Editor
KOMPAS.com - Tanggal 10 Muharram atau yang dikenal sebagai Hari Asyura memiliki posisi istimewa dalam sejarah Islam dan menjadi salah satu momentum penting yang diperingati umat Muslim.
Hari ini tidak hanya dipandang sebagai penanda waktu, tetapi juga sarat dengan berbagai peristiwa besar yang melibatkan para nabi dan menjadi pengingat akan kekuasaan Allah SWT.
Sejumlah kisah keselamatan para rasul pada hari tersebut juga menjadi bagian penting dalam literatur keislaman yang terus disampaikan lintas generasi.
Baca juga: Keutamaan Menyantuni Anak Yatim pada 10 Muharram, Menghidupkan Kasih Sayang di Hari Asyura
Selain itu, 10 Muharram juga menjadi titik awal disyariatkannya puasa Asyura yang kemudian dianjurkan oleh Rasulullah SAW kepada umat Islam.
Dilansir dari Antara, tanggal 10 Muharram dikenal sebagai hari yang memiliki banyak peristiwa besar dalam sejarah para nabi.
Baca juga: 3 Perbedaan Puasa Tasua dan Asyura, dari Waktu Pelaksanaan hingga Sejarahnya
Banyak kejadian penting yang disebutkan terjadi pada hari ini, sehingga menjadikannya sebagai momen mulia sekaligus pengingat bagi umat Islam.
Salah satu peristiwa yang paling dikenal pada 10 Muharram adalah penyelamatan Nabi Musa AS dan Bani Israil dari kejaran Fir’aun.
Dalam Al-Qur’an dijelaskan bagaimana Nabi Musa AS memimpin Bani Israel keluar dari Mesir dan melewati Laut Merah yang terbelah dengan mukjizat Allah SWT, sementara Fir’aun dan pasukannya tenggelam saat mengejar.
Selain itu, pada 10 Muharram juga disebutkan Nabi Nuh AS dan pengikutnya selamat dari banjir besar.
Kisah ini menjadi gambaran kuat tentang iman dan ketaatan kepada Allah SWT serta bentuk rahmat-Nya kepada orang-orang yang beriman.
Peristiwa lain yang juga dikaitkan dengan hari tersebut adalah Nabi Ibrahim AS yang selamat dari api yang dinyalakan Raja Namrud untuk membakarnya.
Selain itu, disebutkan pula Nabi Nuh yang selamat dari dalam perut ikan, pengampunan dosa Nabi Adam, serta Nabi Yusuf yang dibebaskan dari penjara akibat fitnah.
Selain peristiwa para nabi, 10 Muharram juga berkaitan dengan awal anjuran puasa Asyura oleh Rasulullah SAW.
Saat berada di Madinah, Rasulullah SAW melihat kaum Yahudi melaksanakan puasa pada hari tersebut, lalu beliau menanyakan alasannya.
Dalam hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas bahwa "Nabi Muhammad ketika tiba di Madinah, Beliau mendapatkan mereka (orang Yahudi) melaksanakan puasa hari ‘Asyura (10 Muharam) dan mereka berkata; “Ini adalah hari raya, yaitu hari ketika Allah menyelamatkan Musa dan menenggelamkan Fir’aun. Lalu Nabi Musa As melakukan puasa sebagai wujud syukur kepada Allah”. Maka Beliau bersabda: “Akulah yang lebih utama (dekat) terhadap Musa dibanding kalian”. Maka Beliau berpuasa pada hari itu dan memerintahkan umat Beliau untuk mempuasainya." (HR. Bukhari).
Sebelum puasa Ramadan diwajibkan, Rasulullah SAW memerintahkan para sahabat untuk melaksanakan puasa Asyura.
Namun kemudian, beliau juga menganjurkan umat Islam untuk berpuasa pada tanggal 9 dan 11 Muharram yang dikenal sebagai puasa Tasu’a, sebagai pembeda dari praktik puasa kaum Yahudi.
Dalam hadist Muslim oleh Abdullah bin Abbas, Rasullulah bersabda "Jika aku masih hidup hingga tahun depan, pasti aku akan berpuasa pada hari kesembilan." (HR. Muslim)
DIjelaskan juga dalam riwayat Imam Ahmad, Rasullulah bersabda "Puasalah pada hari Asyura dan bedakanlah diri kalian dengan kaum Yahudi. Puasalah sehari sebelumnya atau setelahnya." (HR. Muslim)
Itulah rangkaian sejarah penting pada 10 Muharram atau Hari Asyura yang dipenuhi berbagai peristiwa besar dalam perjalanan para nabi, sekaligus menjadi dasar amalan puasa yang dianjurkan dalam Islam.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang