Editor
KOMPAS.com - Hari Jumat merupakan hari istimewa dalam Islam yang memiliki banyak keutamaan dan amalan sunnah.
Salah satu amalan yang kerap menjadi perbincangan di kalangan umat Islam adalah hukum shalat sunnah sebelum shalat Jumat.
Sebagian orang beranggapan bahwa setelah adzan Jumat berkumandang tidak ada lagi shalat sunnah yang disyariatkan.
Baca juga: 5 Rukun Khutbah Jumat yang Wajib Dipenuhi Khatib, Jadi Penentu Sahnya Shalat Jumat
Namun, para ulama menjelaskan bahwa persoalan ini perlu dipahami berdasarkan dalil dan kondisi pelaksanaan shalat Jumat di masjid.
Dijelaskan Anggota MUI SulSel, Chamdar Nur, Lc,.SH,. S. Pd. I,. M. Pd., bahwa dalam Islam, setiap orang yang memasuki masjid dianjurkan untuk menunaikan shalat tahiyatul masjid sebelum duduk.
Baca juga: 7 Amalan Sunnah Hari Jumat yang Dianjurkan Rasulullah, Amalkan untuk Menambah Pahala
Ketentuan ini juga berlaku pada hari Jumat, bahkan ketika khatib sudah naik mimbar dan khutbah akan dimulai.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ الْمَسْجِدَ، فَلَا يَجْلِسْ حَتَّى يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ
Artinya: "Apabila salah seorang dari kalian masuk masjid, maka janganlah duduk sebelum shalat dua rakaat." (HR Bukhari dan Muslim).
Anjuran tersebut tetap berlaku meskipun khutbah Jumat sudah berlangsung. Hal ini didasarkan pada hadits dari Jabir bin Abdullah:
جَاءَ سُلَيْكٌ الغَطَفَانِيُّ يَوْمَ الجُمُعَةِ، وَرَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ، فَجَلَسَ، فَقَالَ لَهُ: “يَا سُلَيْكُ، قُمْ فَارْكَعْ رَكْعَتَيْنِ وَتَجَوَّزْ فِيهِمَا
Artinya: "Datang Sulaik Al-Ghathafani pada hari Jum’at, dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sedang berkhutbah, lalu ia duduk. Maka Rasul shallallahu alaihi wasallam bersabda: 'Wahai Sulaik, bangkit dan shalatlah dua rakaat, dan ringankanlah keduanya.'" (HR Muslim).
Hadits ini menunjukkan bahwa shalat tahiyatul masjid tetap diperbolehkan setelah adzan Jumat dan ketika khutbah sudah dimulai, selama seseorang belum duduk.
Di banyak masjid, adzan Jumat dikumandangkan dua kali. Adzan pertama dilakukan sebelum khatib naik mimbar sebagai tanda agar jamaah segera bersiap menuju masjid.
Pada rentang waktu antara adzan pertama dan khutbah, para ulama menjelaskan bahwa umat Islam dianjurkan memperbanyak ibadah, termasuk melaksanakan shalat sunnah mutlak.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلَاةٌ، بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلَاةٌ، ثُمَّ قَالَ فِي الثَّالِثَةِ: لِمَنْ شَاءَ
Artinya: "Antara dua adzan ada shalat. Antara dua adzan ada shalat." Lalu pada kali ketiga beliau berkata: "Bagi siapa yang mau." (HR Bukhari dan Muslim).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah juga menegaskan disyariatkannya shalat sunnah mutlak sebelum Jumat bagi orang yang datang lebih awal ke masjid.
وَكَانَ شَيْخُنَا إِذَا دَخَلَ الْمَسْجِدَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ، يُصَلِّي مَا تَيَسَّرَ لَهُ، وَيَطُولُ فِي الصَّلَاةِ، وَلَا يُحْصِي رَكَعَاتِهَا، فَهَذِهِ صَلَاةٌ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْخُطْبَةِ، صَلَاهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَغَيْرُهُ، وَهِيَ مَسْنُونَةٌ
Artinya: "Guru kami (Ibnu Taimiyah) jika masuk masjid pada hari Jum’at, beliau shalat semampunya dan memanjangkan shalatnya, tanpa menghitung jumlah rakaatnya. Inilah shalat antara adzan dan khutbah yang dilakukan Nabi shallallahu alaihi wasallam dan selain beliau. Shalat ini adalah sunnah." (Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, Zadul Ma'ad).
Pendapat serupa juga disampaikan Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah:
من دخل المسجد قبل الجمعة فله أن يصلي ما تيسر من الركعات، يصلي ركعتين، أربع ركعات، ست ركعات، أكثر، أقل، إلى أن يحضر الإمام
Artinya: "Barang siapa masuk masjid sebelum shalat Jum’at, maka ia boleh shalat sebanyak yang dia mampu: dua rakaat, empat rakaat, enam rakaat, lebih banyak, lebih sedikit, hingga imam datang." (Majmu' Fatawa).
Selain melaksanakan shalat sunnah mutlak, waktu sebelum khutbah juga dianjurkan untuk membaca Al-Qur'an, berzikir, dan memperbanyak doa.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
فِيهِ سَاعَةٌ، لاَ يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ، وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي، يَسْأَلُ اللَّهَ شَيْئًا، إِلاَّ أَعْطَاهُ إِيَّاهُ
Artinya: "Di dalamnya terdapat satu waktu, tidaklah seorang hamba muslim mendapati waktu itu dalam keadaan berdiri shalat seraya memohon kepada Allah sesuatu, kecuali Allah akan memberikannya kepadanya." (HR Bukhari dan Muslim).
Banyak ulama berpendapat waktu mustajab tersebut berada sebelum khatib naik mimbar hingga selesai shalat Jumat.
Sebagian masjid hanya mengumandangkan satu kali adzan, yakni ketika khatib sudah naik mimbar. Dalam kondisi seperti ini, waktu untuk melaksanakan shalat sunnah menjadi sangat terbatas.
Karena itu, setelah menunaikan shalat tahiyatul masjid, jamaah dianjurkan untuk segera fokus mendengarkan khutbah dan tidak menambah shalat sunnah lainnya.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
إِذَا قَالَ الإِمَامُ يَوْمَ الجُمُعَةِ: أَنْصِتُوا، فَقَدْ جَاءَ وَهُوَ يَخْطُبُ، فَأَنْصِتُوا
Artinya: "Apabila imam telah datang dan berkhutbah pada hari Jum’at, maka diam dan dengarkanlah." (HR Bukhari).
Dengan demikian, hukum mengerjakan shalat sunnah sebelum shalat Jumat adalah diperbolehkan.
Jika masjid melaksanakan dua kali adzan, jamaah dianjurkan memperbanyak shalat sunnah mutlak, membaca Al-Qur'an, dan berdoa sebelum khutbah dimulai.
Namun, jika masjid hanya mengumandangkan satu kali adzan saat khatib naik mimbar, maka setelah menunaikan shalat tahiyatul masjid, jamaah sebaiknya langsung menyimak khutbah dengan khusyuk.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang