Editor
KOMPAS.com - Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) mengumumkan otoritas penerbangan Arab Saudi, General Authority of Civil Aviation (GACA), telah memberikan izin kepada maskapai Garuda Indonesia untuk mengisi kompartemen kosong atau empty leg pada penerbangan pulang pesawat carter haji.
Kebijakan ini menjadi hasil dari proses diplomasi intensif yang dilakukan Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri.
Selama ini, pesawat haji berstatus carter milik Garuda Indonesia selalu kembali ke Tanah Air tanpa penumpang.
Baca juga: Pemda DIY Usulkan Seluruh Jamaah Haji Gunakan E-Paspor untuk Percepat Layanan Imigrasi
Pemerintah menilai kebijakan baru tersebut dapat membuka peluang penguatan ekosistem ekonomi haji dan pariwisata nasional.
Dilansir dari Antara, Wakil Menteri Haji dan Umrah Dahnil Anzar Simanjuntak mengatakan izin dari GACA merupakan kabar baik bagi Indonesia.
Baca juga: Jemaah Haji Jember yang Pulang Sebanyak 2.949 Orang, 4 Wafat di Tanah Suci
"GACA memberikan izin kepada penerbangan kita, dalam hal ini Garuda Indonesia, untuk mengisi istilah dalam penerbangan itu empty leg. Jadi selama ini pesawat haji kita yang berstatus charter selalu pulang dalam kondisi kosong," kata Dahnil dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (25/6/2026).
Dahnil menjelaskan, persoalan pesawat haji yang pulang tanpa penumpang sebelumnya menjadi perhatian Presiden Prabowo Subianto.
Presiden kemudian memerintahkan kementerian terkait untuk mencari solusi konkret agar penerbangan pulang tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal.
Menindaklanjuti arahan tersebut, Kemenhaj bersama Kementerian Perhubungan, Kementerian Pariwisata, dan Direktur Utama Garuda Indonesia menggelar pertemuan lanjutan.
Pertemuan itu dilakukan untuk memastikan instruksi Presiden dapat dieksekusi mulai musim haji tahun ini dan berlanjut pada tahun-tahun berikutnya.
Kemenhaj juga berkoordinasi dengan Kementerian Pariwisata guna memanfaatkan ruang kosong pada penerbangan pulang pesawat haji.
Pemerintah berupaya mendorong promosi berbagai destinasi wisata domestik kepada masyarakat Timur Tengah, khususnya warga Arab Saudi.
"Nah, penumpangnya siapa? penumpangnya inilah yang kemudian kami bicarakan dengan Kementerian Pariwisata supaya kemudian mendorong pariwisata kita, objek wisata kita di Indonesia itu bisa dijual ke masyarakat Timur Tengah, khususnya Saudi Arabia," cetusnya.
Dahnil mengungkapkan langkah ini diambil dengan mempertimbangkan besarnya potensi perputaran dana dari sektor haji dan umrah.
Data Kemenhaj menunjukkan jumlah jamaah haji dan umrah asal Indonesia yang berangkat ke Arab Saudi setiap tahun mencapai sekitar 3,2 juta orang.
Jumlah tersebut terdiri atas sekitar 3 juta jamaah umrah dan 221.000 jamaah haji.
Kemenhaj juga mencatat nilai uang yang beredar dan ikut mengalir ke Arab Saudi dari sektor tersebut berkisar antara Rp120 triliun hingga Rp180 triliun.
Karena itu, Presiden meminta pembentukan tim khusus (task force) untuk meminimalisasi cash outflow sekaligus menciptakan cash inflow bagi perekonomian nasional.
"Jadi ini catatan penting dan mudah-mudahan dari komitmen ini, komitmen Presiden ini, bisa membangun ekosistem ekonomi haji di satu sisi, dan juga pariwisata kita di sisi lain, dan memperkuat national flight kita yaitu Garuda Indonesia," kata dia menegaskan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang