BANYUWANGI, KOMPAS.com - Sebuah pepatah Jawa kuno berbunyi, "Mung manuk-manuk sing suwarane merdu sing dikurung ing njero sangkar;
nanging manuk dhesto mabur bebas ing alam liar."
Arti filosofisnya mendalam, yaitu hanya burung-burung bersuara merdu yang dikurung dalam sangkar untuk dinikmati keindahannya, sementara burung hantu yang tidak diminati suaranya dibiarkan bebas berkelana.
Di dalam kehidupan nyata, "sangkar" ini sering kali mewujud dalam bentuk ujian hidup yang datang bertubi-tubi kepada mereka yang memiliki kelebihan.
Semakin besar amanah yang Allah titipkan, baik berupa ilmu, bakat, kecerdasan, pengaruh, jabatan, hingga harta, maka semakin besar pula kadar godaan, tekanan, dan tanggung jawabnya.
Baca juga: Puasa Asyura, Warisan Para Nabi yang Hapus Dosa Setahun dan Sarat Hikmah
Banyak orang hanya silau melihat keberhasilan dan kemuliaan seseorang, tanpa pernah menyadari ada jeruji-jeruji tak kasat mata yang harus ia hadapi setiap hari.
Ada fitnah, kecemburuan, kritik, cemoohan, hingga beban ekspektasi yang berat di balik tirai kesuksesan tersebut.
Padahal tak jarang, semakin besar potensi seseorang, semakin berat pula ujian yang mengiringinya.
Merespons fenomena spiritual tersebut, Ustadz Ahsanul Falihin dari Lajnah Dakwah PC Al Irsyad Al Islamiyyah Banyuwangi memberikan sudut pandang mendalam mengenai hakikat ujian bagi seorang hamba.
“Jangan pernah mengeluh ketika ujian datang mengiringi karunia yang kita terima. Emas murni diuji dengan api bukan karena ia tidak bernilai, melainkan justru untuk membuktikan dan meninggikan nilainya. Begitu pula dengan jiwa manusia. Ketika Allah menghendaki seorang hamba untuk dekat dengan-Nya, Dia akan menempanya dengan beragam kesulitan agar jiwanya semakin matang dan bersih,” ujar Ustadz Ahsanul Falihin.
Hal ini selaras dengan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam Al-Qur'an Surat Al-Ankabut ayat 2:
اَحَسِبَ النَّاسُ اَنْ يُّتْرَكُوْٓا اَنْ يَّقُوْلُوْٓا اٰمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُوْنَ ٢
“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ dan mereka tidak diuji?”
Ustadz Ahsanul Falihin juga mengingatkan bahwa "sangkar emas" tidak selalu berbentuk penderitaan lahiriah.
Terkadang, ia menjelma menjadi sesuatu yang tampak nyaman namun membelenggu, seperti pujian yang mengikat citra diri, popularitas yang melahirkan ketakutan akan kehilangan validasi, atau harta yang menawan hati dalam kenikmatan duniawi.
Banyak manusia yang secara lahiriah tampak bebas berjalan ke sana kemari, padahal sejatinya mereka sedang terpenjara oleh ego yang mereka ciptakan sendiri.
Sebaliknya, ada orang-orang yang secara kasat mata hidupnya penuh keterbatasan, namun jiwanya bebas merdeka.
Mereka tidak lagi diperbudak oleh pujian ataupun celaan makhluk.
Kebebasannya lahir dari hati yang hanya bergantung sepenuhnya kepada Yang Mahakuasa.
Oleh karena itu, jika hari ini jalan hidup kita terasa lebih terjal dan berat dibanding orang lain, jangan terburu-buru mengambil kesimpulan bahwa Allah sedang menjauh atau menghukum kita.
Bisa jadi, itu adalah tanda bahwa ada potensi besar atau amanah berharga yang sedang Allah titipkan di dalam diri kita, sehingga kita perlu dididik dengan ujian yang lebih berbobot agar mampu mengelolanya dengan bijak.
Jangan pernah iri pada mereka yang tampak hidup tanpa cobaan, karena setiap orang memikul ujiannya masing-masing.
Baca juga: 9 Muharram Puasa Apa? Ini Niat, Keutamaan, dan Hikmah Puasa Tasua
Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam sebuah hadis Nabi Muhammad ﷺ:
إن عظم الجزاء مع عظم البلاء، وإن الله تعالى إذا أحب قوما ابتلاهم فمن رضي فله الرضا، ومن سخط فله السخط
“Sesungguhnya besarnya pahala itu sesuai dengan besarnya ujian. Dan sesungguhnya Allah Ta’ala, apabila mencintai suatu kaum, maka Dia akan menguji mereka. Siapa yang rida, maka baginya keridhaan. Sedangkan siapa yang marah (kecewa & tidak terima), maka baginya kemurkaan." (HR. Tirmidzi).
“Pada akhirnya, parameter keberhasilan hidup bukanlah tentang seberapa mudah atau sulitnya jalan yang kita lalui. Pertanyaan terpenting yang harus kita ajukan pada diri sendiri di tengah ujian adalah: 'Apa yang Allah kehendaki pada diriku lewat ujian ini?' Apakah semua ini berhasil mendekatkan hati kita kepada-Nya? Sebab, jiwa yang benar-benar merdeka bukanlah jiwa yang bebas dari masalah, melainkan jiwa yang tetap mampu 'bersuara indah' dan berprasangka baik kepada Tuhannya, bagaimanapun keadaannya," tandasnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang