Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

5 Rukun Khutbah Jumat yang Wajib Dipenuhi Khatib, Jadi Penentu Sahnya Shalat Jumat

Kompas.com, 5 Juni 2026, 07:09 WIB
Add on Google
Puspasari Setyaningrum

Editor

Sumber Kemenag

KOMPAS.com - Khutbah Jumat merupakan bagian penting dalam pelaksanaan shalat Jumat karena menjadi salah satu syarat sah ibadah tersebut.

Karena kedudukannya yang sangat penting, seorang khatib wajib memahami rukun-rukun khutbah dan melaksanakannya secara lengkap saat menyampaikan khutbah.

Jika salah satu rukun tidak terpenuhi, keabsahan khutbah dapat dipertanyakan dan berdampak pada sah atau tidaknya shalat Jumat.

Baca juga: Khutbah Jumat 5 Juni 2026: Amal Saleh, Investasi Terbaik di Akhirat

5 Rukun Khutbah Jumat

Dilansir dari laman Kemenag, dalam kitab Kasyifatus Saja Syarah Safinatun Naja (Indonesia, Daru Ihya'il Kutubil Arabiyyah: t.t), halaman 96, Syekh Nawawi Al-Bantani menjelaskan terdapat lima rukun khutbah Jumat yang harus dipenuhi oleh seorang khatib.

Baca juga: Bacaan Bilal Shalat Jumat: Arab, Latin, dan Artinya, serta Tata Cara Melaksanaannya

1. Memuji Allah dalam Khutbah Pertama dan Kedua

Rukun pertama adalah memuji Allah SWT pada khutbah pertama dan khutbah kedua.

Pujian tersebut harus menggunakan lafaz "hamdun" atau turunannya, seperti alhamdulillah, ahmadullaha, lillahil hamdu, atau ana hamidullaha.

Menurut Syekh Nawawi, lafaz selain yang berasal dari kata "hamdun" tidak dianggap memenuhi rukun ini, seperti penggunaan lafaz asy-syukru atau lafaz lainnya.

Selain itu, pujian harus secara langsung menyebut lafaz "Allah".

Karena itu, tidak dianggap memenuhi rukun apabila menggunakan nama lain yang dinisbatkan kepada-Nya, seperti Ar-Rahman, Ar-Rahim, atau nama-nama dalam Asmaul Husna lainnya.

Dengan demikian, ucapan seperti alhamdu lir-rahman tidak termasuk dalam rukun memuji Allah yang diwajibkan dalam khutbah.

2. Membaca Shalawat kepada Nabi Muhammad SAW

Rukun kedua adalah membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW pada khutbah pertama dan kedua.

Lafaz shalawat yang digunakan harus memakai kata ash-shalatu atau turunannya, seperti ash-shalatu ala Muhammad, ushalli ala Muhammad, atau ana mushallin ‘ala Muhammad.

Sementara itu, penyebutan nama Nabi Muhammad SAW dapat menggunakan nama atau gelar lain yang merujuk kepada beliau, seperti Ahmad, An-Nabiyul Mahi, An-Nabiyul Hasyir, dan sejenisnya.

Menurut Syekh Nawawi, seorang khatib tidak dianggap telah bershalawat apabila hanya menggunakan lafaz dhamir atau kata ganti, seperti ash-shalatu ‘alaihi.

3. Menyampaikan Wasiat Takwa

Rukun berikutnya adalah menyampaikan wasiat takwa kepada jamaah pada khutbah pertama dan kedua.

Dalam pelaksanaannya, khatib tidak harus menggunakan lafaz wasiyat atau turunannya seperti ushikum.

Wasiat takwa dapat disampaikan dengan bentuk ajakan untuk menaati perintah Allah SWT maupun menghindari larangan-Nya.

Syekh Nawawi menjelaskan bahwa tujuan utama wasiat takwa adalah memberikan nasihat dan mendorong jamaah agar semakin taat kepada Allah SWT.

Karena itu, penyampaiannya dapat menggunakan berbagai lafaz selama mengandung makna ajakan kepada ketakwaan.

4. Membaca Ayat Suci Al-Qur'an

Rukun keempat adalah membaca ayat Al-Qur'an pada salah satu khutbah, meskipun lebih utama dibaca pada khutbah pertama.

Ayat yang dibacakan sebaiknya memuat janji Allah, ancaman-Nya, hukum, atau kisah yang dapat menjadi pelajaran bagi jamaah.

Menurut Syekh Nawawi, membaca setengah dari ayat yang panjang lebih utama dibandingkan membaca satu ayat yang sangat pendek.

Dalam pelaksanaannya, ayat yang dibacakan tidak cukup apabila hanya berisi pujian kepada Allah atau ajakan untuk memuji-Nya.

Hal itu karena satu bacaan tidak dapat digunakan untuk memenuhi dua rukun sekaligus, yakni rukun memuji Allah dan rukun membaca ayat Al-Qur'an.

Salah satu contoh ayat yang disebutkan adalah Surat Al-An'am ayat 1:

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمٰتِ وَالنُّوْرَ

Artinya: “Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi, dan menjadikan kegelapan-kegelapan dan cahaya.”

5. Mendoakan Kaum Mukmin pada Khutbah Kedua

Rukun terakhir adalah membacakan doa kebaikan akhirat bagi kaum mukmin pada khutbah kedua.

Mengutip pendapat Imam Syarqowi, Syekh Nawawi menjelaskan bahwa doa tersebut harus ditujukan kepada kaum mukmin secara umum.

Karena itu, doa yang hanya ditujukan kepada kaum mukmin perempuan atau mu'minat tanpa menyertakan mu'minin tidak dianggap cukup untuk memenuhi rukun ini.

Doa yang dibacakan hendaknya berisi permohonan kebaikan dan keselamatan akhirat bagi kaum mukmin.

Rukun Khutbah Menentukan Sahnya Shalat Jumat

Kelima rukun khutbah Jumat tersebut memiliki kedudukan penting karena berkaitan langsung dengan keabsahan khutbah dan shalat Jumat.

Setiap khatib wajib memperhatikan seluruh rukun tersebut agar pelaksanaan khutbah berjalan sesuai ketentuan syariat.

Mengingat khutbah merupakan syarat sah shalat Jumat, pemenuhan seluruh rukun menjadi hal yang tidak boleh diabaikan karena menyangkut sahnya ibadah yang dijalankan seluruh jamaah.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Khutbah Jumat 5 Juni 2026 tentang Pancasila, Ini Nilai Islam dalam Lima Sila
Khutbah Jumat 5 Juni 2026 tentang Pancasila, Ini Nilai Islam dalam Lima Sila
Aktual
Transformasi Kultural Pelayanan Haji Indonesia
Transformasi Kultural Pelayanan Haji Indonesia
Aktual
5 Rukun Khutbah Jumat yang Wajib Dipenuhi Khatib, Jadi Penentu Sahnya Shalat Jumat
5 Rukun Khutbah Jumat yang Wajib Dipenuhi Khatib, Jadi Penentu Sahnya Shalat Jumat
Aktual
Khutbah Jumat 5 Juni 2026: Muhasabah Menyambut Pergantian Tahun
Khutbah Jumat 5 Juni 2026: Muhasabah Menyambut Pergantian Tahun
Aktual
Khutbah Jumat 5 Juni 2026: Memahami Sikap Ikhlas saat Beramal
Khutbah Jumat 5 Juni 2026: Memahami Sikap Ikhlas saat Beramal
Aktual
Menag Ingatkan Pejabat untuk Waspadai Gratifikasi Berkedok Hadiah
Menag Ingatkan Pejabat untuk Waspadai Gratifikasi Berkedok Hadiah
Aktual
Dari Penyuluh Agama Jadi Kepala KUA, Buah Manis Pengabdian Uun Kurniasih Selama 26 Tahun
Dari Penyuluh Agama Jadi Kepala KUA, Buah Manis Pengabdian Uun Kurniasih Selama 26 Tahun
Aktual
Arab Saudi Pertimbangkan Skema Tanazul untuk 50 Persen Jamaah Haji Indonesia saat Armuzna
Arab Saudi Pertimbangkan Skema Tanazul untuk 50 Persen Jamaah Haji Indonesia saat Armuzna
Aktual
Menhaj Evaluasi KKHI Madinah, Siapkan Transformasi Layanan Kesehatan Haji yang Lebih Efektif
Menhaj Evaluasi KKHI Madinah, Siapkan Transformasi Layanan Kesehatan Haji yang Lebih Efektif
Aktual
Indonesia Absen dari Penghargaan Haji Arab Saudi 2026, Ini Alasannya
Indonesia Absen dari Penghargaan Haji Arab Saudi 2026, Ini Alasannya
Aktual
Garuda Indonesia Jelaskan Penyebab Delay Penerbangan Haji di Jeddah, Sebut Akibat Kepadatan Bandara
Garuda Indonesia Jelaskan Penyebab Delay Penerbangan Haji di Jeddah, Sebut Akibat Kepadatan Bandara
Aktual
Kunjungi Saudi German Hospital Madinah, Menhaj Evaluasi Layanan Kesehatan Jemaah Haji Indonesia
Kunjungi Saudi German Hospital Madinah, Menhaj Evaluasi Layanan Kesehatan Jemaah Haji Indonesia
Aktual
Khutbah Jumat 5 Juni 2026: Amal Saleh, Investasi Terbaik di Akhirat
Khutbah Jumat 5 Juni 2026: Amal Saleh, Investasi Terbaik di Akhirat
Aktual
Kemenhaj Dorong Komoditas Pangan RI Masuk Rantai Pasok Katering Haji Arab Saudi
Kemenhaj Dorong Komoditas Pangan RI Masuk Rantai Pasok Katering Haji Arab Saudi
Aktual
 MUI Peringatkan Bahaya Tren Childfree dan Tidak Menikah Bagi Keberlangsungan Bangsa
MUI Peringatkan Bahaya Tren Childfree dan Tidak Menikah Bagi Keberlangsungan Bangsa
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com