Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Rashdul Qiblat 15-16 Juli 2026, Ini Waktu dan Cara Cek Arah Kiblat Secara Akurat

Kompas.com, 13 Juli 2026, 19:13 WIB
Puspasari Setyaningrum

Editor

Sumber Antara

KOMPAS.com - Fenomena Rashdul Qiblat kembali terjadi pada 15 dan 16 Juli 2026 dan dapat dimanfaatkan umat Islam untuk memverifikasi arah kiblat secara akurat.

Peristiwa astronomi ini terjadi ketika matahari berada tepat di atas Kabah sehingga bayangan benda tegak dapat dijadikan acuan menentukan arah kiblat.

Masyarakat dapat melakukan pengecekan secara mandiri di rumah maupun bersama petugas Kementerian Agama.

Baca juga: Menag Ajak Masyarakat Cek Arah Kiblat saat Rashdul Qiblat 15-16 Juli 2026

Momentum ini juga menjadi bagian dari Gerakan Nasional Indonesia Berkiblat 2026 yang digelar Kementerian Agama.

Rashdul Qiblat Terjadi 15-16 Juli 2026 di Sore Hari

Fenomena Rashdul Qiblat merupakan peristiwa astronomi saat matahari berada tepat di titik zenit Kabah.

Baca juga: Di Mana Kiblat Umat Islam yang Pertama Kali?

Peristiwa ini terjadi dua kali setiap tahun dan menjadi metode ilmiah untuk memverifikasi arah kiblat dengan tingkat akurasi yang tinggi.

Tahun ini, Rashdul Qiblat dapat diamati pada Rabu dan Kamis, 15 dan 16 Juli 2026, tepat pukul 16.27 WIB, 17.27 WITA, dan 18.27 WIT.

Pada waktu tersebut, sinar matahari berada tepat di atas Kabah sehingga bayangan benda yang berdiri tegak lurus di permukaan bumi menunjukkan arah kiblat secara presisi.

Cara Mengecek Arah Kiblat saat Rashdul Qiblat

Untuk memanfaatkan fenomena ini, masyarakat cukup menyiapkan tongkat atau benda lain yang dipasang tegak lurus di tempat terbuka.

Selanjutnya, amati arah bayangan yang terbentuk tepat pada waktu terjadinya Rashdul Qiblat.

Garis yang ditarik dari ujung bayangan menuju pangkal tongkat menunjukkan arah Kabah sehingga dapat dijadikan acuan untuk memastikan ketepatan arah kiblat.

Metode ini menjadi salah satu cara yang mudah, praktis, dan memiliki tingkat akurasi tinggi dalam memverifikasi arah kiblat.

Menag Ajak Ikut Gerakan Nasional Indonesia Berkiblat 2026

Menteri Agama Nasaruddin Umar mengajak umat Islam memanfaatkan fenomena Rashdul Qiblat untuk memastikan kembali ketepatan arah kiblat.

“Menghadap kiblat adalah bagian penting dalam kesempurnaan ibadah shalat kita. Karena itu, Kementerian Agama mengajak seluruh masyarakat untuk ikut serta dalam Gerakan Nasional Indonesia Berkiblat 2026," ujar Menag di Jakarta, Senin.

Menurut Nasaruddin Umar, menghadap kiblat merupakan bagian penting dalam kesempurnaan ibadah salat. Karena itu, memastikan arah kiblat yang benar menjadi ikhtiar yang perlu dilakukan agar pelaksanaan ibadah semakin sempurna.

“Kita akan memanfaatkan momentum saat posisi matahari berada tepat di atas Kabah sehingga dapat digunakan untuk memverifikasi arah kiblat secara mudah, praktis, dan presisi,” kata Menag.

Cara Mengikuti Gerakan Nasional Indonesia Berkiblat 2026

Melalui Gerakan Nasional Indonesia Berkiblat 2026, Kementerian Agama mengajak seluruh masyarakat, takmir masjid dan musala, Kantor Urusan Agama (KUA), madrasah, pondok pesantren, perguruan tinggi, instansi pemerintah, kantor swasta, hotel, organisasi kemasyarakatan, hingga masyarakat di lingkungan rumah untuk bersama-sama melakukan verifikasi arah kiblat.

Peserta dapat mendaftarkan lokasi pengukuran melalui portal https://indonesiaberkiblat.kemenag.dev.

Setelah membuat akun dan mengisi data lokasi, peserta dapat mengikuti pengukuran secara serentak sesuai waktu terjadinya fenomena matahari di atas Kabah di wilayah masing-masing.

Portal tersebut juga menyediakan panduan teknis pelaksanaan sehingga masyarakat dapat melakukan pengukuran arah kiblat secara mandiri maupun bersama petugas Kementerian Agama di daerah.

Melalui Gerakan Nasional Indonesia Berkiblat 2026, Kementerian Agama berharap semakin banyak masyarakat memanfaatkan fenomena Rashdul Qiblat untuk memastikan ketepatan arah kiblat.

Dengan metode yang sederhana dan berbasis perhitungan astronomi, verifikasi arah kiblat dapat dilakukan secara mudah, praktis, dan memiliki tingkat akurasi yang tinggi.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
Aktual
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar