Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ulama Dunia Serukan Peran Lebih Besar Cegah Konflik dan Radikalisme, Generasi Muda Jadi Fokus Utama

Kompas.com, 13 Juni 2026, 08:40 WIB
Farid Assifa

Editor

Sumber Arab News

KOMPAS.com – Para pemimpin agama dunia menyerukan peran yang lebih besar dalam mencegah konflik, memperkuat hidup berdampingan secara damai, dan membentengi generasi muda dari ekstremisme di tengah meningkatnya ketegangan global.

Seruan tersebut mengemuka dalam Konferensi Tingkat Tinggi Pemimpin Agama Internasional ke-3 yang berlangsung di Kuala Lumpur Convention Center, Malaysia, Jumat (12/6/2026).

Forum bertema "Religious Leaders and Youth Empowerment" itu dihadiri sekitar 2.000 peserta muda dari berbagai latar belakang agama dan budaya.

Acara dibuka oleh Sultan Nazrin Shah dan dihadiri Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim serta Sekretaris Jenderal Muslim World League, Mohammed Al-Issa.

Baca juga: Sambut Muharram, Benarkah Ritual Malam 1 Suro Termasuk Takhayul? Ini Jawaban Ulama

Dunia Butuh Pencegah Perang, Bukan Pemenang Perang

Dalam pidatonya, Mohammed Al-Issa menekankan pentingnya konsep "perdamaian preventif" atau upaya mencegah konflik sebelum pecah menjadi perang.

“Umat manusia tidak diuji setelah perang meletus, tetapi sebelum perang itu dimulai. Dunia tidak membutuhkan lebih banyak pahlawan yang memenangkan perang, melainkan orang-orang bijak yang mampu mencegahnya,” ujarnya.

Al-Issa mengingatkan bahwa kebencian berbasis agama, Islamofobia, rasisme, dan sektarianisme kini semakin sering dimanfaatkan oleh kelompok ekstremis maupun aktor politik, terutama melalui platform digital yang menyasar anak muda.

Menurutnya, lembaga keagamaan harus bergerak melampaui sekadar retorika dan mulai menerjemahkan nilai-nilai moral bersama ke dalam pendidikan, dialog, serta aksi nyata di masyarakat.

“Harmoni sejati bukanlah memadamkan api konflik, tetapi mencegahnya menyala sejak awal,” katanya.

Diplomasi Agama Dinilai Mampu Menjembatani Konflik

Al-Issa juga menilai diplomasi agama dapat melengkapi diplomasi politik konvensional dalam menyelesaikan perselisihan, menjembatani perbedaan, dan membangun perdamaian jangka panjang.

“Dunia tidak membutuhkan lebih banyak senjata, melainkan lebih banyak kebijaksanaan untuk mencegah penggunaannya,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, ia kembali menegaskan dukungannya terhadap penyelesaian konflik Palestina melalui solusi dua negara (*two-state solution*) serta mengumumkan peluncuran International Diplomacy Award yang bertujuan mendorong kerja sama dan harmoni global.

Anwar Ibrahim: Harmoni Tidak Berarti Seragam

Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, menyoroti meningkatnya fragmentasi geopolitik dunia, melemahnya lembaga multilateral, dan berbagai konflik yang masih berlangsung, termasuk perang di Gaza.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat peran tokoh agama sebagai suara moderasi dan otoritas moral menjadi semakin penting.

“Harmoni sejati tidak dibangun atas keseragaman, melainkan melalui pengelolaan perbedaan secara adil,” kata Anwar.

Ia juga mengajak dialog lintas agama tidak berhenti pada simbolisme semata, tetapi diwujudkan dalam kerja sama konkret yang memberi manfaat bagi masyarakat.

Anak Muda Rentan Terpapar Polarisasi Digital

Sultan Nazrin Shah mengingatkan bahwa generasi muda saat ini hidup di tengah lingkungan digital yang dikendalikan algoritma dan berpotensi memperkuat polarisasi serta ketidakpercayaan.

“Anak muda saat ini bertanya: Di mana tempat saya? Siapa yang bisa saya percaya? Nilai apa yang masih relevan?” ujarnya.

Menurut dia, perdamaian tidak cukup hanya dideklarasikan dalam forum internasional, tetapi harus dibangun dalam kehidupan sehari-hari di tengah masyarakat.

“Di era fragmentasi seperti sekarang, hidup berdampingan menjadi tindakan yang membutuhkan keberanian,” katanya.

Kesenjangan Digital Jadi Tantangan Dakwah

Dalam forum tersebut, para peserta juga menyoroti tantangan hubungan antara generasi muda dan institusi keagamaan.

Sekretaris Jenderal Islamic Universities League, Samy El-Sherif, menyebut menjauhnya sebagian anak muda dari agama merupakan fenomena global yang tidak hanya terjadi di negara-negara Muslim.

Baca juga: Muhammadiyah Umumkan 20 Penerima Beasiswa Al-Azhar Mesir 2026, Siapkan Kader Ulama Bertaraf Global

Ia menilai salah satu penyebabnya adalah kesenjangan komunikasi antara tokoh agama dan generasi muda, ditambah keterbatasan kemampuan digital sejumlah institusi keagamaan.

Sementara itu, akademisi dari UTM University, Badriyah Saleem, menilai teknologi dapat menjadi tantangan sekaligus peluang untuk memperkuat pendidikan keagamaan.

Menurutnya, pelatihan, lokakarya, serta pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran agama dapat membantu menjembatani kesenjangan generasi dan meningkatkan keterlibatan anak muda.

Forum internasional tersebut ditutup dengan seruan agar tokoh agama, pemerintah, dan organisasi masyarakat sipil memperkuat kolaborasi dalam memerangi intoleransi, radikalisme daring, dan berbagai ancaman terhadap kohesi sosial di berbagai belahan dunia.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
Aktual
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar