Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sejarah Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Tuan Rumah Muktamar NU ke-35

Kompas.com, 11 Juli 2026, 10:13 WIB
Puspasari Setyaningrum

Editor

KOMPAS.com - Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas di Jombang, Jawa Timur, resmi ditetapkan sebagai tuan rumah Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 yang akan berlangsung pada 27-31 Agustus 2026.

Penunjukan tersebut tidak hanya didasarkan pada kesiapan infrastruktur, tetapi juga karena nilai sejarah yang melekat pada pesantren ini.

Ponpes Bahrul Ulum dikenal sebagai salah satu pesantren tertua di Indonesia sekaligus memiliki hubungan erat dengan perjalanan Nahdlatul Ulama.

Baca juga: Kesiapan Pondok Pesantren Bahrul Ulum untuk Muktamar ke-35 NU

Dari lingkungan pesantren inilah lahir KH Abdul Wahab Hasbullah, salah seorang pendiri NU yang berperan besar dalam perkembangan organisasi.

Berdiri Sejak 1838, Berawal dari Hutan Belantara

Mnelisik sejarahnya, Pondok Pesantren Bahrul Ulum atau yang lebih dikenal sebagai Pondok Pesantren Tambakberas merupakan salah satu pesantren tertua di Jawa Timur.

Baca juga: Muktamar NU ke-35 Dongkrak Ekonomi Warga Tambakberas, Rumah Pribadi Ramai Disewa

Berdiri pada 1838 M, pesantren ini memiliki sejarah panjang dalam dakwah dan pengembangan pendidikan Islam di Indonesia.

Pesantren yang berada di Desa Tambakrejo, Kecamatan Jombang, didirikan oleh Kiai Abdus Salam atau Mbah Shoichah.

Dirangkum dari berbagai sumber, Mbah Shoichah merupakan ulama sekaligus pendekar yang datang ke wilayah tersebut untuk menyebarkan ajaran Islam.

Sekitar tahun 1825, kawasan Tambakberas masih berupa hutan yang belum banyak dihuni. Selama kurang lebih 13 tahun, Mbah Shoichah membuka lahan hingga berkembang menjadi permukiman masyarakat.

Setelah kawasan tersebut mulai ramai, ia mendirikan pesantren sederhana yang terdiri atas langgar, tempat tinggal, dan bilik-bilik kecil untuk para santri. Dari tempat inilah cikal bakal Pondok Pesantren Bahrul Ulum bermula.

Pada masa awal, jumlah santri sekitar 25 orang sehingga pesantren dikenal sebagai Pondok Selawe, yang berarti dua puluh lima. Masyarakat juga menyebutnya Pondok Telu karena bangunan awalnya hanya terdiri atas tiga bagian.

Berkembang Menjadi Dua Cabang Pesantren

Seiring bertambahnya usia Mbah Shoichah, kepemimpinan pesantren diteruskan oleh dua menantunya, Kiai Utsman dan Kiai Sa'id, yang sebelumnya merupakan santri di pesantren tersebut.

Bertambahnya jumlah santri mendorong pengembangan pesantren menjadi dua cabang. Kiai Utsman mengembangkan pesantren di Dusun Gedang, di sebelah timur sungai, sedangkan Kiai Sa'id mengelola pesantren di kawasan barat sungai.

Kedua cabang tersebut memiliki fokus pendidikan yang berbeda. Kiai Utsman menitikberatkan pengajaran ilmu tasawuf dan thariqah, sementara Kiai Sa'id lebih fokus pada ilmu syariat.

Pembagian tersebut menjadi awal berkembangnya sistem pendidikan di kawasan Tambakberas sekaligus memperluas pengaruh pesantren di tengah masyarakat.

Nama Bahrul Ulum Berarti Lautan Ilmu

Dalam perjalanannya, pesantren mengalami beberapa kali perubahan nama. Pada masa K.H. Hasbullah, pesantren lebih dikenal sebagai Pondok Tambakberas.

Kemudian pada 1965, di masa kepemimpinan K.H. Abdul Wahab Hasbullah, dilakukan penetapan nama resmi pesantren. Empat santri diminta mengusulkan nama, yang kemudian menghasilkan tiga pilihan, yaitu Bahrul Ulum, Darul Hikmah, dan Mamba'ul Ulum.

Berdasarkan pertimbangan spiritual, dipilih nama Bahrul Ulum yang berarti "lautan ilmu".

Mengutip tambakberas.com, nama tersebut dipilih dengan harapan pesantren menjadi pusat ilmu pengetahuan yang luas dan membawa manfaat bagi masyarakat.

Lambang Pesantren Sarat Makna Filosofis

Setelah penetapan nama, pesantren juga menetapkan lambang resmi melalui sayembara.

Lambang tersebut memuat berbagai simbol yang memiliki makna filosofis. Bola dunia berwarna biru melambangkan wawasan global, sedangkan empat kitab menggambarkan empat mazhab dalam Islam.

Selain itu terdapat enam kelopak bunga yang melambangkan rukun iman. Ayat Al-Qur'an yang tercantum dalam lambang menunjukkan komitmen pesantren menjaga nilai-nilai keislaman, sementara pita hijau menjadi simbol persatuan serta hubungan antarelemen bangsa.

Identitas tersebut mencerminkan arah perjuangan Pondok Pesantren Bahrul Ulum dalam mengembangkan ilmu pengetahuan sekaligus menjaga tradisi keislaman.

Bahrul Ulum Terus Berkembang sebagai Lembaga Pendidikan Islam

Hingga kini, Pondok Pesantren Bahrul Ulum terus berkembang sebagai lembaga pendidikan Islam yang adaptif terhadap perkembangan zaman.

Pesantren tetap mempertahankan nilai-nilai kepesantrenan dengan berlandaskan prinsip Aqidah Ahlussunnah wal Jama'ah ala Nahdlatul Ulama.

Selain pendidikan berbasis pesantren, Bahrul Ulum juga mengembangkan berbagai lembaga pendidikan formal, mulai dari jenjang prasekolah hingga perguruan tinggi.

Pesantren juga menjalin kerja sama dengan sejumlah institusi pendidikan di dalam maupun luar negeri, termasuk di Makkah, Syiria, dan Al-Azhar Kairo.

Secara kelembagaan, Pondok Pesantren Bahrul Ulum berada di bawah naungan Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum yang berdiri pada 6 September 1966.

Menyimpan Jejak Sejarah dalam Perjuangan Bangsa

Sejarah Pondok Pesantren Bahrul Ulum tidak hanya berkaitan dengan pendidikan Islam, tetapi juga memiliki hubungan dengan perjalanan bangsa.

Mengutip laman bahrululum.id, pendiri pesantren disebut memiliki keterkaitan dengan perjuangan Pangeran Diponegoro.

Pesantren ini juga memiliki hubungan erat dengan Nahdlatul Ulama melalui KH Abdul Wahab Hasbullah yang menjadi salah satu tokoh penting pendiri organisasi tersebut.

Seiring perkembangannya, Bahrul Ulum telah melahirkan banyak tokoh nasional. Salah satu alumninya adalah Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Presiden ke-4 Republik Indonesia.

Dengan sejarah hampir dua abad, Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas tidak hanya menjadi pusat pendidikan Islam, tetapi juga menjadi simbol perjalanan dakwah, perjuangan, dan perkembangan Nahdlatul Ulama di Indonesia.

Artikel ini telah tayang di TribunJatim.com dengan judul "Menelusuri Jejak Sejarah Pondok Bahrul Ulum Tambakberas, Pesantren Tertua di Jombang". 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Muhammadiyah Soroti Tantangan Hafalan Surah Ad-Dhuha Berhadiah Miras di Festival Musik
Muhammadiyah Soroti Tantangan Hafalan Surah Ad-Dhuha Berhadiah Miras di Festival Musik
Aktual
Contoh Teks Doa Upacara 17 Agustus 2026 pada Peringatan HUT Ke-81 RI
Contoh Teks Doa Upacara 17 Agustus 2026 pada Peringatan HUT Ke-81 RI
Doa dan Niat
Rahasia Surah Ad-Dhuha, Kisah Turunnya Surat Penghiburan Bagi Rasulullah SAW
Rahasia Surah Ad-Dhuha, Kisah Turunnya Surat Penghiburan Bagi Rasulullah SAW
Aktual
Surat Ad-Dhuha: Arab, Latin, Arti, Makna, dan Keutamaannya
Surat Ad-Dhuha: Arab, Latin, Arti, Makna, dan Keutamaannya
Aktual
5 Amalan dan Doa Rebo Wekasan Lengkap, Tradisi Rabu Terakhir di Bulan Safar
5 Amalan dan Doa Rebo Wekasan Lengkap, Tradisi Rabu Terakhir di Bulan Safar
Aktual
Gerhana Matahari Terbesar di Inggris 12 Agustus 2026, Muhammadiyah Britania Raya Ajak Salat Kusuf
Gerhana Matahari Terbesar di Inggris 12 Agustus 2026, Muhammadiyah Britania Raya Ajak Salat Kusuf
Aktual
Belajar Kerukunan di Indonesia, Mahasiswa Jepang Tanya Zakat untuk Non-Muslim
Belajar Kerukunan di Indonesia, Mahasiswa Jepang Tanya Zakat untuk Non-Muslim
Aktual
Muktamar NU 2026: Gus Rozin Sampaikan Gagasan Besar untuk NU
Muktamar NU 2026: Gus Rozin Sampaikan Gagasan Besar untuk NU
Aktual
5 Tips Padu Padan 'Modest Wear' untuk Perempuan Berhijab, Tetap Stylish Tanpa Banyak Baju
5 Tips Padu Padan "Modest Wear" untuk Perempuan Berhijab, Tetap Stylish Tanpa Banyak Baju
Aktual
Bolehkah Imam Shalat Sambil Duduk? Ini Hukum dan Posisi Makmumnya
Bolehkah Imam Shalat Sambil Duduk? Ini Hukum dan Posisi Makmumnya
Aktual
4 Doa Rebo Wekasan 2026, Lengkap Arab, Latin, dan Terjemahnya
4 Doa Rebo Wekasan 2026, Lengkap Arab, Latin, dan Terjemahnya
Doa dan Niat
Tradisi Rebo Wekasan Dimulai Malam Ini, Simak Sederet Amalan yang Bisa Dilakukan
Tradisi Rebo Wekasan Dimulai Malam Ini, Simak Sederet Amalan yang Bisa Dilakukan
Aktual
Apa Itu Rebo Wekasan? Mengenal Tradisi Rabu di Terakhir Bulan Safar
Apa Itu Rebo Wekasan? Mengenal Tradisi Rabu di Terakhir Bulan Safar
Aktual
Guru Besar UIN Bandung: Merdeka Juga Harus dari Kebencian, Fanatisme, dan Hoaks
Guru Besar UIN Bandung: Merdeka Juga Harus dari Kebencian, Fanatisme, dan Hoaks
Aktual
Niat Sholat Ba'diyah Isya: Arab, Latin, Rakaat, dan Tata Caranya
Niat Sholat Ba'diyah Isya: Arab, Latin, Rakaat, dan Tata Caranya
Doa Harian
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar