Editor
KOMPAS.com - Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas di Jombang, Jawa Timur, resmi ditetapkan sebagai tuan rumah Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 yang akan berlangsung pada 27-31 Agustus 2026.
Penunjukan tersebut tidak hanya didasarkan pada kesiapan infrastruktur, tetapi juga karena nilai sejarah yang melekat pada pesantren ini.
Ponpes Bahrul Ulum dikenal sebagai salah satu pesantren tertua di Indonesia sekaligus memiliki hubungan erat dengan perjalanan Nahdlatul Ulama.
Baca juga: Kesiapan Pondok Pesantren Bahrul Ulum untuk Muktamar ke-35 NU
Dari lingkungan pesantren inilah lahir KH Abdul Wahab Hasbullah, salah seorang pendiri NU yang berperan besar dalam perkembangan organisasi.
Mnelisik sejarahnya, Pondok Pesantren Bahrul Ulum atau yang lebih dikenal sebagai Pondok Pesantren Tambakberas merupakan salah satu pesantren tertua di Jawa Timur.
Baca juga: Muktamar NU ke-35 Dongkrak Ekonomi Warga Tambakberas, Rumah Pribadi Ramai Disewa
Berdiri pada 1838 M, pesantren ini memiliki sejarah panjang dalam dakwah dan pengembangan pendidikan Islam di Indonesia.
Pesantren yang berada di Desa Tambakrejo, Kecamatan Jombang, didirikan oleh Kiai Abdus Salam atau Mbah Shoichah.
Dirangkum dari berbagai sumber, Mbah Shoichah merupakan ulama sekaligus pendekar yang datang ke wilayah tersebut untuk menyebarkan ajaran Islam.
Sekitar tahun 1825, kawasan Tambakberas masih berupa hutan yang belum banyak dihuni. Selama kurang lebih 13 tahun, Mbah Shoichah membuka lahan hingga berkembang menjadi permukiman masyarakat.
Setelah kawasan tersebut mulai ramai, ia mendirikan pesantren sederhana yang terdiri atas langgar, tempat tinggal, dan bilik-bilik kecil untuk para santri. Dari tempat inilah cikal bakal Pondok Pesantren Bahrul Ulum bermula.
Pada masa awal, jumlah santri sekitar 25 orang sehingga pesantren dikenal sebagai Pondok Selawe, yang berarti dua puluh lima. Masyarakat juga menyebutnya Pondok Telu karena bangunan awalnya hanya terdiri atas tiga bagian.
Seiring bertambahnya usia Mbah Shoichah, kepemimpinan pesantren diteruskan oleh dua menantunya, Kiai Utsman dan Kiai Sa'id, yang sebelumnya merupakan santri di pesantren tersebut.
Bertambahnya jumlah santri mendorong pengembangan pesantren menjadi dua cabang. Kiai Utsman mengembangkan pesantren di Dusun Gedang, di sebelah timur sungai, sedangkan Kiai Sa'id mengelola pesantren di kawasan barat sungai.
Kedua cabang tersebut memiliki fokus pendidikan yang berbeda. Kiai Utsman menitikberatkan pengajaran ilmu tasawuf dan thariqah, sementara Kiai Sa'id lebih fokus pada ilmu syariat.
Pembagian tersebut menjadi awal berkembangnya sistem pendidikan di kawasan Tambakberas sekaligus memperluas pengaruh pesantren di tengah masyarakat.
Dalam perjalanannya, pesantren mengalami beberapa kali perubahan nama. Pada masa K.H. Hasbullah, pesantren lebih dikenal sebagai Pondok Tambakberas.
Kemudian pada 1965, di masa kepemimpinan K.H. Abdul Wahab Hasbullah, dilakukan penetapan nama resmi pesantren. Empat santri diminta mengusulkan nama, yang kemudian menghasilkan tiga pilihan, yaitu Bahrul Ulum, Darul Hikmah, dan Mamba'ul Ulum.
Berdasarkan pertimbangan spiritual, dipilih nama Bahrul Ulum yang berarti "lautan ilmu".
Mengutip tambakberas.com, nama tersebut dipilih dengan harapan pesantren menjadi pusat ilmu pengetahuan yang luas dan membawa manfaat bagi masyarakat.
Setelah penetapan nama, pesantren juga menetapkan lambang resmi melalui sayembara.
Lambang tersebut memuat berbagai simbol yang memiliki makna filosofis. Bola dunia berwarna biru melambangkan wawasan global, sedangkan empat kitab menggambarkan empat mazhab dalam Islam.
Selain itu terdapat enam kelopak bunga yang melambangkan rukun iman. Ayat Al-Qur'an yang tercantum dalam lambang menunjukkan komitmen pesantren menjaga nilai-nilai keislaman, sementara pita hijau menjadi simbol persatuan serta hubungan antarelemen bangsa.
Identitas tersebut mencerminkan arah perjuangan Pondok Pesantren Bahrul Ulum dalam mengembangkan ilmu pengetahuan sekaligus menjaga tradisi keislaman.
Hingga kini, Pondok Pesantren Bahrul Ulum terus berkembang sebagai lembaga pendidikan Islam yang adaptif terhadap perkembangan zaman.
Pesantren tetap mempertahankan nilai-nilai kepesantrenan dengan berlandaskan prinsip Aqidah Ahlussunnah wal Jama'ah ala Nahdlatul Ulama.
Selain pendidikan berbasis pesantren, Bahrul Ulum juga mengembangkan berbagai lembaga pendidikan formal, mulai dari jenjang prasekolah hingga perguruan tinggi.
Pesantren juga menjalin kerja sama dengan sejumlah institusi pendidikan di dalam maupun luar negeri, termasuk di Makkah, Syiria, dan Al-Azhar Kairo.
Secara kelembagaan, Pondok Pesantren Bahrul Ulum berada di bawah naungan Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum yang berdiri pada 6 September 1966.
Sejarah Pondok Pesantren Bahrul Ulum tidak hanya berkaitan dengan pendidikan Islam, tetapi juga memiliki hubungan dengan perjalanan bangsa.
Mengutip laman bahrululum.id, pendiri pesantren disebut memiliki keterkaitan dengan perjuangan Pangeran Diponegoro.
Pesantren ini juga memiliki hubungan erat dengan Nahdlatul Ulama melalui KH Abdul Wahab Hasbullah yang menjadi salah satu tokoh penting pendiri organisasi tersebut.
Seiring perkembangannya, Bahrul Ulum telah melahirkan banyak tokoh nasional. Salah satu alumninya adalah Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Presiden ke-4 Republik Indonesia.
Dengan sejarah hampir dua abad, Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas tidak hanya menjadi pusat pendidikan Islam, tetapi juga menjadi simbol perjalanan dakwah, perjuangan, dan perkembangan Nahdlatul Ulama di Indonesia.
Artikel ini telah tayang di TribunJatim.com dengan judul "Menelusuri Jejak Sejarah Pondok Bahrul Ulum Tambakberas, Pesantren Tertua di Jombang".
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang