Hingga kini, Masjid Abdullah bin Abbas tidak hanya digunakan untuk pelaksanaan salat lima waktu, salat Jumat, dan salat Id. Masjid tersebut juga menjadi pusat kegiatan keagamaan berupa kajian, seminar, hingga perkuliahan agama bagi masyarakat setempat.

Jemaah Indonesia Ambil Hikmah dari Perjalanan Dakwah Rasulullah

Bagi jemaah Indonesia, kunjungan ke Taif bukan sekadar wisata religi. Ziarah tersebut menjadi kesempatan untuk memahami kembali beratnya perjuangan Rasulullah dalam menyebarkan ajaran Islam.

Salah satu rombongan yang mengunjungi Taif dipimpin oleh Suleman, ketua rombongan jemaah asal Sukabumi, Jawa Barat.

"Ziarah ke Taif dilakukan karena ini merupakan kota harapan Rasulullah. Di masa beliau mendapat intimidasi dan embargo, beliau berharap pertolongan dari kaum Taif, meski ternyata Allah belum memberikan izin," ujarnya.

Menurut Suleman, kunjungan ke Masjid Abdullah bin Abbas juga menjadi sarana untuk meneladani semangat menuntut ilmu yang dimiliki sahabat Nabi tersebut.

"Kita berkunjung ke mari karena Abdullah bin Abbas adalah sepupu Rasul yang sudah mendapatkan doa langsung dari Rasulullah. Semoga kita juga terinspirasi menjadi orang-orang yang terus memperdalam ilmu agama. Aamiin," kata Suleman.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
Aktual
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar