Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Menag Nasaruddin Umar: Indonesia Berpeluang Jadi Epicentrum Peradaban Islam Modern

Kompas.com, 14 Juli 2026, 19:51 WIB
Puspasari Setyaningrum

Editor

Sumber Antara

KOMPAS.com - Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menilai Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi epicentrum baru peradaban Islam modern di masa depan.

Optimisme tersebut didasarkan pada sejumlah keunggulan yang dimiliki Indonesia, mulai dari stabilitas ekonomi, politik, hingga karakter masyarakat Muslim yang moderat.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi modal penting di tengah dinamika geopolitik yang terjadi di berbagai kawasan dunia.

Baca juga: Sekjen Kemenag: Poros Intim IV Jadi Upaya PTKIN Perkuat Literasi Kesehatan Mahasiswa

Karena itu, Indonesia perlu mempersiapkan sumber daya manusia yang mampu mengintegrasikan keilmuan Islam dengan sains modern.

Pernyataan tersebut disampaikan Nasaruddin Umar saat membuka Seminar Nasional Ikatan Alumni Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (IKA PTKIN) di Jakarta, Selasa (14/7/2026).

Baca juga: Link Pengumuman Hasil UM-PTKIN 2026 Dibuka 30 Juni, Peserta Finalisasi Tembus 111.353 Orang

Menag Sebut Indonesia Punya Modal Jadi Pusat Peradaban Islam Modern

Menag mengatakan banyak pihak menaruh harapan agar Indonesia menjadi pusat lahirnya peradaban Islam modern di masa mendatang.

Menurutnya, pusat perkembangan peradaban Islam tidak lagi harus berada di kawasan Timur Tengah, melainkan dapat berkembang di Indonesia.

“Maka itu banyak sekali ekspektasi ke depan ini membayangkan Indonesia itu akan menjadi kekuatan baru munculnya peradaban baru, bukan lagi di Timur Tengah tetapi ini tuh akan pindah ke Indonesia yang akan datang," ujar Menag.

Menurutnya, salah satu faktor utama yang mendukung optimisme tersebut adalah ketahanan makroekonomi Indonesia yang dinilai tetap kuat.

Di tengah ketidakpastian yang masih terjadi di kawasan Timur Tengah akibat konflik berkepanjangan, Indonesia mampu mempertahankan pertumbuhan ekonomi di kisaran 5 persen dengan tingkat inflasi yang relatif rendah dan terkendali.

"Pemikiran yang tenang itu hanya akan bisa lahir di dalam negara yang tenang, yang stabilitas ekonominya kuat,” kata Menag.

Selain ekonomi, ia menyebut karakter umat Islam Indonesia yang moderat, jaminan hak asasi manusia, stabilitas politik nasional, serta bonus demografi menjadi faktor penting yang mendukung lahirnya peradaban baru.

Alumni PTKIN Diminta Kuasai Ilmu Agama dan Sains

Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, Nasaruddin menilai alumni Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) harus meningkatkan kualitas dan kapasitas keilmuan.

Ia mendorong adanya reorientasi kompetensi agar lulusan PTKIN tidak hanya menguasai ilmu-ilmu keislaman, tetapi juga memahami perkembangan sains, teknologi, dan dinamika geopolitik.

"Kita sebagai alumni UIN harus punya kesadaran geopolitik yang tinggi juga. Kita jangan hanya mahir membaca kitab kuning, tetapi kitab putih juga. Tidak kompatibel sebagai alumni UIN kalau kita tidak perlu menguasai situasi regional dan nasional kita," kata Menag.

Menag Dorong Lahirnya Inovator dan Peneliti Baru

Menag juga mengarahkan lembaga pendidikan keagamaan di bawah Kementerian Agama untuk melahirkan lebih banyak inovator, ilmuwan, dan peneliti.

Menurutnya, kedaulatan ilmu pengetahuan dapat dibangun melalui perpaduan antara semangat menuntut ilmu sebagaimana terkandung dalam perintah iqra' dengan nilai-nilai ketuhanan yang terkandung dalam bismi rabbik, sebagaimana dicontohkan pada masa kejayaan Islam (The Golden Age of Islam).

"Kalau Indonesia ingin menjadi epicentrum peradaban dunia modern, maka tidak ada cara lain kita harus melahirkan seribu BJ Habibie di Indonesia," katanya.

Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT



Terkini Lainnya
Hidup Tak Selalu Sesuai Rencana, Bagaimana Islam Mengajarkan Kita Menghadapinya?
Hidup Tak Selalu Sesuai Rencana, Bagaimana Islam Mengajarkan Kita Menghadapinya?
Aktual
5 Tips agar Lansia Tetap Sehat dan Bahagia Menurut Islam
5 Tips agar Lansia Tetap Sehat dan Bahagia Menurut Islam
Aktual
Menag Nasaruddin Umar Tegaskan Tak Maju Ketum PBNU: Saya Pilih Fokus Pimpin Kemenag
Menag Nasaruddin Umar Tegaskan Tak Maju Ketum PBNU: Saya Pilih Fokus Pimpin Kemenag
Aktual
Puncak 100 Tahun Gontor, Prabowo Dijadwalkan Hadir
Puncak 100 Tahun Gontor, Prabowo Dijadwalkan Hadir
Aktual
Gus Rozin Angkat Semangat Gus Dur: NU Harus Jadi Sahabat Kritis Pemerintah
Gus Rozin Angkat Semangat Gus Dur: NU Harus Jadi Sahabat Kritis Pemerintah
Aktual
Dzikir Pagi Lengkap: Arab, Latin, Arti, Urutan, dan Waktu Membacanya
Dzikir Pagi Lengkap: Arab, Latin, Arti, Urutan, dan Waktu Membacanya
Doa dan Niat
Khutbah Jumat 28 Agustus 2026: Ta’aruf Menjaga Kesucian Menuju Pernikahan
Khutbah Jumat 28 Agustus 2026: Ta’aruf Menjaga Kesucian Menuju Pernikahan
Aktual
Khutbah Jumat Maulid Nabi, Belajar Menjadi Suami dan Orangtua dari Rasulullah
Khutbah Jumat Maulid Nabi, Belajar Menjadi Suami dan Orangtua dari Rasulullah
Aktual
Khutbah Jumat: Bahaya Rokok bagi Diri, Keluarga, dan Masa Depan
Khutbah Jumat: Bahaya Rokok bagi Diri, Keluarga, dan Masa Depan
Aktual
Dapur Muktamar NU Terus Mengepul, Ratusan Karung Beras hingga Bantuan Sapi Disiapkan
Dapur Muktamar NU Terus Mengepul, Ratusan Karung Beras hingga Bantuan Sapi Disiapkan
Aktual
Wamenag: Pemerintah Tak Intervensi Muktamar NU, Kemenag Harus Netral
Wamenag: Pemerintah Tak Intervensi Muktamar NU, Kemenag Harus Netral
Aktual
Tak Hanya Pilih Ketua, Muktamar NU Bahas Bitcoin, Neuralink, hingga DNA
Tak Hanya Pilih Ketua, Muktamar NU Bahas Bitcoin, Neuralink, hingga DNA
Aktual
Niat Mandi Wajib Pria dan Wanita: Arab, Latin, Arti, dan Tata Caranya
Niat Mandi Wajib Pria dan Wanita: Arab, Latin, Arti, dan Tata Caranya
Doa dan Niat
Doa Kedua Orang Tua: Arab, Latin, Arti, dan Keutamaannya
Doa Kedua Orang Tua: Arab, Latin, Arti, dan Keutamaannya
Doa dan Niat
Apakah Makan Membatalkan Wudhu? Ini Hukum dan Penjelasannya
Apakah Makan Membatalkan Wudhu? Ini Hukum dan Penjelasannya
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar