Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Hubbul Wathan Minal Iman, Benarkah Hadis? Ini Makna dan Penjelasan Ulama

Kompas.com, 1 Agustus 2026, 08:46 WIB
Farid Assifa

Penulis

KOMPAS.com – Ungkapan "Hubbul wathan minal iman" (حب الوطن من الإيمان) sudah sangat akrab di telinga masyarakat Indonesia. Kalimat ini kerap disampaikan dalam ceramah, pidato kebangsaan, hingga peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

Secara bahasa, hubbul wathan minal iman berarti "mencintai tanah air adalah bagian dari iman."

Ungkapan tersebut menjadi salah satu semboyan yang sering digunakan untuk menegaskan bahwa seorang Muslim dapat mencintai negaranya tanpa mengurangi ketaatan kepada Allah SWT.

Namun, muncul pertanyaan yang cukup sering diajukan: benarkah kalimat tersebut merupakan hadis Nabi Muhammad SAW?

Baca juga: Sambut Kemerdekaan RI, Kemenag Gelar Zikir dan Doa Kebangsaan di Monas

Apakah Hubbul Wathan Minal Iman Hadis?

Para Ulama Menilai Tidak Berstatus Hadis Sahih

Para ulama ahli hadis menjelaskan bahwa ungkapan "hubbul wathan minal iman" tidak ditemukan memiliki sanad yang sahih dari Rasulullah SAW.

Beberapa ulama, seperti Imam As-Sakhawi dalam Al-Maqashid Al-Hasanah dan Mulla Ali Al-Qari dalam Al-Asrar Al-Marfu'ah, menyebutkan bahwa kalimat tersebut masyhur di tengah masyarakat, tetapi tidak memiliki dasar sebagai hadis Nabi yang dapat dipertanggungjawabkan sanadnya.

Karena itu, kalimat tersebut tidak tepat dinisbatkan sebagai sabda Rasulullah SAW.

Meski demikian, para ulama juga menjelaskan bahwa makna ungkapan tersebut dapat dibenarkan selama dipahami sesuai prinsip-prinsip syariat Islam, yaitu mencintai negeri sebagai tempat menegakkan agama, menjaga keamanan, dan mewujudkan kemaslahatan bersama.

Islam Mengajarkan Mencintai Tempat Tinggal

Kerinduan Rasulullah SAW kepada Makkah

Walaupun ungkapan tersebut bukan hadis sahih, terdapat sejumlah dalil yang menunjukkan kecintaan Rasulullah SAW terhadap tanah kelahirannya.

Saat harus berhijrah ke Madinah, Rasulullah SAW memandang Kota Makkah seraya bersabda:

"Demi Allah, engkau adalah negeri Allah yang paling baik dan negeri yang paling aku cintai. Seandainya kaummu tidak mengusirku, niscaya aku tidak akan meninggalkanmu."

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dan dinilai hasan sahih oleh sejumlah ulama.

Riwayat tersebut menunjukkan bahwa mencintai tempat kelahiran merupakan fitrah manusia dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

Doa Rasulullah untuk Madinah

Setelah hijrah, Rasulullah SAW juga memanjatkan doa agar Allah menumbuhkan rasa cinta kepada Kota Madinah.

Beliau berdoa:

"Ya Allah, jadikanlah kami mencintai Madinah sebagaimana kami mencintai Makkah, atau bahkan lebih dari itu."

Hadis ini diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim.

Doa tersebut menjadi bukti bahwa Islam mengajarkan kecintaan terhadap negeri tempat seseorang hidup dan beribadah.

Makna Hubbul Wathan dalam Kehidupan Muslim

Cinta Tanah Air Bukan Sekadar Slogan

Dalam perspektif Islam, mencintai tanah air bukan hanya diwujudkan melalui ucapan.

Rasa cinta kepada bangsa dan negara tercermin dalam berbagai bentuk amal saleh, seperti:

  • menaati aturan yang tidak bertentangan dengan syariat;
  • menjaga persatuan dan kerukunan;
  • melindungi lingkungan;
  • menghormati keberagaman;
  • ikut membangun masyarakat yang adil dan sejahtera.

Nilai-nilai tersebut sejalan dengan tujuan syariat (maqashid syariah) yang berorientasi pada terjaganya agama, jiwa, akal, harta, dan keturunan.

Hubbul Wathan dalam Konteks Indonesia

Semangat Kebangsaan dan Keislaman Berjalan Beriringan

Di Indonesia, ungkapan hubbul wathan minal iman telah lama menjadi bagian dari narasi keislaman dan kebangsaan.

Organisasi-organisasi Islam seperti Nahdlatul Ulama (NU) sering menggunakan ungkapan tersebut sebagai pengingat bahwa menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan bagian dari ikhtiar mewujudkan kemaslahatan bersama.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga menegaskan bahwa mencintai tanah air, menjaga persatuan, dan mempertahankan keutuhan bangsa merupakan kewajiban warga negara yang sejalan dengan nilai-nilai Islam.

Karena itu, meskipun ungkapan hubbul wathan minal iman bukan hadis Nabi, substansi yang dikandungnya tetap memiliki landasan dalam ajaran Islam selama dipahami secara proporsional dan tidak disandarkan sebagai sabda Rasulullah SAW.

Pelajaran yang Dapat Dipetik

Ungkapan hubbul wathan minal iman mengajarkan dua hal penting.

Pertama, umat Islam harus berhati-hati ketika mengutip hadis agar tidak menisbatkan perkataan kepada Rasulullah SAW tanpa dasar yang kuat.

Baca juga: Doa Para Pahlawan untuk Mengenang Jasa Pejuang Kemerdekaan Indonesia

Kedua, kecintaan kepada tanah air dapat diwujudkan melalui tindakan nyata, seperti menjaga persatuan, menghormati hukum, menolong sesama, dan berkontribusi bagi kemajuan bangsa.

Dengan demikian, cinta tanah air bukan sekadar semboyan, melainkan bagian dari akhlak seorang Muslim yang ingin menghadirkan manfaat bagi masyarakat dan negaranya.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
Aktual
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar