Editor
KOMPAS.com - Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) menyiapkan sejumlah evaluasi untuk penyelenggaraan ibadah haji tahun 2027, terutama pada aspek kesehatan jamaah.
Pemerintah berencana memperketat syarat istitha'ah kesehatan bagi calon jamaah guna memastikan mereka benar-benar siap menjalani rangkaian ibadah di Tanah Suci.
Kebijakan ini disiapkan meski jumlah jamaah haji yang wafat pada musim haji 2026 tercatat menurun dibandingkan tahun sebelumnya.
Baca juga: Kemenhaj: Penerapan Istithaah Kesehatan Berhasil Tekan Angka Kematian Jemaah Haji
Selain evaluasi kesehatan, Kemenhaj juga meminta proses pemulangan jamaah haji dilakukan tanpa seremonial yang berlebihan agar jamaah dapat segera beristirahat di rumah.
Wakil Menteri Haji dan Umrah Dahnil Anzar Simanjuntak mengatakan sektor kesehatan jamaah menjadi salah satu catatan penting yang akan dievaluasi secara mendalam untuk perbaikan penyelenggaraan haji pada masa mendatang.
Baca juga: Pemeriksaan Istithaah Kesehatan, Tahapan Wajib Jemaah Haji Sebelum Berangkat ke Tanah Suci
Meski angka kematian jamaah menurun, Kemenhaj tetap akan menerapkan aturan yang lebih ketat terkait pemenuhan syarat istitha'ah kesehatan bagi calon jamaah haji yang akan berangkat pada tahun depan.
Pemerintah juga memberi perhatian khusus terhadap komitmen kementerian dan lembaga terkait agar tidak memberangkatkan calon jamaah yang terdeteksi memiliki penyakit penyerta atau kondisi kesehatan yang berisiko.
"Mau tidak mau kami harus lebih tegas terkait dengan jamaah-jamaah yang memiliki komorbid, kemudian misalnya potensi demensia, kemudian penyakit-penyakit yang berbahaya lainnya untuk tidak bisa berangkat," jelasnya.
Berdasarkan data terbaru Kementerian Haji dan Umrah, jumlah jamaah haji Indonesia yang wafat pada penyelenggaraan haji tahun ini tercatat sekitar 350 orang.
Jumlah tersebut lebih rendah dibandingkan tahun lalu yang mencapai 467 orang.
Meskipun demikian, Kemenhaj menilai perlindungan kesehatan jamaah tetap harus ditingkatkan agar risiko kesehatan selama menjalankan ibadah haji dapat ditekan semaksimal mungkin.
Sebagai bagian dari upaya penguatan kesehatan jamaah, Kemenhaj dalam waktu dekat akan memperkenalkan program baru berupa Manasik Kesehatan bagi calon jamaah yang dijadwalkan berangkat pada tahun 2027.
Melalui program ini, calon jamaah akan dipersiapkan secara fisik melalui pembiasaan olahraga, seperti berjalan kaki dan berlari sesuai kemampuan masing-masing.
Selain itu, calon jamaah yang memiliki penyakit penyerta, seperti tekanan darah tinggi dan diabetes, juga akan mendapatkan pemantauan kesehatan secara intensif oleh tim dokter di daerah masing-masing.
"Misalnya kebiasaan olahraga jalan kaki, kemudian kalau sanggup lari, lari, karena 95 persen kegiatan di tanah suci itu adalah kegiatan fisik. Kemudian kalau mereka punya komorbid kemudian nanti secara intens di-maintain. Misalnya darah tinggi, diabetes dan sebagainya itu secara intens di-maintain oleh tim dokter. Nah itu bagian yang paling penting, isu kesehatan," kata dia.
Selain mengevaluasi aspek kesehatan, Kemenhaj juga menginstruksikan seluruh Kantor Wilayah (Kanwil), embarkasi, serta pejabat pemerintah daerah untuk mengurangi agenda seremonial saat menyambut kepulangan jamaah haji.
Menurut Dahnil, penyambutan yang disertai pidato panjang justru mengurangi kenyamanan jamaah yang baru tiba dari perjalanan panjang dan membutuhkan waktu untuk beristirahat.
"Mohon pejabat-pejabat daerah begitu jangan banyak seremonial, pidato-pidato panjang begitu, sambut saja kemudian biarkan jamaah kita kembali ke kediaman-nya masing-masing," kata dia.
Melalui sejumlah evaluasi tersebut, Kemenhaj berharap penyelenggaraan ibadah haji pada tahun-tahun mendatang dapat berlangsung lebih aman dan nyaman, didukung oleh kondisi kesehatan jamaah yang lebih baik serta pelayanan yang semakin berorientasi pada kebutuhan jamaah.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang